<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484</id><updated>2011-11-15T12:52:22.085-08:00</updated><category term='Teori Komunikasi'/><category term='Teori Semiotika'/><category term='Jurnalistik Radio'/><category term='Komunikasi massa'/><category term='Budaya Konsumen'/><category term='Pesan verbal dan non verbal'/><category term='KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN'/><category term='Komunikasi Global'/><category term='Definisi komunikasi'/><category term='Komunikasi intrapersonal'/><category term='Konsep dasar penelitian'/><category term='Teknologi Komunikasi'/><category term='Dasar-Dasar Jurnalistik'/><category term='cinematography'/><category term='Kode Etik Wartawan'/><category term='Komunikasi data'/><category term='Komunikasi lintas budaya'/><title type='text'>Semua Tentang teori komunikasi</title><subtitle type='html'>Teori komunikasi dan definisi dari orang-orang komunikasi. Ini aku buat berdasrkan ilmu yang aku dapat dari jurusan komunikasi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>90</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2676748600799632238</id><published>2011-08-01T07:47:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T07:49:53.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Konsumen'/><title type='text'>Inferioritas Budaya Konsumen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inferioritas Budaya Konsumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping monster hukum yang terus berjaga di halaman depan produsen, kenyataannya konsumen kita juga memiliki ‘budaya’ pasrah berkaitan dengan keluhan-keluhan dan ketidakpuasan mereka terhadap suatu produk atau layanan. Betapa sering kita melihat (atau bahkan merasakan sendiri) konsumen yang mengambil jalan ‘damai’ dengan merelakan saja hak-haknya tak terpenuhi daripada harus berurusan dengan birokrasi panjang, atau akan menemui kenyataan bahwa keluhan mereka tak tertangani dengan baik bahkan cenderung diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran bahwa hanya membuang-buang waktu dan energi saja mengurusnya, sementara masih banyak hal lain yang perlu dikerjakan, membuat mereka terpaksa menelan sendiri kekecewaan dan keluhan mereka. Tidak jarang pula konsumen yang berkompromi dengan layanan atau produk yang kurang memuaskan. Ditambah kurangnya informasi mengenai hak-hak hukum dan prosedur pengaduan, konsumen pun akhirnya cenderung melupakan ketidakpuasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sisi lain, pengaduan konsumen juga kerap dikendalai oleh ‘&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20lintas%20budaya"&gt;lingkungan budaya&lt;/a&gt;’ masyarakat kita yang kurang mendukung. Seorang konsumen yang gigih menuntut haknya –apalagi jika nilainya tak seberapa, sering dianggap aneh dan ngeyel, atau ‘hanya mencari masalah saja’. Sehingga tak ayal, banyak konsumen menjadi enggan untuk meneruskan perjuangan menuntut haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kondisi tersebut akhirnya menciptakan inferioritas budaya konsumen yang memprihatinkan dan memberikan preseden buruk bagi perkembangan demokrasi pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kenyataan seperti ini, maka dapat dipastikan bahwa Indonesia adalah surga buat produsen nakal. Apa yang dialami Prita membuat para produsen dapat bersikap pongah dan merasa di atas angin. Alih-alih meminta maaf kepada konsumen jika memberikan pelayanan yang kurang memuaskan, malah menuntut konsumen untuk meminta maaf jika tak ingin dijebloskan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produsen maupun penyedia layanan di Indonesia akan menjadi juragan lalim yang dapat berbuat semena-mena terhadap konsumen. Pemeo ‘konsumen adalah raja’ hanyalah mitos. Kenyataannya, di Indonesia, produsenlah yang menjadi raja. Dan pemerintah maupun para wakil rakyat yang telah menciptakan undang-undang ‘jebakan batman’ buat konsumen adalah serupa centeng yang siap membela dan mengawal sang raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sesungguhnya, meskipun berbagai ‘fasilitas kelas satu’ yang menjamin kelalimannya disediakan pemerintah, para produsen dan penyedia layanan itu tak dapat menyangkali dahsyatnya ‘people power’ konsumen yang sewaktu-waktu siap menyantapnya. Laiknya para gerilyawan pemberontak, akan selalu ada saluran lain untuk menghindari ‘jebakan batman’ penguasa dan diam-diam menyusun kekuatan untuk merebut kembali hak-haknya. Dukungan masyarakat lewat Facebook dan gerakan pengumpulan koin untuk Prita adalah bukti bahwa ‘people (consumer) power’ tak bisa dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediaman konsumen, kepasrahan konsumen, ketidakadilan yang dirasakan konsumen akan menjadi bom waktu yang menghancurkan reputasi produsen itu sendiri. Sehingga produsen tinggal memilih, tetap menjadi raja yang lalim, atau raja yang pengasih dan dikasihi rakyatnya karena selalu melayani dengan sepenuh hati, menjadi sahabat yang sabar mendengar keluhan-keluhan mereka, dan siap sedia membantu menyelesaikan masalah dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;sumber : komunikasiana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2676748600799632238?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2676748600799632238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2676748600799632238' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2676748600799632238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2676748600799632238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2011/08/inferioritas-budaya-konsumen.html' title='Inferioritas Budaya Konsumen'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5303413281147510016</id><published>2011-03-24T11:25:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T11:55:52.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Defining of Ambient Advertising</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-h_tMSlHsEGA/TYuThpWyOQI/AAAAAAAABZg/TDIkMyNVhPg/s1600/33-Cool-and-Creative-Ambient-Ads-Silk-Soft-toilet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 331px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-h_tMSlHsEGA/TYuThpWyOQI/AAAAAAAABZg/TDIkMyNVhPg/s400/33-Cool-and-Creative-Ambient-Ads-Silk-Soft-toilet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587721968929618178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Personal Branding is the key to develop and produce millions of people who are professional. Personal brand is used as a tool to shape the views of others to yourself. If personal branding used correctly, with creativity, planning, and consistency, it is certain you will have a personal brand that can help you do three things:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Building name and give your personality to others, which of these two things will give an idea that is needed from you.&lt;br /&gt;(2) To provide interest and a clearer explanation and could benefit clients.&lt;br /&gt;(3) Helps you maintain your client, even when business is running slow for others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You will not be able to compete in the competition that exists and hope the client knocked on the door and pay you. Need a more prominent advantages in competition. So use your personal brand is not as unique as what your picture, but who are you? Focus on "who you are?", And let your clients to assess and see who you are. That's how personal brand provides advantages for you in the eyes of clients.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are so many professional fields such as contractors, doctors, accountants, personal trainer, motivator, architect, consultants, and others, from every field will have many professionals and all of that will be your rival in the race for the trust and assessment of your client. If you master an area of expertise, then you need a personal brand to make it stronger in comparison with the other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are your business. Clients do not see you because of your business and how well your office, but because something more interesting they are and make them believe in your abilities and skills, then they will choose to work with you. The problem is, because of personal branding is who you are, and you are your own business, it all depends on how you manage and spend lots of time to build it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some important aspects to personal brand are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal brand is you&lt;br /&gt;It is very important in developing personal branding is a "Personal Brand is you", so that the most important thing is to give an idea on the client or others about two things:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Who you are&lt;br /&gt;  2. What is your ability&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your personal branding is a picture of yourself and your client's mind. This illustrates the values, personality, expertise, and quality of your self in comparison with competitors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal brand promise is&lt;br /&gt;Personal branding is going to cause a form of hope in the minds of others about what they will get when they working with you. If you already have a target market in personal branding, then definitely there will be a promise that you give based on what your brand on the target market. Promise this is what you must meet the target market so that they always wanted to work with you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal brand is a relationship&lt;br /&gt;Personal brand is a relationship that can influence on your clients or prospects. Ability and your mastery of an attribute will affect the level of influence that you can give to them. For example, if there is a good friend you say you should stop smoking as this can damage health, you certainly will not hear it. In contrast, if a medical specialist who said it directly to you, then you will think this is a serious problem. Why does this happen? Of course due to the presence of power and expertise in the field of health care for a medical specialist compared to your friends.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibliography&lt;br /&gt;Montoya, Peter. 2009. The Branding Called You. Mc Graw Hill&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5303413281147510016?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5303413281147510016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5303413281147510016' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5303413281147510016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5303413281147510016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2011/03/defining-of-ambient-advertising.html' title='Defining of Ambient Advertising'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-h_tMSlHsEGA/TYuThpWyOQI/AAAAAAAABZg/TDIkMyNVhPg/s72-c/33-Cool-and-Creative-Ambient-Ads-Silk-Soft-toilet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2153677986479369988</id><published>2011-03-20T08:25:00.000-07:00</published><updated>2011-03-20T08:32:36.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasar-Dasar Jurnalistik'/><title type='text'>TIM LIPUTAN BERITA</title><content type='html'>TIM LIPUTAN BERITA&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Keberhasilan redaksi pemberitaan berita sebuah stasiun televisi banyak bergantung kepada tim liputan beritanya. Sebab stasiun televisi tidak hanya menunggu berita yang datang tetapi harus mengejar berita, dan karenanya dibutuhkan seorang reporter. Tetapi selain berita stasiun televisi membutuhkan gambar, dan untuk itu diperlukan seorang juru kamera (camera person). Sebab keunggulan televisi dibandingkan media massa lainnya adalah bahwa khalayak bisa melihat peristiwa yang terjadi, karena berita yang dibacakan didampingi adanya gambar. Bagi televisi gambar adalah segalanya, dan tidak ada yang lebih buruk bagi seorang reporter televisi jika ia datang ke kantor tanpa membawa gambar yang bisa menunjang berita yang akan ditulisnya. Terlebih bila stasiun televisi lain justru memiliki gambar tersebut.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Kredibilitas stasiun televisi akan turun drastis bahkan hanya dalam satu malam, bila tim liputannya gagal mendapatkan gambar dari suatu peristiwa penting. Terlebih bila kegagalan itu terjadi karena pada saat itu tidak ada juru kamera yang siap. Koordinasi antara reporter dan juru kamera terkadang menjadi masalah dalam suatu liputan. Misalnya si reporter sudah siap berangkat namun juru kamera belum ada, atau sebaliknya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Keberhasilan bagian pemberitaan stasiun televisi banyak bergantung kepada reporter dan juru kamera yang ada di lapangan serta korlip di ruang redaksi yang mengarahkan mereka. Namun kemampuan produser dan eksekutif produser dalam menyusun acara juga tak kalah penting. Struktur organisasi bagian pemberitaan televisi biasanya terdiri dari sejumlash jabatan, seperti direktur pemberitaan (news director), eksekutif produser, produser, koordinator liputan (korlip), reporter, juru kamera, driver, dan lain lain.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Namun efektifitas peliputan berita redaksi pemberitaan sebuah stasiun televisi sebagian besar bergantung kepada mereka yang bekerja di lapangan –tim liputan—yang terdiri dari para reporter dan juru kamera. Ujung tombak dari suatu program berita stasiun televisi adalah tim liputan berita. Kerjasama yang baik antara reporter dan juru kamera dalam sebuah tim liputan akan menentukan kualitas berita yang dihasilkan atau disampaikan kepada khalayak. Reporter dan juru kamera harus bekerja sama sebagai satu tim kerja. (Budi Utami, MSi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2153677986479369988?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2153677986479369988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2153677986479369988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2153677986479369988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2153677986479369988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2011/03/tim-liputan-berita.html' title='TIM LIPUTAN BERITA'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-4847176501368710800</id><published>2011-03-03T00:11:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T00:15:52.457-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinematography'/><title type='text'>Tugas tim dari SINEMATOGRAFI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;pembuatan film&lt;/a&gt; pasti ada suatu kru atau team agar tidak terjadi kerancuan dalam suatu produksi film itu sendiri. Berikut beberapa penjelasan tentang profesi &lt;a href="http://komunikasi.maherna.com/category/sinematografi/"&gt;sinematografi&lt;/a&gt; yang ada pada proses pembuatan film,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produser&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pembuatan sebuah film. Seorang sosok produser adalah sosok sentral yang menjalankan sebuah produksi film. Tidak dengan uang tapi dengan visi. Sebab dengan modal visilah dia bisa memutuskan apakah cerita itu bisa dikembangkan menjadi film layer lebar, kemampuan yang harus dimiliki yaitu : mengelola keuangan, mencari dana, berbicara dengan calon investor, menyatukan sejumlah orang untuk terjadinya sejumlah film. Para produser adalah orang yang bekerja lebih awal hingga paling akhir dari produksi film. Artinya seorang produser harus memiliki kemampuan yang sangat kompleks dari semua bagian yang ada di bawahnya untuk menjadikan dia mampu mengelola sebuah film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manajer Produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja manajer produksi bak coordinator harian yang mengatur kerja dan memaksimalkan potensi yang ada di seluruh departemen yang ada. Dalam produksi sebuah film. Ialah yang bertanggung jawab dalam operasi produksi mulai tahap pra produksi sampai produksi usai. Tiap hari ia membuat ceklist mendaftar apa yang sudah dan yang belum dikerjakan, sambil mengantisipasi masalah yang mungkin timbul dan menyiapkan alternative pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutradara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi inipun kerap kali menjadi cita-cita banyak orang. Ketajaman visi sangat diperlukan supaya dapat menghidupkan cerita untuk bisa dinikmati di layar lebar. Dia yang harus mengontrol aspek dramatis dan artistik selama proses produksi berlangsung. Ia juga harus mengarahkan seluruh kru dan artis untuk bisa mewujudkan film. Sutradara adalah story teller lewat medium film jauh lebih penting dari pada kepahaman tentang film sendiri. Kemampuan memimpin, komunikasi, visi, sikap, dan pemahaman soal hidup sangat juga diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asisiten sutradara I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditahap pra produksi, diperlukan seorang untuk membantu sutradara untuk menterjemahkan hasil direktor treatment kedalam script breakdown dan shooting schedule. Orang ini diberi predikat asissten sutradara I, orang inilah yang mendiskusikan segala keperluan shooting dan manajer produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis skenario&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilis skenario harus bisa mengatakan sesuatu dengan jelas. Memahami maksud dari cerita. Memahami maksud cerita (berperan sama seperti arsirek untuk membangun cerita ), menulis skenario adalah pekerjaan kolaboratif yang dilakukan si penulis dengan orang yang punya visi yang sama, dalam hal ini sutradara dan produser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produser pelaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi produser pelaksana diperlukan kemampuan manajerial, kemampuan mengelola anggaran. Kepemimpin, dan komunikasi. Tugasnya adalah memotivasi dan visi buat terjadinya film, bekerja selama proses produksi berlangsung. Tugas utamanya adalah memaksimalkan hasil produksi dalam bentuk film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penata kamera/ fotografi ( DOP )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguasai cerita, paham alat, tahu bagaimana menceritakan sesuatu, bisa menentukan penggambaran cerita itu. Menguasai teknik pencahayaan. Menguasai kemampuan manajerial maupun membuat jaringan komunikasi serta mempunyai hubungan yang baik dengan sutradara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kameramen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah seorang yang menoprasikan kamera. Seorang kamera person wajib mengetahui seluk beluk kamera sehingga dapat menuangkan visual sesuai yang diinginkan sutradara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Desain produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan sebagai asissten sutradara menentukan suasana dan warana yang tampil dalam film. Desain produksi menterjemahkan keinginan kreatif sutradara dan merancangnya. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang luas, kreatif dan teknis agar seseorang desian produksi mampu menuangkan keinginan sutradara menjadi rancangan yang mudah dimengerti tiap kepala departement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penata kostum dan penata rias&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa ditekuni oleh pria atau wanita. Berhubungan dengan kamera, jadi harus mendiskusikan kesemuanya dengan penata gambar. Memahami karakter dari tokoh. Bertugas membantu sutradara menghidupkan karakter, bukan hanya mendadani pemain. Bekerja secara tim, punya sistem kerja, kemempuankomunikasi, bekerja keras dan tidak mudah panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lighting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesorang yang bertugas menjadi lighting mempunyai peranan yang cukup besar, karena kualitas gambar dari sebuah shot akan semakin baik jika cahaya yang digunakan tertata dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyunting gambar/ editor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat menjadi editor adalah kesabaran. Mempunyai kemampuan bercerita, musik, rapi dan rajin mencatat. Ini jauh lebih penting dari pada kemampuan menggunakan komputer. Mampu berkomunikasi dengan sutradara. Keputusan pada ruang editing didasarkan pada kebutuhan cerita dan pertimbangan kebutuhan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penata suara dan penata musik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia unsur audio belum menjadi prioritas. Padahal film bukan hanya membutuhkan gambar, itulah mengapa namanya film se3bagai media audio visual. Profesi inin adalah pekerjaan seni namun membutuhkan kemampuan engineering. Profesi ini sesuai dengan orang yang gemar pada teknologi. Dalam mengerjakan film sesuai dengan script. Dalam memasukkan atau menghilangkan noise bisa menggunakan musik library, bisa juga dengan browsing, dengan syarat mencantumkan pada credit title.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Talent&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah figure yang ada kebutuhan dengan skenario dan syuting. Kebituhan mereka pada penyelenggara festival adalha mereka bisa melihat kualitas performa mereka saat di layar serta mampu untuk membandingkan kualitas mereka dengan film lainnya. Selain itu juga sebagai sarana belajar mereka untuk mengenal beragam karakter di film. Serta berkesempatan untuk bertemu dengan para pekerja film lainnya untuk mengembangkan jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Publisis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi membutuhkan strategi komunikasi, sementara promosi lebih pada kegiatan pasang iklan di media sebanyak-banyaknya. Publikasi memungkinkan calon penonton untuk terinformasi soal film yang akan dia tonton. Dalam arti dia akan tahu lebih dari sekedar judul film itu apa. Dengan stratergi publikasi yang baik bisa juga menjadi penyelamat film yang mungkin jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyelenggara festival&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival lahir karena penonton membutuhkan forum diskusi, apresiasi, tawaran sudut pandang yang bebeda dan juga tontonan alternatif. Sebetulnya tawaran inilah yang membuat festival menjadi penting. Menguasai strategi menguasai penontonnya. Banyak festival tak lain adalah untuk tempat berinteraksi dan belajar. Banyaknya ajang ini juga sebagai tempat untuk memperluas jaringan akan pelaku film lainnya. Beberapa macam pelaku dalam film bukan berarti hanya beberapa itu saja yang ada. Melainkan bisa sangat beragam dan banyak. Itu tergantung dari tingkat kebutuhan serta kesulitan pembuatan film tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-4847176501368710800?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/4847176501368710800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=4847176501368710800' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4847176501368710800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4847176501368710800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2011/03/tugas-tim-dari-sinematografi.html' title='Tugas tim dari SINEMATOGRAFI'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6481537158100165766</id><published>2011-02-12T07:26:00.000-08:00</published><updated>2011-02-12T07:28:15.698-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><title type='text'>Kelebihan dan kekurangan strategi pemasaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap era selalu ada trend  baru yang menuntut ilmu pemasaran terus berkembang, kecanggihan teknologi serta banyaknya penemuan baru menciptakan kondisi yang memaksa ilmu pemasaran ikut berkembang demi menemukan solusi dalam memasarkan berbagai barang dan jasa. Makalah ini berusaha menyajikan beberapa informasi tentang konsep dalam komunikasi pemasaran dari sejak pertama kali di rumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep dasar dari komunikasi pemasaran  yang menjadi awal perkembangan konsep komunikasi pemasaran :&lt;br /&gt;1.Product (Produk)&lt;br /&gt;2.Price (Harga)&lt;br /&gt;3.Place (Tempat, Distribusi)&lt;br /&gt;4.Promotion (Promosi)&lt;br /&gt;Seiring kemajuan masa, komunikasi pemasaran mengenai 4P ini dijabarkan lagi menjadi beberapa konsep, konsep dasar dari strategi promosi tersebut yaitu:&lt;br /&gt;Promotion Strategy (5)&lt;br /&gt;1.Periklanan&lt;br /&gt;Semua bentuk penyajian nonpersonal dan promosi ide, barang atau jasa yang dibayar oleh suatu sponsor tertentu.&lt;br /&gt;2.Promosi Penjualan&lt;br /&gt;Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.&lt;br /&gt;3.Hubungan masyarakat dan Publisitas&lt;br /&gt;Berbagai program untuk mempromosikan dan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya.&lt;br /&gt;4.Penjualan secara pribadi&lt;br /&gt;Interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan menerima pesanan.&lt;br /&gt;5.Pemasaran langsung&lt;br /&gt;Penggunaan surat, telepon, faksimili, e-mail, dan alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan tertentu dan calon pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dengan bertambahnya zaman, persaingan pasar makin ketat, berkembangannya berbagai jenis media baru dan semakin canggihnya konsumen maka Strategi Promosi di rumuskan menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Advertising&lt;br /&gt;2.Consumer sales promotion&lt;br /&gt;3.Trade Promotion and Co-marketing&lt;br /&gt;4.Packaging, Point-Of-Purchase&lt;br /&gt;5.Personal Selling&lt;br /&gt;6.Public Relations&lt;br /&gt;7.Brand Publicity&lt;br /&gt;8.Corporate Advertising&lt;br /&gt;9.The internet&lt;br /&gt;10.Direct marketing&lt;br /&gt;11.Experiantial Contact: Events, Sponsorship&lt;br /&gt;12.Customer Service&lt;br /&gt;13.Word of Mouth&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penulis akan memaparkan satu persatu  kelebihan dan kekurangan dari konsep-konsep tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.          Advertising (Periklanan)&lt;br /&gt;Kelebihan Dan Kekurangan Media Iklan&lt;br /&gt;1.Media Eletronik&lt;br /&gt;1.a. Televisi ( TV )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Dapat dinikmati oleh siapa saja.&lt;br /&gt;Dapat menjangkau daerah yang luas.&lt;br /&gt;Waktu siarannya sudah tertentu.&lt;br /&gt;Memiliki daya penyampaian dan pengaruh yang kuat karena dapat memberikan kombinasi antara suara dengan gambar ( yang bergerak ).&lt;br /&gt;Memudahkan para audiensnya untuk memahami yang diiklankan.&lt;br /&gt;Tidak memerlukan keahlian dan kemampuan membacaseperti pada media cetak. Dengan gambar-gambar, semua orang sudah cukup mengerti maknanya.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Biaya relatif tinggi.&lt;br /&gt;Hanya dapat dinikmati sebentar (pesan berlalu sangat cepat).&lt;br /&gt;Khalayak yang selektif (tidak setajam media lainnya kemungkinan menjangkau segmen tidak tepat karena pemborosan geografis).&lt;br /&gt;Kesulitan teknis.&lt;br /&gt;Tidak semua tempatdapat dicapai gelombang penyiaran televisi.&lt;br /&gt;Tidak semua orang memiliki pesawat televisi melihat harganya yang relatif mahal.&lt;br /&gt;1.b. Radio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Biayanya relatif rendah (dalam artian hardware-nya serta dalam produksi siarannya)&lt;br /&gt;Dapat diterima oleh siapa saja.&lt;br /&gt;Dapat menjangkau daerah yang cukup luas.&lt;br /&gt;Bersifat Auditif&lt;br /&gt;1.Lebih leluasa dalam penyampaian pesan-pesannya tanpa banyak varian-variannya. 2.Menimbulkan audio imaginatif. Efek yang ditimbulkan lebih dahsyat dari pada efek visual.&lt;br /&gt;Daya tembus yang besar tidak mengenal rintangan. Radio yang menggunakan gelombang SW, MW, mempunyai kemampuan penetrasi area yang luas sehingga pesan yang disampaikan dapat mengatasi jarak, ruang dan waktu.&lt;br /&gt;Merupakan sarana yang cepat dalam menyebarluaskan informasi .&lt;br /&gt;Radio dapat diterima dan didengar di areal tanpa listrik atau tidak selalu membutuhkan daya listrik.&lt;br /&gt;Praktis (portable dapat di bawa kemana-mana) dan audience selectivity.&lt;br /&gt;Mengatasi buta huruf artinya para pendengar radio tidak dituntut untuk bisa membaca.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Waktunya terbatas.&lt;br /&gt;Tidak mengemukakan gambar.&lt;br /&gt;Pendengar sering kurang mendengarkan secara penuh karena diselingi melakukan pekerjaan lain.&lt;br /&gt;Noise Faktor (khusus gelombang MW dan SW)&lt;br /&gt;Sulit untuk menyampaikan pesan-pesan yang kompleks&lt;br /&gt;Alternatif audiance dalam pemilihan stasiun lebih banyak ( persaingan yang ketat )&lt;br /&gt;Sekilas dengar atau bersifat auditif saja sedangkan televii lebih lengkap.&lt;br /&gt;Tidak dapat di gunakan untuk menyampaikan acara yang abstrak dan komples (rumit)&lt;br /&gt;Radio adalah termasuk media yang time organized, sehingga untuk penataan program acaranya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;Untuk penyampaian pesan yang bersifat informatif maka maximum durasinya adalah 15 menit.&lt;br /&gt;Untuk acara yang bersifat entertainment bisa sampai 30 s.d 45 menit.&lt;br /&gt;2. Media Cetak&lt;br /&gt;2.a. Koran ( Surat Kabar )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Biasanya relatif tidak mahal. Fleksibel (lebih luwes dalam menentukan jadwal publikasi iklan dan surat kabar yang mempublikasikan (apakah lokal, regional ataukah nasional) berkaitan dengan khalayak yang dijadikan sasaran iklan). Dapat dinikmati lebih lama.  Market coverage ; surat kabar mampu menjangkau daerah-daerah perkotaan sesuai cakupan wilayahnya. Comparison shooping ; surat kabar sering digunakan sebagai bahan acuan atau referensi konsumen dalam membeli barang atau jasa. Positive consumer attitude ; aktualitas informasi yang sampaikan digunakan juga sebagai acuan pembaca.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Mudah diabaikan serta cepat basi. Contoh : Short life span ; meski jangkauannya luas dan massal serta dapat didokumentasikan, pembaca surat kabar hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit hingga 30 menit untuk membacanya serta umumnya hanya sekali saja membacanya. Selain itu usia informasinya hanya 24 jam setelah itu sudah dianggap basi. Clutter ; Jika isi dan tata letaknya kacau akan mempengaruhi pemaknaan dan pemahaman isi pesan iklan oleh pembacanya.&lt;br /&gt;Limited coverage of certains group ; beberapa kelompok tertentu tidak bisa dijangkau oleh surat kabar, misal kelompok masyarakat menengah ke bawah atau masyarakat usia di bawah 15 tahun.&lt;br /&gt;Products that don’t fit ; beberapa produk tidak dapat diiklankan dengan menggunakan surat kabar karena memerlukan demonstrasi atau memerlukan pertimbangan tertentu. Contoh iklan BH atau iklan peralatan olah raga.&lt;br /&gt;Dan Jenis bahan yang digunakan biasanya mudah sobek, artinya gangguan mekanis tinggi, sehingga informasi yang diterima tidak lengkap.&lt;br /&gt;2.b. Majalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Dapat dinikamti lebih lama (long life span)&lt;br /&gt;Pembacaannya lebih selektif.&lt;br /&gt;Dapat mengemukakan gambar yang menarik (Kualitas Visual).&lt;br /&gt;Khalayak sasaran; salah satu keunggulan majalah jika dibandingkan dengan&lt;br /&gt;media lainnya adalah kemampuannya menjangkau segmen pasar tertentu&lt;br /&gt;yang terspesialisasi.&lt;br /&gt;Penerimaan khalayak; kemampuan mengangkat produk-produk yang&lt;br /&gt;diiklankan sejajar dengan persepsi khalayak sasaran terhadap prestige&lt;br /&gt;majalah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Biaya lebih relatif tinggi (mahal).&lt;br /&gt;Fleksibilitasnya rendah (terbatas).&lt;br /&gt;Distribusi&lt;br /&gt;Banyak majalah yang peredarannya lambat sehingga hanya menumpuk di rak-rak toko. Ada juga majalah yang tidak memiliki jaringan distribusi yang tepat. Di beberapa daerah tertentu yang daya belinya tinggi namun sulit dijangkau, majalah sering tidak ada.&lt;br /&gt;Dan Jenis bahan yang digunakan biasanya mudah sobek, artinya gangguan mekanis tinggi, sehingga informasi yang diterima tidak lengkap.&lt;br /&gt;3. Media luar ruang ( Outdoor) )&lt;br /&gt;3.a. Billboard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Relatif Murah&lt;br /&gt;Media luar ruang / billboard sesungguhnya memerlukan pembiayaan yang relatif murah karena berlaku selama 1 tahun untuk sekali kontrak/pembayaran.&lt;br /&gt;Penjadwalan Fleksibel&lt;br /&gt;Penjadwalan / penempatan media luar ruang relatif fleksibel karena dapat ditempatkan pada lokasi-lokasi yang dianggap paling tepat untuk suatu produk yang akan diiklankan.&lt;br /&gt;Mengingatkan produk secara terus-menerus&lt;br /&gt;Billboard yang dipasang pada lokasi-lokasi strategis seperti perempatan jalan memiliki terpaan secara terus-menerus bagi pengguna jalan yang melewatinya.&lt;br /&gt;Mengajak langsung membeli&lt;br /&gt;Dengan ukuran yang besar dan pencahayaan yang sempurna billboard bahkan dapat menarik setiap pengguna jalan. Dampak yang jauh adalah mampu mempengaruhi langsung untuk mencoba atau membeli produk yang diiklankan dalam billboard.&lt;br /&gt;Potensi Kreatif&lt;br /&gt;Media luar ruang memiliki fleksibilitas pengembangan kreatifitas sesuai dengan kemampuan praktisi-praktisi kreatif.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Pesan Terbatas&lt;br /&gt;Karena waktu baca / penglihatan yang sekelebat, pesan-pesan pada media luar ruang dibuat sangat terbatas atau singkat.&lt;br /&gt;Tidak efektif bagi pengendara mobil&lt;br /&gt;Pengendara mobil yang membutuhkan konsentrasi penuh, kadang-kadang mengesampingkan berbagai hal yang ia lewati, termasuk billboard yang mengiklankan produk tertentu, apalagi membaca secara jelas.&lt;br /&gt;Kendaraan umum yang penuh sesak&lt;br /&gt;Dalam kota-kota besar seperti Jakarta, di mana kendaraan umum adalah sarana transportasi bagi sebagian besar masyarakat, menyebabkan kondisi yang penuh sesak dan menyulitkan untuk sekedar melihat ke luar kendaraan.&lt;br /&gt;Sasaran Pengrusakan&lt;br /&gt;Media-media luar ruang rentan terhadap pengrusakan dari masyarakat yang tidak menyenangi adanya media iklan yang dipasang.&lt;br /&gt;3.b. Poster&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Khalayak dapat mengatur tempo dalam membaca. Ia dapat mengulang bacaannya kembali dan mengatur cara membaca. Media yang dapat di tinjau ulang, pembaca dapat dengan tenang, membaca dengan teliti iklannya dan dapat membaca kembali bagian-bagian menurut kehendaknya.&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang tercetak pesan-pesannya bersifat permanen dan kekuatan utamanya adalah dapat dijadikan bukti.&lt;br /&gt;Membuat informasi yang cukup lengkap.&lt;br /&gt;Saat pembaca tidak paham pada satu bagian dari isinya, pembaca dapat menanyakan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Untuk menikmatinya diperlukan kemampuan membaca dan atensi atau perhatian, karena tidak bersifat auditif dan visual, ia memintakan pula kemampuan imajinasi pembaca untuk menikmati dan memahaminya.&lt;br /&gt;Membutuhkan proses penyusunan dan penyebaran yang kompleks dan membutuhkan waktu yang relatif lama.&lt;br /&gt;Jenis bahan yang digunakan biasanya mudah sobek, artinya gangguan mekanis tinggi, sehingga informasi yang diterima tidak lengkap.&lt;br /&gt;3.c. Spanduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Khalayak dapat mengatur tempo dalam membaca. Ia dapat mengulang bacaannya kembali dan mengatur cara membaca. Media yang dapat di tinjau ulang, pembaca dapat dengan tenang, membaca dengan teliti iklannya dan dapat membaca kembali bagian-bagian menurut kehendaknya.&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang tercetak pesan-pesannya bersifat permanen dan kekuatan utamanya adalah dapat dijadikan bukti.&lt;br /&gt;Media ini tahan lama dan dapat dilihat dari jarak jauh.&lt;br /&gt;Saat pembaca tidak paham pada satu bagian dari isinya, pembaca dapat menanyakan pada orang lain.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Untuk menikmatinya diperlukan kemampuan membaca dan atensi atau perhatian, karena tidak bersifat auditif dan visual, ia memintakan pula kemampuan imajinasi pembaca untuk menikmati dan memahaminya.&lt;br /&gt;Membutuhkan proses penyusunan dan penyebaran yang kompleks dan membutuhkan waktu yang relatif lama.&lt;br /&gt;Dan Jenis bahan yang digunakan biasanya mudah sobek, artinya gangguan mekanis tinggi, sehingga informasi yang diterima tidak lengkap.&lt;br /&gt;3.d. Flyer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Dari segi biaya relatif murah Media ini dan berisi informasi yang lengkap, serta mudah dibawa.&lt;br /&gt;Dapat memberi gambarankan gambaran yang ditawarkan perusahaan.&lt;br /&gt;Khalayak dapat mengatur tempo dalam membaca. Ia dapat mengulang bacaannya kembali dan mengatur cara membaca. Media yang dapat di tinjau ulang, pembaca dapat dengan tenang, membaca dengan teliti iklannya dan dapat membaca kembali bagian-bagian menurut kehendaknya.&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang tercetak pesan-pesannya bersifat permanen dan kekuatan utamanya adalah dapat dijadikan bukti.&lt;br /&gt;Saat pembaca tidak paham pada satu bagian dari isinya, pembaca dapat menanyakan pada orang lain.&lt;br /&gt;Penyerapan informasi lebih menyeluruh, karena ada kesempatan bagi komunikan untuk mempertimbangkan secara kritis apa makna informasi yang di baca.&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Untuk menikmatinya diperlukan kemampuan membaca dan atensi atau perhatian.&lt;br /&gt;Karena tidak bersifat auditif dan visual, ia memintakan pula kemampuan imajinasi pembaca untuk menikmati dan memahaminya.&lt;br /&gt;Membutuhkan proses penyusunan dan penyebaran yang kompleks dan membutuhkan waktu yang relatif lama.&lt;br /&gt;Dan Jenis bahan yang digunakan biasanya mudah sobek, artinya gangguan mekanis tinggi, sehingga informasi yang diterima tidak lengkap.&lt;br /&gt;Orang cenderung mengabaikan informasi yang diberikan apabila bentuk flyer kurang menarik.&lt;br /&gt;II.          Consumer sales promotion (Promosi Penjualan Konsumen)&lt;br /&gt;Promosi penjualan adalah kegiatan komunikasi pemasaran, selain daripada periklanan, penjualan pribadi, dan hubungan masyarakat, dimana insentif jangka pendek memotivasi konsumen dan anggota saluran distribusi untuk membeli barang atau jasa dengan segera, baik dengan harga yang rendah atau dengan menaikkan nilai tambah.&lt;br /&gt;·      Kelebihan :&lt;br /&gt;Komunikatif&lt;br /&gt;Mampu menciptakan respon audiens terhadap perusahaan&lt;br /&gt;·      Kekurangan :&lt;br /&gt;Hanya untuk pasar baru&lt;br /&gt;III.          Trade Promotion and Co-marketing&lt;br /&gt;Adalah konsep pemasaran dengan pola partnership demi akselersi penjualan, atau popular dirumuskan dengan ASA (Aksi +  Sinergi = Akselerasi), jadi dalam menjalankan aktivitas pemasaran partner memegang pernanan penting dalam mendongkrak penjualan contoh : Marylin Monroe yang mengukir tattoo mercy di pipinya.&lt;br /&gt;·      Kelebihan : dengan menciptakan ikon produk tau partner , maka produk dengan cepat terkenal&lt;br /&gt;·      Kekurangan : Manakala imej partner atau ikon jatuh, maka produk kita yang sudah identik dengan ikon tersebut akan ikut-ikutan jatuh. &lt;br /&gt;IV.          Packaging, Point-Of-Purchase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pemasaran yang menekankan kepada tampilan produk atau kemasan produk demi memikat pelanggan, sehingga menimbulkan niat bagi konsumen untuk membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan : dengan membuat kemasan yang berbeda maka akan membuat produk terlihat berbeda sehingga mengundang perhatian konsumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan : membuat biaya produksi naik sehingga memperbaiki harga, dan hal ini sangat bahaya untuk produk dengan permintaan elastic, sebab jika harganya sedikit saja berbeda dengan atau lebih tinggi maka akan mempengaruhi permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.          Personal Selling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal selling adalah komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan : Personal selling melibatkan komunikasi secara langsung dengan konsumen potensial, sehingga lebih bisa membujuk daripada alat-alat promosi lain.&lt;br /&gt;1)   Proses komunikasi face-to-face menjadikan konsumen potensial lebih memperhatikan pesan dari komunikator.&lt;br /&gt;2)   Personal selling dapat mendesain cara penyampaian pesan yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi audience.&lt;br /&gt;3)   Dalam personal selling terjadi komunikasi dua arah, sehingga dapat memungkinkan adanya dialog interaktif antara salesperson dengan konsumen.&lt;br /&gt;4)   Personal selling lebih memungkinkan untuk menyampaikan pesan yang kompleks mengenai suatu produk yang tidak dapat disampaikan melalui iklan.&lt;br /&gt;·      Kekurangan&lt;br /&gt;1)   Hanya dapat menjangkau sedikit konsumen potensial&lt;br /&gt;2)   Relatif mahal&lt;br /&gt;3)   Sulitnya mendapatkan salesperson yang memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan perusahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.          Public Relations&lt;br /&gt;Menurut Rosady Ruslan (2001, p.246) tujuan public relation adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.         Menumbuhkembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.&lt;br /&gt;b.         Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan perusahaan.&lt;br /&gt;c.         Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan public relation.&lt;br /&gt;d.        Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek.&lt;br /&gt;e.         Mendukung bauran pemasaran.&lt;br /&gt;Kelebihan dan Kekurangan&lt;br /&gt;·      Kelebihan&lt;br /&gt;1)   Lebih terpercaya karena berasal dari lembaga formal atau orang yang dikenal&lt;br /&gt;2)   Mampu menciptakan Susana yang dramatif&lt;br /&gt;·      Kekurangan&lt;br /&gt;Karena sumber informasi bukan dari internal, maka sulit dikendalikan perusahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII.          Brand Publicity&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan konsep pemasaran yang memanfaatkan publikasi media massa untuk mendongkrak popularitas produk. Biasanya dengan cara membuat berita unik dan langkah hingga kemudian menjadi bahan liputan media massa. Contohnya : Tung Desem Waringin yang me-launching bukunya dengan cara membuat arak-arakan keliling kota dengan nasi duduk sehingg mengundang pehatian media massa untuk meliput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan :   Tidak memerlukan banyak biaya, produk lebih cepat dikenal karena kemunculannya yang unik lewat media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan : informasi yang diberitakan tidak tersampaikan secra utuh, dan akan banyak dipengaruhi oleh berita lain, apalagi jika berita hasil publikasi tersebut bukan headline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII.          Corporate Advertising&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping mengkiklankan suatu produk, adalakanya sebuah perusahaan harus juga diiklankan dan diperkenalkan ke masyarakat luas, ini sebagi upaya untuk menciptakan “Sense of Belonging” atau rasa kepemilikan yang tinggi terhadap perusahaan penghasil produk. Contoh : PT.Chevron , yang meluncurkan iklan yang menggambarkan profil company mereka, atau juga kita biasa melihat di metro tv khususnya di bagian advertorial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan : membuat imej perusahaan kuat di benak konsumen, sehingga ketika perusahaan tersebut men diversifikasi produknya maka konsumen yang sudah loyal terhadapa perusahaan tadi akan menerima produk baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan : Setiap perusahaan ada yang diperkenalkan dengan mengkikutsertakan “Personal Branding” yang merupakan daya tarik atau untuk konsumen, biasanya personal branding tersebut berasal dari sang pemilik perusahaan. Namun disinilah letak kekurangannya, sebab manakala sang pemilik perusahaan imej atau popularitasnya jatuh maka semua produk dari perusahaan tersebut akan ikut-ikutan jatuh. Contoh : MQ Coorporation yang menonjolkan AA Gym sebagai sosok sentral sebagai daya tarik untuk mengundang konsumen. maka ketika imej AA Gym sedang tidak baik karena poligami, maka usaha-usaha di bawah MQ Coorporation ikut-ikutan gulung tikar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX.          The internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet adalah sumber informasi yang saat ini sudah menjadi kebutuhan primer, sebagian besar penduduk bumi menggunakan internet dan terhubung dengan masyarakt lain di seluruh penjuru dunia, bahkan ada sebagian pengguna internet lebih eksis di dunia maya disbanding di dunia nyata. Ini mengakibatkan perhatian konsumen beralih ke dunia maya. Maka aktivitas pemasaran harus dilakukan lewat internet. Maka muncullah istilah e-commerce yang dalam bentuknya berupa website perusahaan, blog, dan jejaring social. Contoh : toko penjualan buku online www.amazone.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan : Biaya murah bahkan hmpir tidak ada, seperti misalnya kita mempromosikan produk lewat situs jejaring social seperti Facebook, Twitter, Kaskus dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan : untuk brand perusahaan yang belum terkenal, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menciptakan trust atau kepercayaan konsumen sebab isu penipuan di internet cukup mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan transaksi online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X.          Direct marketing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direct marketing adalah sistem pemasaran yang bersifat interaktif, yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk menimbulkan respon yang terukur dan atau transaksi di sembarang lokasi. Dalam direct marketing, komunikasi promosi ditujukan langsung kepada konsumen individual, dengan tujuan agar pesan-pesan tersebut ditanggapi konsumen yang bersangkutan, baik melalui telepon, pos atau dengan datang langsung ke tempat konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan&lt;br /&gt;1)   Dengan Direct Marketing diharapkan suatu produk/jasa dapat menjangkau target pasarnya&lt;br /&gt;2)   Biaya yang dikeluarkan jauh lebih efektif mengingat penjualan yang dilakukan adalah penjualan yang berulang (repeat sales) dengan target pasar yang cukup jelas&lt;br /&gt;3)   Direct marketing dapat dilakukan melalui berbagai jenis bentuk media&lt;br /&gt;4)   Dengan Direct Marketing akan mudah dihitung respon yang muncul dari kegiatan marketing disamping dapat mempermudah pembuatan anggaran promosi&lt;br /&gt;5)   Dengan direct media, feedback dapat diperoleh langsung dari konsumen&lt;br /&gt;6)   Dengan Direct Marketing, kegiatan riset harga, promosi, dan penentuan waktu dapat dengan mudah dilakukan&lt;br /&gt;7)   Dengan menggunakan direct media pesan yang disampaikan dapat dikustomisasi untuk konsumen yang dituju&lt;br /&gt;8)   Database konsumen dapat dengan mudah dibentuk dalam Direct Marketing sehingga dapat diraih penjualan yang berulang dari satu pelanggan&lt;br /&gt;9)   Kesempatan untuk membentuk hubungan jangka panjang dengan konsumen dapat dilakukan melalui database konsumen yang sudah ada&lt;br /&gt;10)    Database konsumen dapat digunakan untuk membuat profil konsumen, membagi konsumen dalam berbagai segment, mengumpulkan informasi tentang suatu produk/jasa dan bahkan mencari alasan seseorang membeli produk/jasa atau tidak&lt;br /&gt;·      Kekurangan&lt;br /&gt;1)   Direct Marketing yang dilakukan lewat pengiriman surat misalnya, konsumen yang ditelepon setiap saat ataupun penawaran lewat sales dapat menimbulkan citra negatif dimata konsumen terutama saat konsumen membutuhkan privacy atau tidak mau diganggu&lt;br /&gt;2)   Tingkat ketepatan daftar yang digunakan untuk menunjuk target market yang dituju terkadang terlalu rendah, karena daftar yang digunakan tidak sesuai dengan target market yang disasar oleh perusahaan&lt;br /&gt;3)   untuk melaksanakan Direct Marketing diperlukan fasilitas dan sarana yang cukup memadai misalnya fasilitas telepon on-line, SDM yang handal dan menguasai informasi suatu produk/jasa dimana perusahaan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menyediakan fasilitas tersebut&lt;br /&gt;4)   Semakin lama harga-harga untuk iklan yang menggunakan media direct mail makin mahal, sehingga banyak yang beralih menggunakan media internet&lt;br /&gt;XI.          Experiantial Contact: Events, Sponsorship&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pemasaran yang menarik perhatian konsumen dengan cara menciptakan pengalaman dalam menggunakan produk kita, atau dengan kata lain yang dtonjolkan bukan lagi produknya, melainkan “pengalaman” menggunakan produk tersebut. Contoh : Saung Mang Ujo Bandung yang menjual pengalaman menyaksikan pertunjukan sekaligus memainkan angklung sebagai sarana untuk menarik konsumen datang ketempatnya, bahkan sejak saung mang ujo memploklamirkan diri sebagai Pusat kebudayaan angklung Indonesia, konsumen nya tidak hanya datang dari dalam negri bahkan dari seluruh penjuru dunia, padahal saung mang ujo tidak pernah beriklan besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan : konsumen dengan cepat akan tertarik untuk membeli sebab pengalaman menggunakan atau mengkomsumsi produk tersebut membuat mereka rela membayar sekalipun mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan : dengan menjual pengalaman atau lifestyle maka segmentasi pasar akan terbatas hanyak kepada konsumen yang sesuai dengan segmen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XII.          Customer Service&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk usaha-usaha yang paham betul pada kelengkapan informasi produk untuk meyakinkan konsumen maka mereka akan menekankan pantingnya CS atau costumer service, sebab CS bisa menjalankan fungsi sebagai juru bicara internal perusahaan dalam menjelaskan produk, bahkan bisa mengubah persepsi konsumen yang tadinya skeptic terhadap produk yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kelebihan : menjadi garis terdepan dalam mendengar dan menerima berbagai kondisi konsumen mulai dari ketidakpuasaan, keluhan hingga menjawab rasa keingin tahuan konsumen. sehingga persepsi konsumen bisa diukur dan terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Kekurangan : menambah beban biaya operasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XIII.          Word of Mouth&lt;br /&gt;Konsep Pemasaran yang jenius adalah pemasaran yang bisa menciptakan kondisi dimana yang menjual suatu produk bukan lagi si penjual, akan tetapi produk itu sendirilah yang menjual dirinya. Bagaiman caranya? Tentu dengan menciptakan kondisi yang dimana kita berhasil memuaskan keinginan pelanggan sehingga timbul loyalitas lalu kemudian pelanggan-pelanggan tersebut mengundang pelanggan yang lain lewat isu dari “mulut ke mulut” inilah yang dinamakan “word of mouth” dan ini lebih efektif daripada menghabiskan dana yang besar hanya untuk beriklan lewat media massa. Sebab rekomendasilah yang bisa sangat berpengaruh terhadap keputusan pelanggan untuk membeli. Contoh : Barack Obama yang dengan cepat mendongkrak popularitasnya dalam pemilu presiden AS kemarin dengan konsep kampanye mulut ke mulut.&lt;br /&gt;·      Kelebihan : produk dengan cepat laris manis di pasaran serta menciptkan daya beli yang besar&lt;br /&gt;·      Kekurangan : produk juga dengan cepat dapat ditingglkan pelanggan manakala isu yang dibicarakan dari mulut ke mulut tersebut merusak imej perusahaan atau produk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa penjelasan konsep bauran pemasaran yang saat ini sedang terjadi dan di jalankan oleh hampir semua korporat modern untuk tetap bisa bersaing dalam merebut hati pelanggan. Namun adapula yang collapse sebab tidak pekanya korporat-korporat tersebut terhadap perkembangan ilmu pemasaran.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6481537158100165766?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6481537158100165766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6481537158100165766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6481537158100165766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6481537158100165766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2011/02/kelebihan-dan-kekurangan-strategi.html' title='Kelebihan dan kekurangan strategi pemasaran'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3315376408417374234</id><published>2010-09-12T22:46:00.000-07:00</published><updated>2010-09-12T22:49:02.199-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN'/><title type='text'>KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar 1 :&lt;br /&gt;Mitos Komunikasi dalam Pembangunan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak orang terkecoh antara realitas dengan mitos mengenai hubungan antara komunikasi massa dengan perilaku menyimpang, misalnya peristiwa perkosaan atau pembunuhan yang terjadi di dalam masyarakat adalah karena pengaruh media massa, misalnya televisi, film-film di gedung bioskop, VCD dan sebagainya. Sementara itu, sejumlah kalangan terbatas, misalnya para ilmuwan tidak berani dengan serta-merta menganggap bahwa tayangan televisi, VCD atau bioskop dan sejenisnya adalah biang dari terjadinya perilaku menyimpang itu. Jangan-jangan memang dua-duanya itu antara realitas dan mitos terjadi di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Mitos komunikasi yang dikemukakan oleh Gonzales meliputi mitos tentang sistem sumber, pesan, saluran, segmen khalayak dalam sistem pemakai, efek dan mitos tentang alternatif pembangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos tentang sistem sumber antara lain mitos tentang yang baru itu lebih baik, mengatakan "tidak" itu salah, pendidikan lebih tinggi berarti keahlian lebih tinggi, hanya ilmuwan yang dapat melakukan riset, kasus yang berhasil dapat dijadikan model yang baik. Mitos tentang pesan berkaitan dengan mitos tentang informasi saja cukup untuk menyokong pembangunan, isi media massa sama dengan efeknya, media exposure sama dengan efek, suatu inovasi yang baik akan laku dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos tentang saluran meliputi mitos tentang media yang lebih besar akan memberikan hasil yang lebih baik, kampanye informasi publik adalah kampanye media massa, ada satu medium yang paling baik kerjanya untuk segala macam penggunaan, teknologi komunikasi itu netral. Berikutnya adalah mitos tentang segmen khalayak dalam sistem pemakai, yang berisi tentang : target khalayak kita adalah masyarakat umum, pengadopsi inovasi yang pertama adalah model yang baik untuk dijadikan contoh, keputusan dibuat pada tingkat individu, individulah yang harus disalahkan untuk masalah yang dihadapinya, mendengarkan tidaklah sepenting, seperti berbicara kepada khalayak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mitos tentang efek yang meliputi mitos tentang perbedaan dalam pengetahuan, sikap dan perilaku di antara kelompok-kelompok sosial ekonomi yang berbeda tak dapat dihindari dalam program-program pembangunan, beri perlakuan yang sama pada setiap orang dalam pembangunan. Mitos tentang alternatif pembangunan antara lain tentang masyarakat yang modern adalah masyarakat yang hidup menurut cara barat, untuk menjadi modern, seseorang harus disosialisasikan ke dalam kepercayaan dan sikap tertentu, tahap-tahap pembangunan tak dapat diulangi kembali, kita selalu mengerjakan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar 2 :&lt;br /&gt;Komunikasi dan Pembangunan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Roucek dan Warren, komunikasi itu adalah suatu proses pemindahan atau pengoperan fakta-fakta, keyakinan-keyakinan sikap, reaksi-reaksi emosional, serta berbagai bentuk kesadaran manusia. Senada dengan pendapat Roucek &amp;amp; Warren ini adalah pendapatnya Cherry, yang menegaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana pihak-pihak peserta saling menggunakan informasi, dengan tujuan mencapai pengertian bersama yang lebih baik mengenai masalah yang penting bagi semua pihak yang bersangkutan. Proses ini, dan kaitan hubungan yang ada di antara peserta dalam proses, kita sebut komunikasi. Komunikasi bukan merupakan jawabannya itu sendiri, tetapi pada hakikatnya merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerusan rangsangan dan pembangkitan balasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dari pembangunan mengacu proses perubahan yang dengan sadar ditujukan untuk meningkatkan taraf dan kualitas hidup masyarakat. Jadi, dengan formulasi apa pun pembangunan dirumuskan, sebenarnya esensinya tidak lain adalah dalam rangka meningkatkan taraf dan kualitas hidup individu dan masyarakat, baik secara lahiriah maupun batiniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Everett M. Rogers mengatakan, secara sederhana pembangunan adalah perubahan yang berguna menuju suatu sistem sosial dan ekonomi yang diputuskan sebagai kehendak dari suatu bangsa (Rogers, 1985: 2). Sementara itu Hedebro Goran mengatakan bahwa pembangunan tidak lain adalah proses perubahan untuk meningkatkan kondisi-kondisi hidup. Namun, yang perlu dipahami di sini bahwa yang dimaksud dengan proses perubahan itu tidak semata-mata dan sekadar untuk menunjukkan proses perubahan belaka, melainkan harus juga digambarkan secara jelas tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari proses perubahan itu sendiri. Jadi, tujuan itu penting bagi proses perubahan yang namanya pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bryant dan White menyatakan bahwa terdapat empat aspek yang terkandung di dalam pembangunan kualitas manusia sebagai upaya meningkatkan kapasitas mereka. Pertama, pembangunan harus memberikan penekanan pada kapasitas (capacity), kepada apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tersebut serta energi yang diperlukan untuk itu. Kedua, pembangunan harus menekankan pemerataan (equity). Ketiga, pembangunan mengandung arti pemberian kuasa dan wewenang (empowerment) yang lebih besar kepada rakyat. Keempat, pembangunan mengandung pengertian berkelangsungan atau berkelanjutan (sustainable) dan interdependensi di antara negara-negara di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Achmad.A.S dan Ecip S.S (Penyunting). (1985). Komunikasi dan Pembangunan. Jakarta: Sinar Harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman, Arief. (1995). Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effendy, Sofian. (1988). Paradigma Administrasi Pembangunan. Makalah Seminar LAN-RI; Terdapat dalam Percikan Pemikiran FISIPOL UGM Tentane Pembangunan. (1990). Yogyakarta: Diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effendy, Onong Uchjana. (1994). Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gonzalez, Hernando. (1993). Beberapa Mitos Komunikasi dan Pembangunan. Terdapat dalam Jahi, Amri (Penyunting). Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-negara Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goran, Hedero. (1986). Communication and Social Change in Developing Nations: A Critical View. The Iowa State University Press/Ames.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inkeles, Alex. (1974). Manusia Modern. Terdapat dalam Weiner, Myron (Editor). Modernisasi: Dinamika Pertumbuhan. Voice of America Forum Lectures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahi, Amri (Penyunting). (1993). Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kincaid, D. Lawrence &amp;amp; Schramm, Wilbur. (1977). Asas-asas Komunikasi Antarmanusia. Penerbit LP3ES Bekerja Sama dengan East West Communication Institute.&lt;br /&gt;Rogers, Everett M., dan Shoemaker, F. Floyd. (1981). Communication of lnnovatin. Edisi Indonesia disarikan oleh Abdillah Hanafi. Memasyarakatkan Ide Baru. Surabaya: Usaha Nasional, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roucek, Joseph S., and Warren, Roland S. (1963). Sociology An Introduction. New Jersey: Littlefield, Adams &amp;amp; Co, Paterson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schramm, Wilbur. (1964). Mass Media and National Development. Terdapat dalam Depari, Edward, &amp;amp; Mac Andrew, Colin (Editor). (1978). Peranan Komunikasi dalam Pembangunan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shingi, Prakash M. dan Mody, Bda. (1985). Kesenjangan Akibat Pengaruh Komunikasi: Sebuah Penelitian Lapangan mengenai Televisi dan Keterbelakangan Pertanian di India. Terdapat Dalam Rogers, Everett M. (Editor). (1985). Komunikasi Pembangunan: Perspektif Kritis. Jakarta: Penerbit LP3ES&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3315376408417374234?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3315376408417374234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3315376408417374234' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3315376408417374234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3315376408417374234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2010/09/komunikasi-dan-pembangunan.html' title='KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2178983062863137923</id><published>2010-07-22T20:00:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T20:01:08.739-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Semiotika'/><title type='text'>Mitos dan Bahasa Media</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="entry"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Mitos dan Bahasa Media: Mengenal Semiotika Roland Barthes&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh: Anang Hermawan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Purwawacana: Representasi Realitas&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mempertalikan semiotika dan bahasa media nampaknya dapat menjadi satu diskusi yang menarik. Bukan saja karena persoalan filosofis mendasar yang acapkali menjadi perdebatan, melainkan juga karena tidak ada jalur tunggal untuk membongkar praktik pertandaan (baca: bahasa) media. Taruhlah dengan sebuah klaim sederhana para penganut semiotika, bahwa di balik bahasa media seringkali terkandung ‘sesuatu’ yang misterius. Dan semiotika dipercaya sebagai salah satu model rujukan untuk membantu melacak keberadaan misteri tersebut . Sekadar untuk keperluan pengantar, bagian berikut mencoba memaparkan secara singkat beberapa konsep yang relevan sebagai titik tolak pemahaman, yakni tentang representasi.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-263"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsep mengenai representasi hadir menempati tempat baru dalam studi budaya. Peralihan studi kebudayaan dalam ilmu sosial dan humaniora cenderung menekankan pada pentingnya makna. Dalam konteks ini budaya digambarkan sebagai proses produksi dan pertukaran makna yang terus menerus. Dalam kaitannya dengan dunia komunikasi, secara spesifik Alan O’Connor bahkan menggambarkan budaya sebagai proses komunikasi dan pemahaman yang aktif dan terus-menerus.[2] Implikasi dari pengertian ini adalah bahwa masing-masing pemaknaan orang tentang budaya akan sangat tergantung pada pemahaman subyektif antaraktor atau subyek di dalam lingkungan kebudayaannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam konteks ini, ketika pemberitaan dipandang sebagai produk kebudayaan, maka menjadi penting untuk melihat bagaimana media memproduksi dan mempertukarkan makna melalui praktik bahasanya. Berita, sebagai keluaran akhir dari praktik bahasa media dapat dipahami sebagai produksi makna. Sebagai kesatuan organik, media merepresentasikan pikiran dan gagasan-gagasannya melalui berita yang dimereka hadirkan ke ruang publik. Mengapa representasi menjadi penting dalam kaitan ini? Dalam konteks ini terlihat menarik untuk mempersoalkan landasan filosofis yang menjadi basis penggunaan istilah tersebut. Mula-mula penting untuk membedakan term representasi dengan refleksi dalam memahami kembali produk media atau praktek bahasa yang mereka lakukan. Seringkali penggunaan kata representasi ini diperlawankan dengan kata refleksi, karena keduanya memang keduanya mengimplikasikan pandangan yang berbeda terhadap realitas yang ditampilkan media (realitas kedua) dengan realitas yang sebenarnya (realitas pertama). Sebagian orang mengatakan bahwa apa yang tampil di media merupakan ‘cermin’ realitas, dalam pengertian bahwa realitas yang tersaji di media dinilai sama dengan realitas empirik. Media berperan sebagai reflektor yang sekadar menghadirkan fakta atau peristiwa yang ada berlangsung dalam masyarakat, tidak kurang dan tidak lebih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kutub yang berlawanan, sebagian lagi mengatakan bahwa apa yang tersaji dalam media merupakan representasi. Realitas yang tampil di media merupakan hasil konstruksi yang boleh jadi telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktor subyektivitas dari pelaku representasi alias ornag-orang yang terlibat dalam media. Tidaklah sesederhana pandangan reflektif, penggunaan istilah representasi berangkat dari kesadaran bahwa apa yang tersaji di media seringkali tidak selalu persis dengan apa yang ada di realitas empirik. Meyakini realitas media sebagai hasil konstruksi sama halnya dengan memandang suatu fenomena yang dibaratkan seperti gunung es. Permukaan yang terlihat seringkali hanya sebagian kecil dari kenyataan sesungguhnya, dan sebaliknya apa yang ada di bawah permukaan itu justru lebih besar. Pada gilirannya peran pemaknaan oleh ‘pembaca’ menjadi hal penting karena pembacalah yang mempunyai otoritas untuk melihat sejauh mana bagian yang tidak tampak dari gunung es itu dapat diketemukan. Dalam bahasa konstruktivis, peran pembaca untuk mengidentifikasi bagian-bagian yang (seringkali) tak terlihat itu disebut sebagai ‘memaknai’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalannya adalah ketika realitas media telah tersaji ke ruang publik maka media tidak lagi mempunyai otoritas untuk memaksa makna-makna yang mereka kehendaki sehingga peran pemaknaan pun berpindah pada pembaca. Ketika pembaca mempunyai kekuasaan penuh untuk memaknai sebuah berita, maka peran bahasa menjadi penting. Bahasa menjadi medium istimewa yang melaluinya sebuah makna diproduksi. Bahasa beroperasi sebagai simbol yang mengartikan atau merepresentasikan makna yang ingin dikomunikasikan oleh pelakunya, atau dalam istilah yang dipakai Stuart Hall untuk menyatakan hal ini, fungsi bahasa adalah sebagai tanda.[3] Tanda mengartikan atau merepresentasikan (menggambarkan) konsep-konsep, gagasan atau perasaan sedemikian rupa yang memungkinkan seseorang ‘membaca’, men-decode atau menginterpretasikan maknanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan tanda ini secara lebih serius terangkum dalam satu disiplin yang disebut sebagai semiologi atau semiotik. Terobosan penting pada disiplin ini adalah diterimanya linguistik sebagai model beserta penerapan konsep-konsepnya dalam fenomena lain yang bukan hanya bahasa; dan dalam pendekatan ini lantas disebut sebagai teks. Salah seorang founding fathers semiologi, Ferdinand de Saussure, menyatakan bahasa sebagai sistem tanda yang mengekspresikan gagasan-gagasan: Language is a system of signs that express ideas, and is therefore comparable to a system of writing, the alphabet of deaf – mutes, symbolic rites, polite formulas, military signals, etc. but is the most important of all these systems.[4]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu makna diproduksi dari konsep-konsep dalam pikiran seorang pemberi makna melalui bahasa. Representasi merupakan hubungan antara konsep-konsep dan bahasa yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Dengan cara pandang seperti itu, Hall memetakan sistem representasi ke dalam dua bagian utama, yakni mental representations dan bahasa.[5] Mental representations bersifat subyektif, individual; masing-masing orang memiliki perbedaan dalam mengorganisasikan dan mengklasifikasikan konsep-konsep sekaligus menetapkan hubungan diantara semua itu. Sedangkan bahasa menjadi bagian sistem representasi karena pertukaran makna tidak mungkin terjadi ketika tidak ada akses terhadap bahasa bersama. Istilah umum yang seringkali digunakan untuk kata, suara, atau kesan yang membawa makna adalah tanda (sign).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mungkin menjadi lebih menarik untuk menghubungkan persoalan representasi ini ke dalam fenomena bahasa media. Dalam relasi antara media dan ‘pembaca’-nya, pertama kali harus dipahami bahwa awak media adalah subyek yang mempunyai mental representation tersendiri yang tidak selalu sama dengan pembacanya. Adanya keniscayaan subyektif dari bahasa media tak urung menyajikan kerumitan tersendiri seperti seperti halnya adanya bias kepentingan dari media yang bersangkutan. Lebih lanjut, disadari atau tidak persoalan kepentingan ini seringkali mewakili gambaran ideologis dari pelaku representasi alis media. Lagi-lagi gambaran ini bersifat subyektif, artinya proses pembacaan terhadap bahasa media sama artinya dengan negosiasi antara mental representation pelaku representasi dan mental representation pembacanya. Dengan demikian diskusi mengenai bagaimana makna dari representasi atau teks media pada dasarnya merupakan pelacakan terhadap mental representation yang terkandung dalam awak media, yang kali ini dapat diklaim sebagai perwujudan media itu sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Semiotika dan Komunikasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekadar untuk sebuah cara memulai pemahaman, komunikasi melibatkan tanda dan kode. Tanda adalah material atau tindakan yang menunjuk pada ‘sesuatu’, sementara kode adalah sistem di mana tanda-tanda diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda dihubungkan dengan yang lain. Pada tulisan ini pemahaman tentang komunikasi diadopsi dari definisi yang dikemukakan oleh John Fiske, yakni komunikasi sebagai “interaksi sosial melalui pesan”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terdapatnya banyak definisi komunikasi tidak mungkin untuk dibahas terlalu jauh dalam tulisan ini. Ringkasnya, cukuplah dikatakan bahwa pada dasarnya studi komunikasi merefleksikan dua aliran utama, yakni aliran proses dan aliran semiotik.[6] Pada aliran pertama, basis pengertiannya cenderung linear, seperti halnya definisi komunikasi yang menyatakan bahwa ‘komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan.’ Aliran ini memberi perhatian utama pada bagaimana sender mentransmisikan pesan kepada receiver melalui channel. Model Laswellian seringkali menjadi rujukan utama (rumus SMCRE: Source, Messages, Channel, Receiver, dan Effect) untuk menggambarkan bagaimana komunikasi berlangsung. Dalam aliran proses, efisiensi dan akurasi seringkali mendapat perhatian penting, sehingga ketika efektivitas komunikasi dinilai kurang atau gagal maka pemeriksaan akan segera dilakukan pada elemen-elemen proses itu untuk menemukan letak kegagalan dan kemudian memperbaikinya. Pendekatan ini terlihat mekanistik, karena berupaya menyederhanakan komunikasi dalam suatu model yang secara pasti dapat ditengarai dan dilucuti satu persatu unsur-unsurnya tanpa terlalu memperhitungkan bagaimana memntingkan makna-makna yang bersifat subyektif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbeda halnya dengan tradisi pertama, perpektif kedua memandang komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna (productions and exchange of meaning). Pandangan ini memperhatikan bagaimana pesan berhubungan dengan penerimanya untuk memproduksi makna. Jika aliran proses memperlihatkan penguasaan makna pada sumber atau pengirim pesan, aliran semiotik justru membalik peran penguasaan makna kepada penerima pesan. Penerima pesan mempunyai otoritas mutlak untuk menentukan makna-makna yang ia terima dari pesan, sehingga peran sender cenderung terabaikan. Demikian juga, apa yang disebut sebagai pesan (message) pada paradigma ini seringkali disebut sebagai teks. Dalam kaitannya dengan produk media, seluruh pesan media dalam bentuk tulisan, visual, audio, bahkan audiovisual sekalipun akan dianggap sebagai teks. Jangkauan pemaknaan akan sangat tergantung pada pengalaman budaya dari receiver, yang dalam paradigma semiotik disebut sebagai ‘pembaca’ (reader). Tradisi semiotika tidak pernah menganggap terdapatnya kegagalan pemaknaan, karena setiap ‘pembaca’ mempunyai pengalaman budaya yang relatif berbeda, sehingga pemaknaan diserahkan kepada pembaca. Dengan demikian istilah kegagalan komunikasi (communication failure) tidak pernah berlaku dalam tradisi ini, karena setiap orang berhak memaknai teks dengan cara yang berbeda. Maka makna menjadi sebuah pengertian yang cair, tergantung pada frame budaya pembacanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menilik sejarahnya, tradisi semiotika berkembang dari dua tokoh utama: Charles Sanders Peirce mewakili tradisi Amerika dan Ferdinand de Saussure mewakili tradisi Eropa. Keduanya tidak pernah bertemu sama sekali, sehingga kendati keduanya sering disebut mempunyai kemiripan gagasan, penerapan konsep-konsep dari masing-masing keduanya seringkali mempunyai perbedaan penting. Barangkali karena keduanya berangkat dari disiplin yang berbeda; Peirce adalah seorang guru besar filsafat dan logika, sementara Saussure adalah seorang ahli linguistik.[7] Istilah semiotika sendiri diperkenalkan oleh Peirce, sedangkan Saussure menamai pemikirannya dengan istilah semiologi. Dalam praktik analisis kedua istilah itu seringkali dipertukarkan tanpa membedakan artinya. Paling jauh, penggunaannya hanya untuk menunjuk salah satu mahzab yang dianut, meski untuk era sekarang barangkali sudah tidak jelas lagi model mana yang dijadikan model utama karena kadangkala konsep-konsep dari kedua tokoh itu terlanjur dipakai bersama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pusat perhatian semiotika pada kajian komunikasi adalah menggali apa yang tersembunyi di balik bahasa. Terobosan penting dalam semiotika adalah digunakannya linguistik (mungkin ini lebih terasa beraroma Saussurean) sebagai model untuk diterapkan pada fenomena lain di luar bahasa. Saussure mendefinisikan semiotika sebagai “ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial”.[8] Tanda merupakan istilah yang sangat penting, yang terdiri atas penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda mewakili elemen bentuk atau isi, sementara petanda mewakili elemen konsep atau makna. Keduanya merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan sebagaimana layaknya dua bidang pada sekeping mata uang. Kesatuan antara penanda dan petanda itulah yang disebut sebagai tanda. Pengaturan makna atas sebuah tanda dimungkinkan oleh adanya konvensi sosial di kalangan komunitas bahasa. Suatu kata mempunyai makna tertentu karena adanya kesepakatan bersama dalam komunitas bahasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Tanda’ dan ‘hubungan’ kemudian menjadi kata-kata kunci dalam analisis semiotika. Bahasa dilucuti strukturnya dan dianalisis dengan cara mempertalikan penggunaannya beserta latar belakang penggunaaan bahasa itu. Usaha-usaha menggali makna teks harus dihubungkan dengan aspek-aspek lain di luar bahasa itu sendiri atau sering juga disebut sebagai konteks. Teks dan konteks menjadi dua kata yang tak terpisahkan, keduanya berkelindan membentuk makna. Konteks menjadi penting dalam interpretasi, yang keberadaannnya dapat dipilah menjadi dua, yakni intratekstualitas dan intertekstulaitas. Intratekstualitas menunjuk pada tanda-tanda lain dalam teks, sehingga produki makna bergantung pada bagaimana hubungan antartanda dalam sebuah teks. Sementara intertekstualitas menunjuk pada hubungan antarteks alias teks yang satu dengan teks yang lain. Makna seringkali tidak dapat dipahami kecuali dengan menghubungkan teks yang satu dengan teks yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengkajian tentang konteks dalam pemaknaan barangkali merupakan sebuah kerja yang menarik. Bukan saja karena dimensi kontekstual yang berbeda akan melahirkan makna yang berbeda; melainkan juga bahwa sebuah analisis semiotika akan mampu menggali hal-hal yang sifatnya subtle dari penggunaan bahasa seperti halnya tentang seperangkat nilai atau bahkan ideologi yang tersembunyi di balik penggunaan bahasa. Pada tingkat ini, semiotika seringkali ditunjuk sebagai model awal dari analisis yang mampu menampilkan bekerjanya ideologi dalam teks.[9] Terdapat banyak varian pengertian ideologi, meski secara singkat dapat dapat dimengerti bahwa ideologi menunjuk pada serangkaian ide yang menyusun realitas kelompok, sebuah sistem representasi atau kode yang menentukan bagaimana sesorang menggambarkan dunia atau lingkungannya. Varian lain dapat pula diambil dari Marxisme klasik menggambarkan ideologi sebagai kesadaran palsu (false conciousness) yang diabadikan oleh kekuatan-kekuatan dominan dalam masyarakat.[10] Pengertian lain dapat pula diambil dari pos-Marxisme yang menjadi cikal bakal teori kritis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teoritisi kritis kontemporer cenderung percaya bahwa sekarang ini tidak lagi terdapat ideologi tunggal yang bermain dalam masyarakat. Ideologi bukan sesuatu yang pejal, rigit dan diperjuangkan dalam situasi heroik sehingga seakan terpisah dari sistem sosial masyarakat. Dalam pandangan terotisi kritis, ideologi justru melekat dalam seluruh proses sosial dan kultural, dan bahasa menjadi ciri terpenting bagi bekerjanya sebuah ideologi. Ideologi bergerak melalui bahasa, sehingga apa yang nampak dari struktur bahasa diandaikan sebagai struktur dari masyarakat yang mewadahi sebuah idelogi tertentu. Ambillah misalnya pendapat seorang penganut Marxis terkenal, Louis Althusser, yang menyatakan bahwa ideologi tampil dalam struktur masyarakat dan timbul dalam praktik nyata yang dilakukan oleh beragam institusi dalam masyarakat.[11] Pemikiran Althusser ini mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme, terutama atas pandangan yang mengatakan bahwa esensi ideologi dapat ditengarai melalui struktur bahasa. Ideologi bermain di belakang penetapan representasi. Pemaknaan ideologis dimulai dengan memahami bagaimana bekerjanya sistem bahasa dalam struktur sosial. Kombinasi dan disposisi menjadi kata-kata kunci untuk mengurai sejauh mana ideologi bermain dalam bahasa, sehingga untuk membongkar bahasa ideologis maka sebuah representasi harus dibongkar terlebih dahulu strukturnya, kemudian makna dipertalikan dengan keberadaan struktur sosial yang melandasi penggunaan struktur bahasa (prinsip intertekstualitas)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu saja tak ada yang benar-benar obyektif di sini, kita tidak dapat mengatakan bahwa pembongkaran terhadap struktur bahasa beserta temuan ideologi dalam bahasa merupakan jaminan terhadap kepastian akhir suatu ideologi. Berubahnya struktur boleh jadi akan mengubah makna ideologis, karena dalam term Althuserrian ideologi ditentukan oleh strukturnya.[12] Sehingga ideologi merupakan realitas subyektif yang hadir di masyarakat, lentur, cair dan siap berubah. Ideologi hadir dalam tiap orang sebagai sesuatu yang sifatnya halus dan seringkali tidak disadari, sehingga ideologi tidak lagi dipandang dalam tradisi Marxisme klasik yang mengatakannya sebagai kesadaran palsu (false conciousness). Ini yang kemudian membedakan pengertian ideologi antara Marx dan Althusser. Tokoh terakhir ini justru memaknai ideologi sebagai ketidaksadaran yang begitu mendalam (profoundly unconciousness) yang praktiknya dalam diri manusia berlnagsung dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, Althusser melihat bahwa ideologi seringkali disebarkan oleh struktur sosial seperti yang ia sebut sebagai ideological state apparatus (ISA) dan reppresive state apparatus (RSA). Melalui gagasannya ini Althusser hendak mengatakan bahwa seluruh lembaga sosial dan politik terlibat punya andil dalam penyebaran ideologi dan dominasi distribusi makna. Melalui Althusser, sebuah model analisis struktural (semiotika maupun wacana) dapat dikembangkan pada penglihatan pada bagimana bekerjanya hubungan kekuasaan antar struktur masyarakat, yang, tentu saja sebatas penggunaannya pada bahasa. Media, sebagai bagian struktur yang berurusan dengan bahasa seringkali ditunjuk sebagai biang keladi dari penyebar ideologi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Analisis Mitos: Sebuah Perangkat Kajian Semiotika&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Analisis kritis media berupaya mempertautkan hubungan antara media massa dan keberadaan struktur sosial. Analisis kritis menguji kandungan-kandungan pesan media, bagaimana teks/bahasa media dikaji, dan bagaimana makna yang dapat dimunculkan dari teks. Bagian berikut akan sedikit mengetengahkan gagasan-gagasan semiotis yang dikemukakan oleh seorang penganut Saussure dari Perancis, Roland Barthes. Gagasan-gagasannya memberi gambaran yang luas mengenai media kontemporer. Boleh jadi Barthes merupakan orang terpenting kedua dalam tradisi semiotika Eropa setelah Saussure. Melalui sejumlah karyanya ia tidak hanya melanjutkan pemikiran Saussure tentang hubungan bahasa dan makna, pemikirannya justru melampaui Saussure terutama ketika ia menggambarkan tentang makna ideologis dari bahasa yang ia ketengahkan sebagai mitos.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika mempertimbangkan sebuah berita atau laporan, akan menjadi jelas bahwa tanda linguistik, visual dan jenis tanda lain mengenai bagaimana berita itu direpresentasikan (seperti tata letak / lay out, rubrikasi, dsb) tidaklah sesederhana mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga menciptakan tingkat konotasi yang dilampirkan pada tanda. Barthes menyebut fenomena ini – membawa tanda dan konotasinya untuk membagi pesan tertentu– sebagai penciptaan mitos.[13] Pengertian mitos di sini tidaklah menunjuk pada mitologi dalam pengertian sehari-hari –seperti halnya cerita-cerita tradisional– melainkan sebuah cara pemaknaan; dalam bahasa Barthes: tipe wicara.[14] Pada dasarnya semua hal dapat menjadi mitos; satu mitos timbul untuk sementara waktu dan tenggelam untuk waktu yang lain karena digantikan oleh pelbagai mitos lain. Mitos menjadi pegangan atas tanda-tanda yang hadir dan menciptakan fungsinya sebagai penanda pada tingkatan yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mitos oleh karenanya bukanlah tanda yang tak berdosa, netral; melainkan menjadi penanda untuk memainkan pesan-pesan tertentu yang boleh jadi berbeda sama sekali dengan makna asalnya. Kendati demikian, kandungan makna mitologis tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang salah (‘mitos’ diperlawankan dengan ‘kebenaran’); cukuplah dikatakan bahwa praktik penandaan seringkali memproduksi mitos. Produksi mitos dalam teks membantu pembaca untuk menggambarkan situasi sosial budaya, mungkin juga politik yang ada disekelilingnya. Bagaimanapun mitos juga mempunyai dimensi tambahan yang disebut naturalisasi. Melaluinya sistem makna menjadi masuk akal dan diterima apa adanya pada suatu masa, dan mungkin tidak untuk masa yang lain.[15]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemikiran Barthes tentang mitos nampaknya masih melanjutkan apa yang diandaikan Saussure tentang hubungan bahasa dan makna atau antara penanda dan petanda. Tetapi yang dilakukan Barthes sesungguhnya melampaui apa yang lakukan Saussure. Bagi Barthes, mitos bermain pada wilayah pertandaan tingkat kedua atau pada tingkat konotasi bahasa. Jika Sauusure mengatakan bahwa makna adalah apa yang didenotasikan oleh tanda, Barthes menambah pengertian ini menjadi makna pada tingkat konotasi. Konotasi bagi Barthes justru mendenotasikan sesuatu hal yang ia nyatakan sebagai mitos, dan mitos ini mempunyai konotasi terhadap ideologi tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanda konotatif tidak hanya memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Tambahan ini merupakan sumbangan Barthes yang amat berharga atas penyempurnaannya terhadap semiologi Sausure, yang hanya berhenti pada penandaan pada lapis pertama atau pada tataran denotatif semata. Dengan membuka wilayah pemaknaan konotatif ini, ‘pembaca’ teks dapat memahami penggunaan gaya bahasa kiasan dan metafora yang itu tidak mungkin dapat dilakukan pada level denotatif.[16] Lebih dari itu, di samping gagasannya dapat dimanfaatkan untuk menganalisis media, semiotika konotasi ala Barthesian ini memungkinkan penggunaannya untuk wilayah-wilayah lain seperti pembacaan terhadap karya sastra dan fenomena budaya kontemporer atau budaya pop. Bahkan dalam pandangan Ritzer, Barthes adalah pengembang utama ide-ide Saussure pada semua aspek kehidupan sosial.[17] Bagi Barthes, semiologi bertujuan untuk memahami sistem tanda, apapun substansi dan limitnya, sehingga seluruh fenomena sosial yang ada dapat ditafsirkan sebagai ‘tanda’ alias layak dianggap sebagai sebuah lingkaran linguistik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penanda-penanda konotasi, yang dapat disebut sebagai konotator, terbentuk dari tanda-tanda (kesatuan penanda dan petanda) dari sistem yang bersangkutan. Beberapa tanda boleh jadi secara berkelompok membentuk sebuah konotator tunggal, asalkan yang disebut terakhir tadi memiliki sebuah petanda konotator tunggal. Dengan kata lain, satuan-satuan dari sistem terkonotasi tidak mesti memiliki ukuran yang sama dengan sistem yang tertandakan: fragmen-fragmen besar dari diskursus yang bersangkutan dapat membentuk sebuah satuan sistem terkonotasi tunggal. Sebagai contoh, misalnya, dengan melihat suatu teks, yang tersusun dari sejumlah banyak kata, namun makna umum dari itu merujuk pada sebuah petanda tunggal). Bagaimanapun caranya ia dapat menutup pesan yang ditunjukkan, konotasi tidak menghabiskannya: selalu saja tertinggal ‘sesuatu yang tertunjukkan’ (jika tidak diskursus menjadi tidak mungkin sama sekali) dan konotator-konotator selalu berada dalam analisa tanda-tanda yang diskontinyu dan tercerai-berai, dinaturalisasi oleh bahasa yang membawanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan untuk petanda konotasi, karakternya umum, global dan tersebar sekaligus menghasilkan fragmen ideologis. Berbagai petanda ini memiliki suatu komunikasi yang amat dekat dengan budaya, pengetahuan, sejarah, dan melalui merekalah, demikian dikatakan, dunia yang melingkunginya menginvasi sistem tersebut. Kita dapat katakan bahwa ideologi adalah suatu form penanda-penanda konotasi, sementara gaya bahasa, majas atau metafora adalah elemen bentuk (form) dari konotator-konotator. Singkatnya, konotasi merupakan aspek bentuk dari tanda, sedangkan mitos adalah muatannya. Penggunaan tanda satu persatu dapat mengurangi kecenderungan “anarkis” penciptaan makna yang tak berkesudahan, di sisi lain, namun keanekaragaman budaya dan perubahan terus-menerus membentuk wilayah petanda konotatif yang bersifat global dan tersebar. Ideologi, secara semiotis, adalah penggunaan makna-makna konotasi tersebut di masyarakat alias makna pada makna tingkat ketiga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara sekilas skema Barthes mengisyaratkan bahwasanya tak ada satu pun aktivitas penggunaan tanda yang bukan ideologi, namun sebenarnya tidak seperti itu. Ideologi, pada hakikatnya, adalah suatu sistem kepercayaan yang dibuat-buat, suatu kesadaran semu yang kemudian mengajak (interpellation) kepada individu-individu untuk menggunakannya sebagai suatu “bahasa” sehingga membentuk orientasi sosialnya dan kemudian berperilaku selaras dengan ideologi tersebut. Apa yang sebenarnya ditunjuknya adalah sebuah himpunan relasi-relasi yang ada, tidak seperti suatu konsep ilmiah, ia tidak menyediakan sebuah alat untuk mengetahuinya. Dalam suatu cara khusus (ideologis), ia menunjukkan beberapa eksistensi, namun tidak memberikan kita esensinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beroperasinya ideologi melalui semiotika mitos ini dapat ditengarai melalui asosiasi yang melekat dalam bahasa konotatif. Barthes mengatakan penggunaan konotasi dalam teks ini sebagai: penciptaan mitos. Ada banyak mitos yang diciptakan media di sekitar kita, misalnya mitos tentang kecantikan, kejantanan, pembagian peran domestik versus peran publik dan banyak lagi. Mitos ini bermain dalam tingkat bahasa yang oleh Barthes disebutnya ‘adibahasa’ (meta-language).[18] Penanda konotatif menyodorkan makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.[19] Dibukanya medan pemaknaan konotatif ini memungkinkan pembaca memakanai bahasa metafor atau majazi yang makanya hanya dapat dipahami pada tataran konotatif. Dalam mitos, hubungan antara penanda dan petanda terjadi secara termotivasi. Pada level denotasi, sebuah penanda tidak menampilkan makna (petanda) yang termotivasi. Motivasi makna justru berlangsung pada level konotasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Barthes menyatakan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi juga, karena mitos ini toh merupakan sebuah pesan juga. Ia menyatakan mitos sebagai “modus pertandaan, sebuah bentuk, sebuah “tipe wicara” yang dibawa melalui wacana. Mitos tidaklah dapat digambarkan melalui obyek pesannya, melainkan melalui cara pesan tersebut disampaikan.[20] Apapun dapat menjadi mitos, tergantung dari caranya ditekstualisasikan. Dalam narasi berita, pembaca dapat memaknai mitos ini melalui konotasi yang dimainkan oleh narasi. Pembaca yang jeli dapat menemukan adanya asosiasi-asosiasi terhadap ‘apa’ dan ‘siapa’ yang sedang dibicarakan sehingga terjadi pelipatgandaan makna. Penanda bahasa konotatif membantu untuk menyodorkan makna baru yang melampaui makna asalnya atau dari makna denotasinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sering dikatakan bahwa ideologi bersembunyi di balik mitos. Ungkapan ini ada benarnya, suatu mitos menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam ketidaksadaran representator. Ketidaksadaran adalah sebentuk kerja ideologis yang memainkan peran dalam tiap representasi. Mungkin ini bernada paradoks, karena suatu tekstualisasi tentu dilakukan secara sadar, yang dibarengi dengan ketidaksadaran tentang adanya sebuah dunia lain yang sifatnya lebih imaginer. Sebagaimana halnya mitos, ideologi pun tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak mitos, ada banyak ideologi; kehadirannya tidak selalu kontintu di dalam teks. Mekanisme kerja mitos dalam suatu ideologi adalah apa yang disebut Barthes sebagai naturalisasi sejarah. Suatu mitos akan menampilkan gambaran dunia yang seolah terberi begitu saja alias alamiah. Nilai ideologis dari mitos muncul ketika mitos tersebut menyediakan fungsinya untuk mengungkap dan membenarkan nilai-nilai dominan yang ada dalam masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ideologi berbeda dengan konsep sains, dan lebih berbeda lagi dengan kesadaran iluminatif. Kesadaran iluminatif berada pada tingkat kesadaran diri yang merembes dari pengertian sesorang akan nilai kegamaan melalui kitab suci (nilai batiniah), sementara kesadaran ideologis dalam term Barthes berada pada tingkat kesadaran psikis, atau lebih tepatnya lagi di wilayah ego yang merupakan sistem representasi berupa image yang mengkonstruksi kesadaran yang sifatnya semu. Artikulasi mendasar dari proses ideologis tidak dari proyeksi kesadaran yang teralienasi ke dalam berbagai superstruktur, namun dalam generalisasi pada seluruh tingkatan dari suatu kode struktural. Maka ideologi bukanlah suatu tipuan misterius dari kesadaran; ia adalah suatu logika sosial yang disubstitusikan untuk lainnya (dan yang menyelesaikan kontradiksi yang sebelumnya), sehingga mengubah definisi dari nilai itu sendiri. Ideologi bekerja ibarat sihir dari kode yang membentuk “dasar dominasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teori Barthes tentang mitos/ideologi memungkinkan seoarng pembaca atau analis untuk mengkaji ideologi secara sinkronik maupun diakronik. Secara sinkronik, makna terantuk pada suatu titik sejarah dan seolah berhenti di situ, oleh karenanya penggalian pola-pola tersembunyi yang menyertai teks menjadi lebih mungkin dilakukan. Pola tersembunyi ini boleh jadi berupa pola oposisi, atau semacam skema pikir pelaku bahasa dalam representasi.[21] Sementara secara diakronik analisis Barthes memungkinkan untuk melihat kapan, di mana dan dalam lingkungan apa sebuah sistem mitis digunakan. Mitos yang dipilih dapat diadopsi dari masa lampau yang sudah jauh dari dunia pembaca, namun juga dapat dilihat dari mitos kemrin sore yang akan menjadi “founding prospective history”.[22] Media seringkali berperilaku seperti itu, mereka merepresentasikan, kalau bukan malah menciptakan mitos-mitos baru yang kini hadir di tengah masyarakat. Untuk yang terakhir ini, penulis berkecenderungan untuk mengatakan bahwa media melakukan proses ‘mitologisasi’, dunia kita sehari-hari digambarkan dalam cara yang penuh makna dan dibuat sebuah pemahaman yang generik bahwa memang begitulah seharusnya dunia. Iklan, berita, fesyen, pertunjukan selebritas adalah dunia kecil yang akrab kita jumpai dan menjadi ikon dari dunia besar: mitos dan ideologi di baliknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemikiran Barthes tentang ideologi seringkali bersinggungan dengan pemikiran Althusser, dan keduanya memang terlihat saling melengkapi. Rupanya Barthes adalah salah seorang mahasiswa Althusser. Kedua orang yang berbeda generasi itu mempunyai minat yang sama: ideologi.[23] Baik Althusser maupun Barthes sepakat bahwa ideologi menjadi tempat di mana orang mengalami subyektivitasnya. Hanya saja, Barthes telah menerapkan teori subyektivitas yang berada di luar jangkauan analisis Althusser. Barthes dapat menjangkau teori subyektivitas melalui konsepnya tentang sistem mitis, di mana dia dapat menjelaskan konsepnya secara lebih skematik. Dan boleh jadi Barthes akan menjadi lebih akrab dengan kita karena apa yang diambilnya seringkali berasal dari dunia yang amat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ideologi menjadi persoalan konsumsi, secara tidak sadar kita melahapnya dalam persoalan keseharian, dan konsumsi pun menjadi bermakna ideologis. Ini yang membedakannya dengan Althusser yang terpancang pada Marxisme klasik dalam melihat hubungan antara negara dan masyarakat sipil, sehingga dalam kerangka kerja Althusser, analisis Barthes mungkin berada di luar jangkauan Althusser tentang ideologi. Barthes tidak seperti itu, apa yang dilihatnya seringkali kita rasakan sebagai sesuatu yang remeh-temeh, justru dapat dimaknai dengan begitu mendalam. Pencarian makna oleh pembaca tidak mandeg, karena selalu saja ada hal-hal baru yang akan muncul dan bermakna. Barthes sesungguhnya hanya memberi tongkat kecil bagi seorang yang rabun untuk dapat menyusuri jalan yang tak rata dan berlobang. Dan kita acapkali menjadi orang rabun itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;*************&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Daftar Pustaka&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Downing, John, Ali Mohammadi &amp;amp; Annabele Srebery-Mohammadi (Eds.), Questioning The Media: A Critical Introdustion, Sage Publication, Newbury Park, California, 1990&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hall, Stuart (Ed.), Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices, Sage Publications, London, 1997.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berger, Arthur Asa, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills, California, 1982.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fiske, John, Introductions to Communication Studies, Routledge, London, 1990.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sujiman, Panuti, &amp;amp; Aart van Zoest (Ed.), Serba-serbi Semiotika, Gramedia, Jakarta, 1991.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amir Piliang, Yasraf, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Littlejohn, Stephen W., Theories of Human Communication, Wardsworth, Belmont, California, 1996.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagus Takwin: “Cuplikan-cuplikan Ideologi”, Jurnal Filsafat Universitas Indonesia Volume I No. 2, Agustus 1999.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bignell, Jonathan, Media Semiotics: An Introduction, Manchester University Press, Manchester and New York, 1997.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Barthes, Roland, Mitologi, (Terj. Nurhadi &amp;amp; Sihabul Millah), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tolson, Andrew, Mediations: Text and Discourse ini Media Studies, Arnold, London, 1996.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Christomy, T., &amp;amp; Untung Yuwono, Semiotika Budaya, Penerbit Pusat Kemasyarakatan dan Budaya UI, Jakarta, 2004.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ritzer, George, Teori Sosial Postmodern (penerj. Muhammad Taufiq), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Strinati, Dominic, An Introduction to Theories of Popular Culure, Routledge, New York, 1995.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Storey, John (Ed.) Cultural Theory and Cultural Culture: A Reader, Harvester Heatsheaf, New York, 1994.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;St. Sunardi, Semiotika Negativa, Buku Baik, Yogyakarta, 2004.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;*********&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1] Staf Pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi UII Yogyakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[2] Alan O.Connor: “Culture and Communication”, dalam John Downing, Ali Mohammadi &amp;amp; Annabele Srebery-Mohammadi (Eds.), Questioning The Media: A Critical Introdustion, Sage Publication, Newbury Park, California, 1990, hal. 29.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[3] Stuart Hall (Ed.), Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices, Sage Publications, London, 1997, hal.5.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[4] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills, California, 1982, hal. 16.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[5] Hall, op. cit., hal. 17.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[6] John Fiske, Introductions to Communication Studies, Routledge, London, 1990, hal 1.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[7] Aart van Zoest: “Interpretasi dan Semiotika” (terj. Okke K.S. Zaimar dan Ida Sundari Husein) dalam Panuti Sujiman dan Aart van Zoest (Ed.), Serba-serbi Semiotika, Gramedia, Jakarta, 1991, hal.1.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[8] Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003, hal. 256.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[9] Dalam hemat penulis, setidaknya terdapat dua model utama dari penelitian yang akrab digunakan untuk melihat bagaimana cara kerja ideologi melalui teks, yakni analisis semiotika dan analisis wacana kritis. Analisis wacana barangkali merupakan kelanjutan dari analisis semiotika, karena secara historis memang lahirnya didahului oleh analisis semiotika. Dalam perkembangannya, analisis wacana memang cenderung untuk mengambil posisi sebagai metode penggali kerja ideologi dan hubungan kekuasaan dalam teks. Kendati demikian, banyak istilah yang secara mendasar diambil dari tradisi semiotika. Dalam beberapa hal, analisis semiotika berkemungkinan untuk menggali ideologi di balik teks, sehingga batas yang tegas antara kedua jenis analisis itu memang agak kabur. Preskripsi sederhana untuk memperlihatkan perbedaan keduanya kira-kira adalah bahwa analisis semiotika berupaya melihat aspek ‘what’ dan ‘how’ dari teks, sementara analisis wacana cenderung kepada menjawab pertanyaan tentang ‘how’dan ‘why’ dari teks.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[10] Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Wardsworth, Belmont, California, 1996, hal. 228.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[11] Ibid., hal. 29.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[12] Bagus Takwin: “Cuplikan-cuplikan Ideologi”, dalam Jurnal Filsafat Universitas Indonesia Volume I No. 2, Agustus 1999.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[13] Jonathan Bignell, Media Semiotics: An Introduction, Manchester University Press, Manchester and New York, 1997, hal 16.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[14] Roland Barthes, Mitologi, (Terj. Nurhadi &amp;amp; Sihabul Millah), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004, hal 152. Lihat juga Roland Barthes: “Myth Today”, dalam John Storey (Ed.), Cultural Theory and Popular Culture: A Reader, Harvester Wheatsheet, New York, 1994, hal. 107.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[15] Andrew Tolson, Mediations: Text and Discourse ini Media Studies, Arnold, London, 1996, hal. 7.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[16] Manneke Budiman: “Semiotika dalam Tafsir Satra: Antara Riffaterre dan Barthes” dalam T. Christomy dan Untung Yuwono, Semiotika Budaya, Penerbit Pusat Kemasyarakatan dan Budaya UI, Jakarta, 2004, hal 255.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[17] George Ritzer, Teori Sosial Postmodern (penerj. Muhammad Taufiq), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[18] Dominic Strinati, An Introduction to Theories of Popular Culure, Routledge, New York, 1995, hal. 113.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[19] Budiman, op.cit., hal. 255.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[20] Ibid., hal. 112. Lihat juga Roland Barthes: “Myth Today” dalam John Storey (Ed.) Cultural Theory and Cultural Culture: A Reader, Harvester Heatsheaf, New York, 1994, hal. 107.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[21] Berger, op.cit., hal. 30.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[22] St. Sunardi, Semiotika Negativa, Buku Baik, Yogyakarta, 2004, hal. 116.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[23] Ibid., hal. 126.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;http://abunavis.wordpress.com/2007/12/31/mitos-dan-bahasa-media-mengenal-semiotika-roland-barthes/&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2178983062863137923?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2178983062863137923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2178983062863137923' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2178983062863137923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2178983062863137923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2010/07/mitos-dan-bahasa-media.html' title='Mitos dan Bahasa Media'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3595477244746949489</id><published>2010-07-22T19:56:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T19:58:00.810-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Semiotika'/><title type='text'>Teori-teori Semiotika</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Teori-teori Semiotika, Sebuah Pengantar&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;C.S PEIRCE&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img class="aligncenter" src="http://i903.photobucket.com/albums/ac233/fisip08/peirce1.jpg" alt="" height="237" width="470" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat)&lt;/a&gt;. Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Contoh:  Saat seorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasi mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian.  Begitu pula ketika Nadia Saphira muncul di film Coklat Strowberi dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai icon wanita muda cantik dan menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-259"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FERDINAND DE SAUSSURE&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.&lt;br /&gt;&lt;img class="aligncenter" src="http://i903.photobucket.com/albums/ac233/fisip08/saussure1.jpg" alt="" height="243" width="485" /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut “referent”. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai “objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata “anjing” (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah, menurut Saussure, “Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari sehelai kertas.” (Sobur, 2006).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;ROLAND BARTHES&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img class="aligncenter" src="http://i903.photobucket.com/albums/ac233/fisip08/barthes1.jpg" alt="" height="262" width="478" /&gt;Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;BAUDRILLARD&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebuah iklan menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin, seketika pria tersebut memiliki energi yang luar biasa, mampu mengerek sebuah truk, tentu hanya ‘mengada-ada’. Karena, mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat luar biasa. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas sehari-hari agar tidak mudah capek. Namun, cerita iklan dibuat ‘luar biasa’ agar konsumen percaya. Inilah tipuan realitas atau hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. Barangkali kita masih teringat dengan pengalaman masa kecil (entah sekarang masih ada atau sudah lenyap) di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah ‘direkayasa’ agar terlihat benar-benar manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramai-ramai membeli obatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;JACQUES DERRIDA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksi-nya. Dekonstruksi, menurut Derrida, adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi –yang dimulai dengan konsep demistifikasi, pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified). Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung artikulasi lain (Subangun, 1994 dalam Sobur, 2006: 100). Dekonstruksi, pertama sekali, adalah usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa sebagai medannya. Dengan demikian, yang semula pusat, fondasi, prinsip, diplesetkan sehingga berada di pinggir, tidak lagi fondasi, dan tidak lagi prinsip. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak hal. Ke-gothic-annya bisa merefleksikan ideologi abad pertengahan yang dikenal sebagai abad kegelapan. Seseorang bisa menafsirkan bahwa ajaran yang dihantarkan dalam gereja tersebut cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari moral-moral keagamaan yang seharusnya, misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau mistis di altar gereja, dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, Ke-gothic-an itu juga dapat ditafsirkan sebagai ‘klasik’ yang menandakan kemurnian dan kemuliaan ajarannya. Sesuatu yang klasik biasanya dianggap bernilai tinggi, ‘berpengalaman’, teruji zaman, sehingga lebih dipercaya daripada sesuatu yang sifatnya temporer.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di lain pihak, bentuk gereja yang menjulang langsing ke langit bisa ditafsirkan sebagai ‘fokus ke atas’ yang memiliki nilai spiritual yang amat tinggi. Gereja tersebut menawarkan kekhidmatan yang indah yang ‘mempertemukan’ jemaat dan Tuhan-nya secara khusuk, semata-mata demi Tuhan. Sebuah persembahan jiwa yang utuh dan istimewa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna dan ideologi baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat menyingkirkan (“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa henti hingga menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbeda dari Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas, Derrida lebih melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi yang membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar melalui teknik dekonstruksi. Namun, baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik tanda tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;UMBERTO ECO&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Stephen W. Littlejohn (1996) menyebut Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan kontemporer. Menurut Littlejohn, teori Eco penting karena ia mengintegrasikan teori-teori semiotika sebelumnya dan membawa semiotika secara lebih mendalam (Sobur, 2006).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Eco menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan, dan ingin memusatkan perhatian pada modifikasi sistem tanda. Eco kemudian mengubah konsep tanda menjadi konsep fungsi tanda. Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean”. Eco menggunakan “kode-s” untuk menunjukkan kode yang dipakai sesuai struktur bahasa. Tanpa kode, tanda-tanda suara atau grafis tidak memiliki arti apapun, dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Kode-s bisa bersifat “denotatif” (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah), atau “konotatif” (bila tampak kode lain dalam pernyataan yang sama). Penggunaan istilah ini hampir serupa dengan karya Saussure, namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure, di samping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini.&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3595477244746949489?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3595477244746949489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3595477244746949489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3595477244746949489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3595477244746949489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2010/07/teori-teori-semiotika.html' title='Teori-teori Semiotika'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-7688006477528084799</id><published>2009-11-15T23:05:00.001-08:00</published><updated>2009-11-15T23:08:44.534-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasar-Dasar Jurnalistik'/><title type='text'>Teorikomunikasivivinblog.info</title><content type='html'>&lt;a href="http://teorikomunikasi.vivinblog.info/"&gt;teori komunikasi,teori komunikasi,teori komunikasi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-7688006477528084799?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/7688006477528084799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=7688006477528084799' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7688006477528084799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7688006477528084799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/11/teorikomunikasivivinbloginfo.html' title='Teorikomunikasivivinblog.info'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-1068531831315550684</id><published>2009-07-09T21:28:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T21:45:38.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesan verbal dan non verbal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>MENGAPA KITA PERLU BERKOMUNIKASI DENGAN EFEKTIF ?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PADA TINGKAT PRIBADI, MENGAPA KITA HARUS MENJADI KOMUNIKATOR YANG EFEKTIF ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FAKTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;80% Waktu yang kita punya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ke atas, ke bawah atau ke samping, di dalam organisasi kita atau di luar organisasi dengan para client, pelanggan serta unit-unit lain. Karena itu, mengembangkan kemampuan berkomunikasi sangatlah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FAKTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1/3 Kehidupan orang dewasa dihabiskan di tempat kerja dan kemampuan berkomunikasi yang baik yang dikembangkan di tempat kerja akan merambat kepada meningkatnya mutu kehidupan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ingin tim kita meraih sukses, orang-orang di dalam tim harus mampu berbicara satu sama lain dan juga mampu mendengarkan. Inilah kunci keberhasilan sebuah komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Seandainya saya harus menyebutkan&lt;br /&gt;satu saja instrumen kepemimpinan&lt;br /&gt;yang serbaguna, itu adalah...&lt;br /&gt;KOMUNIKASI&lt;br /&gt;(John W Gardner)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Istilah komunikasi: berasal dari bahasa Yunani :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;@. commune (percakapan atau pergaulan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;@. communion (bersama).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Karena itu, tujuan komunikasi adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;untuk membentuk suatu kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunikator (Source / Sumber)&lt;/span&gt; adalah awal mula suatu pesan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunikator&lt;/span&gt; dapat berupa individu atau beberapa individu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunikan (Receiver / penerima)&lt;/span&gt; adalah seseorang Atau sekelompok orang yang menjadi sasaran pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pesan&lt;/span&gt; (message) dapat berupa lambang atau tanda seperti tulisan atau lisan.&lt;br /&gt;Channel adalah saluran yang digunakan dalam penyampaian pesan. Saluran dapat terdiri dari&lt;br /&gt;komunikasi massa (radio, koran, TV, baliho dll) dan komunikasi interpersonal (face to face).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang paling penting dalam sebuah komunikasi ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;EFFEKTIFITAS ataukah EFFISIENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 elemen penting dalam proses komunikasi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. EFFECT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dikatakan effective bila berhasil menimbulkan effect. Pada taraf pertama, effect tersebut berupa perhatian (attention) sedangkan pada taraf akhir, effect yang kita inginkan berupa tercapainya tujuan komunikasi. Effect dapat diketahui dari reaksi arus balik (feedback)&lt;br /&gt;dari komunikan. Effect dapat diukur dengan mengetahui adanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Komunikasi antar persona yang membicarakan message yang diberikan.&lt;br /&gt;2. Partisipasi komunikan secara aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. FEED BACK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Feedback adalah tanggapan dari pihak komunikan atas pesan yang diterima. Hati-ati dengan feedback, jangan sampai salah tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. NOISE.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Noise yaitu faktor-faktor fisik dan non fisik yang dapat menggangu kelancaran proses komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Noise dapat dikelompokkan menjadi 2 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Channel Noise.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gaduh, bising, gema, pengaruh cuaca dll.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Semantic Noise.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesalahpahaman antara komunikator dengan komunikan. Karena itu perlu redudancy dan clearity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses komunikasi akan berjalan baik atau efektif jika terdapat overlaping of interest diantara komunikator dengan komunikan, yakni adanya kesamaan dalam hal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerangka Referensi ( Frame of Reference )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bidang Pengalaman ( Field of Experience )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TUJUAN DAN AKIBAT KOMUNIKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Secara umum akibat ( hasil-impact ) komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;dapat terjadi dalam 3 tahap yakni :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;1. Cognitive Effect (Tahap Kognitif).&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;Tahap menimbulkan kesadaran dan perubahan pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;apa yang diketahui, dipahami dan dipersepsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;2. Affective Effect (Tahap Afektif).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Yaitu tahap pembentukan sikap atau perasaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Berhubungan dengan emosi, sikap atau nilai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;3. Psychomotor Effect (Behavioral Effect atau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Tahap Konatif)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Yaitu tahap pembentukan atau perubahan perilaku / &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMUNIKASI ITU PENTING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan Anda berada di sebuah tim yang para anggotanya tidak pernah saling memberitahu apa yang sedang terjadi. Tentu Anda akan frustasi, karena :&lt;br /&gt;1. Tim menjadi mandeg karena tak seorangpun tahu apa agenda sesungguhnya.&lt;br /&gt;2. Tugas-tugas penting tidak selesai karena setiap orang beranggapan bahwa temannyalah&lt;br /&gt;yang akan menyelesaikan.&lt;br /&gt;3. Sering tidak efisien karena orang-orang menyelesaikan tugas-tugas yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CARA BERKOMUNIKASI PEMIMPIN DENGAN ANGGOTATIM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang baik selalu mengundang, mendengarkan dan mendorong partisipasi.&lt;br /&gt;Cara komunikasi yang harus dipakai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;KONSISTEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;JELAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;SOPAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CARA BERKOMUNIKASI ANGGOTATIM DENGAN PEMIMPIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang baik tidak pernah menginginkan orang-orang yang selalu meng-iya-kan saja. Komunikasi yang diharapkan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;LANGSUNG, JUJUR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;DAN TERBUKA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;DISAMPAIKAN DENGAN RASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;HORMAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CARA BERKOMUNIKASI ANTAR SESAMAANGGOTA TIM.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tim yang sukses para anggotanya harus Selalu berkomunikasi demi kebaikan dan Tujuan bersama.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;BERSIKAPMENDUKUNG.&lt;br /&gt;MEMPRIORITASKAN&lt;br /&gt;YANG SEKARANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CARA BERKOMUNIKASI TIM KEPADA PUBLIK RECEPTIVE.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;RESPONSIVE.&lt;br /&gt;REALISTIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Komunikasi di media massa akan mempunyai efek yang kuat jika ditunjang oleh beberapa kondisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. EKSPOSUR.&lt;br /&gt;2. KREDIBILITAS.&lt;br /&gt;3. KONSONANSI.&lt;br /&gt;4. SIGNIFIKANSI.&lt;br /&gt;5. SENSITIF.&lt;br /&gt;6. SITUASI KRITIS.&lt;br /&gt;7. DUKUNGAN KOMUNIKASI ANTAR PERSONAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMIKIRAN BERSAMA Seberapakah komitmen kita untuk selalu berkomunikasi dengan baik&lt;br /&gt;kepada orang lain ?&lt;br /&gt;Apakah kita mendukung setiap orang, bahkan orang-orang yang bukan teman kita sekalipun ? Apakah kita selalu bersikap terbuka, bahkan pada hal-hal Yang tidak menyenangkan ?&lt;br /&gt;Apakah kita menyimpan dendam pada seseorang dalam tim kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-1068531831315550684?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/1068531831315550684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=1068531831315550684' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1068531831315550684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1068531831315550684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/07/mengapa-kita-perlu-berkomunikasi-dengan.html' title='MENGAPA KITA PERLU BERKOMUNIKASI DENGAN EFEKTIF ?'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2245619771011262716</id><published>2009-07-09T21:19:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T21:28:51.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>KOMUNIKASI EFEKTIF &amp; KONSTRUKTIF (KUNCI MENUJU SUKSES)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Continental Airlines's Story&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Gordon Bethune mengambil alih Continental Airlines di tahun 1994, perusahaan penerbangan itu dalam keadaan parah dan kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun sebelumnya :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;@. Tidak pernah membukukan keuntungan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;@. 10 kali mengalami pergantian pimpinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;@. 2 kali mengalami proses kebangkrutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;@. Nilai saham terus - menerus turun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para konsumen menjauhkan diri Dari penerbangan ini, karena :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Tak pernah tepat waktu.&lt;br /&gt;-Sering salah urus bagasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi buruk seperti ini, mau tidak mau para karyawan terpengaruh. Moral para karyawan sangat rendah. Mereka sering marah- marah satu sama lain. Kerjasama tidak ada. Komunikasi nol.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para karyawan merasa terlalu sering Dibohongi, sehingga tidak percaya Lagi dengan apapun yang dikatakan Pada mereka.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Untuk menyelamatkan Continental Airlines, Bethune sadar bahwa dia harus mengubah budaya perusahaan. Dan kuncinya adalah......... (&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;KOMUNIKASI&lt;/a&gt;) Saat itu Bethune yakin bahwa, Interaksi yang positif bisa membalikkan keadaan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah pertama yang diambil Bethune adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;1. Kebijakan pintu terbuka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pintu kantor management puncak yang semula seperti benteng terkunci dengan pengamanan yang ketat, serta tidak boleh sembarang orang masuk, saat itu Langsung dibuka oleh Bethune.Kebijakan pintu terbuka Ini dilakukan untuk melenyapkan faktor intimidasi dari Atasan pada para bawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Mematahkan birokrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi mulai dibangun Dengan :&lt;br /&gt;-Dipasangnya papan pengumuman di setiap daerah karyawan yang berisi aneka informasi setiap&lt;br /&gt;hari.&lt;br /&gt;-Diterbitkannya buletin bulanan yang dikirimkan ke rumah tiap karyawan.&lt;br /&gt;-Memasang nomor hotline untuk pertanyaan dan informasi yang bisa diakses semua karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diwarnai dengan komunikasi yang positif dan membangun, budaya perusahaan menjadi berubah. Seluruh karyawan adalah tim yang kompak. Mereka Mulai bekerjasama atas dasar saling percaya. Sejak itu, dengan langkah mantab dan pasti, Continental Airlines menjadi perusahaan penerbangan terbaik. Ketika di tahun 1994 perusahaan itu rugi $204 juta. Di tahun 1995 sudah meraup keuntungan $202 juta. Ini semua karena &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMUNIKASI YANG EFEKTIF, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEHAT DAN KONSTRUKTIF&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2245619771011262716?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2245619771011262716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2245619771011262716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2245619771011262716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2245619771011262716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/07/komunikasi-efektif-konstruktif-kunci.html' title='KOMUNIKASI EFEKTIF &amp; KONSTRUKTIF (KUNCI MENUJU SUKSES)'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6737379948474171850</id><published>2009-06-17T19:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T19:16:30.925-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><title type='text'>Psikologi kognitif</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Yunani kuno sd. abad 18&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejarah dari psikologi kognitif berawal pada saat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Plato" title="Plato"&gt;Plato&lt;/a&gt; (428-348SM) dan muridnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aristotle" title="Aristotle" class="mw-redirect"&gt;Aristotle&lt;/a&gt; (384-322SM) memperdebatkan mengenai cara manusia memahami pengetahuan maupun dunia serta alamnya. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Plato" title="Plato"&gt;Plato&lt;/a&gt; berpendapat bahwa manusia memperoleh pengetahuan dengan cara menalar secara logis, aliran ini disebut sebagai rasionalis. Lain halnya dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aristotle" title="Aristotle" class="mw-redirect"&gt;Aristotle&lt;/a&gt; yang menganut paham empiris dan mempercayai bahwa manusia memperoleh pengetahuannya melalui bukti-bukti empiris.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perdebatan ini masih berlangsung seperti pertentangan Rasionalis dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perancis" title="Perancis"&gt;Perancis&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rene_Descartes" title="Rene Descartes"&gt;Rene Descartes&lt;/a&gt; (1596-1650), dan Empiris dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Locke" title="John Locke"&gt;John Locke&lt;/a&gt; (1632-1704), dengan tabularasa-nya. Seorang fisuf &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman" title="Jerman"&gt;Jerman&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant" title="Immanuel Kant"&gt;Immanuel Kant&lt;/a&gt;, pada abad 18 berargumentasi bahwa baik rasionalisme maupun empirisme harus bersinergi dalam membuktikan pengetahuan. Perdebatan ini meletakkan landasan dan mempengaruhi cara berpikir di bidang ilmu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi" title="Psikologi"&gt;psikologi&lt;/a&gt; maupun cabang ilmu lainnya. Saat ini ilmu pengetahun mendasarkan paham empiris untuk pencarian data dan pengolahan dan analisis data menggunakan kerangka pikir rasionalis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Abad_19_dan_20" id="Abad_19_dan_20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Abad 19 dan 20&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wilhelm_Wundt" title="Wilhelm Wundt"&gt;Wilhelm Wundt&lt;/a&gt; (1832-1920)seorang psikolog dari Jerman mengajukan ide untuk mempelajari pengalaman sensori melalui introspeksi. Dalam mempelajari proses perpindahan informasi atau berpikir, maka informasi tersebut harus dibagi dalam struktur berpikir yang lebih kecil. Aliran strukturisme Wundt berfokus pada proses berpikir, namun aliran fungsionalisme berpendapat bahwa bahwa penting bagi manusia untuk tahu apa dan mengapa mereka melakukan sesuatu. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=William_James&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="William James (halaman belum tersedia)"&gt;William James&lt;/a&gt; (1842-1910)seorang pragmatisme-fungsionalisme melontarkan gagasan mengenai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Atensi" title="Atensi"&gt;atensi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadaran" title="Kesadaran"&gt;kesadaran&lt;/a&gt; serta &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi" title="Persepsi"&gt;persepsi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu munculah aliran assosiasi (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Edward_Lee_Thorndike&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Edward Lee Thorndike (halaman belum tersedia)"&gt;Edward Lee Thorndike&lt;/a&gt;, 1874-1949) yang mulai menggunakan stimulus dan diikuti dengan aliran behaviorisme yang memasangkan antara stimulus dan respon dalam proses &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar" title="Belajar"&gt;belajar&lt;/a&gt;. Pendekatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Behaviorisme" title="Behaviorisme"&gt;behaviorisme&lt;/a&gt; radikal yang dibawakan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=B.F._Skinner&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="B.F. Skinner (halaman belum tersedia)"&gt;B.F. Skinner&lt;/a&gt; (1904-1990) menyatakan bahwa semua tingkah laku manusia untuk belajar, perolehan bahasa bahkan penyelesaian masalah dapat dijelaskan dengan penguatan antara stimulus dan respon melalui hadiah dan hukuman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun pendekatan behaviorisme belum dapat menjawab alasan perilaku manusia yang berbeda misalnya melakukan perencanaan, pilihan dan sebagainya. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Edward_Tolman&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Edward Tolman (halaman belum tersedia)"&gt;Edward Tolman&lt;/a&gt; (1886-1959) percaya bahwa semua tingkah laku ditujukan pada suatu tujuan. Menggunakan eksperimen dengan tikus yang mencari makanan dalam &lt;i&gt;maze&lt;/i&gt;, percobaan ini membuktikan bahwa terdapat skema atau peta dalam kognisi tikus. Hal ini membuktikan bahwa tingkah laku melibatkan proses kognisi. Oleh karena itu beberapa pihak mengakui Tolman sebagai Bapak Psikologi Kognitif Modern.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain Tolman, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Albert_Bandura&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Albert Bandura (halaman belum tersedia)"&gt;Albert Bandura&lt;/a&gt; (1925- ) juga mengkritik behaviorisme dengan menyatakan bahwa belajar pun dapat diperoleh melalui lingkungan sosial dari individu. Dalam perolehan bahasa, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Noam_Chomsky" title="Noam Chomsky"&gt;Noam Chomsky&lt;/a&gt; (1928- ) -seorang linguis- juga mengkritik behaviorisme dengan menyatakan bahwa otak manusia dibekali dengan kemampuan untuk mengenali dan memproduksi bahasa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Metode_penelitian_.5B2.5D.5B3.5D" id="Metode_penelitian_.5B2.5D.5B3.5D"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Metode penelitian &lt;sup id="cite_ref-1" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_kognitif#cite_note-1" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;sup id="cite_ref-2" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_kognitif#cite_note-2" title=""&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Penelitian_psikobiologis" id="Penelitian_psikobiologis"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Penelitian psikobiologis&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menggunakan keterkaitan antara aktivitas otak dengan perilaku yang dilakukan atau diamati. Penelitian ini dapat difasilitasi dengan alat-alat yang memberikan bayangan otak (&lt;i&gt;Brain imaging&lt;/i&gt;) dengan menggunakan fMRI, EEG, MRI, PET, NIRS dan lain-lain&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Self_report" id="Self_report"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;i&gt;Self report&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Peserta penelitian memberikan laporan mengenai hal yang mereka alami, rasakan atau ingat berkaitan dengan suatu rangsang tertentu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Eksperimen_laboratorium_terkontrol" id="Eksperimen_laboratorium_terkontrol"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Eksperimen laboratorium terkontrol&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penelitian dilakukan pada tempat dan waktu tertentu dan biasanya telah diatur lingkungan sekitar agar tidak menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Variabel" title="Variabel"&gt;variabel&lt;/a&gt; pengganggu dari proses kognisi yang akan diukur pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eksperimen" title="Eksperimen" class="mw-redirect"&gt;eksperimen&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Waktu_reaksi" id="Waktu_reaksi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Waktu reaksi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menggunakan kecepatan seseorang untuk bereaksi terhadap stimulus tertentu. Hal ini berkaitan dengan waktu pemrosesan dalam berpikir dapat menggambarkan pengaruh stimulus terhadap proses kognisi yang terjadi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Topik_.5B4.5D" id="Topik_.5B4.5D"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Topik &lt;sup id="cite_ref-3" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_kognitif#cite_note-3" title=""&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Persepsi_dan_action" id="Persepsi_dan_action"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Persepsi dan &lt;i&gt;action&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: justify; font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Artikel utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi" title="Persepsi"&gt;persepsi&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada topik ini dipelajari bagaimana seseorang mengartikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi" title="Informasi"&gt;informasi&lt;/a&gt; dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indera" title="Indera"&gt;inderanya&lt;/a&gt; untuk membuat dunianya berarti. Perolehan informasi didapatkan karena seseorang beraksi dan tentunya aksinya tersebut akan mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan dunianya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Belajar_dan_ingatan" id="Belajar_dan_ingatan"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Belajar dan ingatan&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: justify; font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Artikel utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ingatan" title="Ingatan"&gt;ingatan&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi psikologi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar" title="Belajar"&gt;belajar&lt;/a&gt; tidak terbatas pada ruang kelas, namun berkaitan dengan perolehan pengetahuan baru, mengembangkan perilaku baru maupun beradaptasi terhadap tantangan yang dihadapinya. Belajar berkaitan erat dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ingatan" title="Ingatan"&gt;ingatan&lt;/a&gt; atau memori karena hasil belajar harus disimpan dalam ingatan atau dalam proses belajar menggunakan ingatan hasil belajar sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Berpikir_dan_penalaran" id="Berpikir_dan_penalaran"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Berpikir dan penalaran&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berpikir" title="Berpikir" class="mw-redirect"&gt;Berpikir&lt;/a&gt; melibatkan manipulasi mental terhadap informasi dengan tujuan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran" title="Penalaran"&gt;menalar&lt;/a&gt;, memecahkan masalah, membuat keputusan dan penilaian atau hanya membayangkan. Disini dilibatkan proses penalaran &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran#deduktif" title="Penalaran"&gt;deduktif&lt;/a&gt; maupun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran#induktif" title="Penalaran"&gt;induktif&lt;/a&gt;. Manusia membuat suatu dugaan (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hipotesa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Hipotesa (halaman belum tersedia)"&gt;hipotesa&lt;/a&gt;) berdasarkan kemampuan berpikirnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Bahasa" id="Bahasa"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Bahasa&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Artikel&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: justify; font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa" title="Bahasa"&gt;Bahasa&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa" title="Bahasa"&gt;Bahasa&lt;/a&gt; yang dimaksudkan disini adalah bahasa yang memiliki kelengkapan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fonem" title="Fonem"&gt;fonem&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fonetik" title="Fonetik"&gt;fonetik&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sintaks" title="Sintaks" class="mw-redirect"&gt;sintaks&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semantik" title="Semantik"&gt;semantik&lt;/a&gt;. Merupakan kemampuan yang rumit dan hanya dimiliki oleh manusia, sehingga interaksi yang dilakukan oleh manusia mencirikan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Melalui bahasa manusia memiliki konsep-konsep yang abstrak seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moral" title="Moral"&gt;moral&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama" title="Agama"&gt;agama&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban" title="Peradaban"&gt;peradaban&lt;/a&gt;, keindahan, penghianatan dan sebagainya. Oleh karena itu perolehan bahasa maupun proses berbahasa dianggap dapat memberikan pemahaman pada proses &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi" title="Kognisi"&gt;kognisi&lt;/a&gt; manusia.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6737379948474171850?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6737379948474171850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6737379948474171850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6737379948474171850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6737379948474171850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/06/psikologi-kognitif.html' title='Psikologi kognitif'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5957706037440942147</id><published>2009-05-05T21:32:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:33:16.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>NEWS PROGRAM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NEWS PROGRAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Buletin (Paket berita) – Berisi rangkaian berita-berita terkini (copy, straight news) –bidang ekonomi, politik, sosial, olahraga, dan sebagainya; lokal, regional, nasional, ataupun internasional. Durasi 30 menit atau lebih.Durasi bisa lebih lama jika diselingi lagu dan “basa-basi” siaran seperti biasa.&lt;br /&gt;2.    News Insert – insert berita.Berisi info aktual berupa Straight News atau Voicer. Durasi 2-5 menit bergantung panjang-pendek dan banyak-tidaknya berita yang disajikan. Biasanya disajikan setiap jam tertentu. Bisa berupa breaking news, disampaikan penyiar secara khusus di sela-sela siaran non-berita.&lt;br /&gt;3.    Majalah Udara — Berisi straight news, wawancara, dialog interaktif, feature pendek, dokumenter, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4.    Talkshow – Dialog interaktif atau wawancara langsung (live interview) di studio dengan narasumber, atau melalui telepon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5957706037440942147?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5957706037440942147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5957706037440942147' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5957706037440942147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5957706037440942147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/news-program.html' title='NEWS PROGRAM'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5321899668087154856</id><published>2009-05-05T21:31:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:32:23.048-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>PRODUK JURNALISTIK RADIO</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PRODUK JURNALISTIK RADIO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Copy – Berita pendek, durasi 15-20 detik. Biasanya berita penting, harus cepat diberitakan, disampaikan di sela-sela siaran (breaking news) atau program reguler insert berita (news insert) tiap menit 00 tiap jam misalnya. Berupa Straight News.&lt;br /&gt;2.    Voicer – Laporan Reporter. Terdiri dari pengantar (cue) penyiar di studio dan laporan reporter di tempat kejadian, termasuk sound bite dan/atau live interview.&lt;br /&gt;3.    Paket. Panjangnya 2-8 menit. Isinya paduan naskah berita, petikan wawancara (soundbite).&lt;br /&gt;4.    Feature. Durasi 10-30 menit. Paduan antara berita, wawancara, ulasan redaksi, musik pendukung, dan rekaman suasana (wildtracking). Membahas tema tertentu yang mengandung unsur human interest. Bisa pula berupa dokumenter (documentary).&lt;br /&gt;5.    Vox Pop. Singkatan dari vox populi (suara rakyat). Berisi rekaman suara opini masyarakat awam tentang suatu masalah atau peristiwa.&lt;br /&gt;Cue: Menjelang Pemilu 2009, sedikitnya sudah 54 partai politik mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM, guna diverifikasi sehingga bisa ikut Pemilu. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang banyaknya parpol tersebut, berikut ini petikan wawancara kami dengan beberapa warga masyarakat:&lt;br /&gt;Sound Bite : 1. “Bagus lah, biar banyak pilihan…” 2. “Saya sih mau golpu aja, gak ada partai yang bagus sih menurut saya mah…” 3. “Saya akan setia pada parpol pilihan saya, tidak akan kepengaruh oleh parpol baru, belum tentu lebih bagus ka…” dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5321899668087154856?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5321899668087154856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5321899668087154856' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5321899668087154856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5321899668087154856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/produk-jurnalistik-radio.html' title='PRODUK JURNALISTIK RADIO'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6787901237059881720</id><published>2009-05-05T21:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:31:35.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>TANDA BACA KHUSUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TANDA BACA KHUSUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Dash. tanda garis pisah (–) untuk sebelum nama atau kata penting atau butuh penekanan.&lt;br /&gt;2.    Punctuation. Tanda Sengkang, yaitu tanda-tanda pemenggalan (-) untuk memudahkan pengucapan singkatan kata yang dieja. M-U-I, B-A-P, W-H-O, P-U-I, dsb&lt;br /&gt;3.    Garis Miring. Jika perlu, gunakan garis miring satu (/) sebagai pengganti koma atau sebagai tanda jeda untuk ambil nafas, garis miring dua (//) untuk ganti titik, dan garis miring tiga (///) untuk akhir naskah.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu 2009/ sedikitnya sudah 54 partai politik/ mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM// Mereka akan diverifikasi untuk ikut Pemilu. Menurut pengamat politik –Arby Sanit/ banyaknya parpol itu menunjukkan animo elite untuk berkuasa masih tinggi///&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6787901237059881720?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6787901237059881720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6787901237059881720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6787901237059881720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6787901237059881720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/tanda-baca-khusus.html' title='TANDA BACA KHUSUS'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-814087526043005426</id><published>2009-05-05T21:29:00.002-07:00</published><updated>2009-05-05T21:30:35.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>TEKNIS PENULISAN: PILIHAN KATA Jurnalistik Radio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEKNIS PENULISAN: PILIHAN KATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Spoken Words. Pilih kata-kata yang biasa diucapkan sehari-hari (spoken words), e.g. jam empat sore (16.00 WIB), 15-ribu rupiah (Rp 15.000), dll.&lt;br /&gt;2.    Sign-Posting. Sebutkan jabatan, gelar, atau keterangan sebelum nama orang. Atribusi/predikat selalu mendahului nama, e.g. Ketua DPR –Agung Laksono— mengatakan…&lt;br /&gt;3.    Stay away from quotes. Jangan gunakan kutipan langsung. Ubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, e.g. Ia mengatakan siap memimpin demo (”Saya siap memimpin demo,” katanya).&lt;br /&gt;4.    Avoid abbreviation. Hindari singkatan atau akronim, tanpa menjelaskan kepanjangannya lebih dulu, e.g. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri –BEM UIN—Bandung menggelar… (Ketua BEM UIN Bandung –Fulan—mengatakan…).&lt;br /&gt;5.    Subtle repetition. Ulangi secara halus fakta-fakta penting seperti pelaku atau nama untuk memudahkan pendengar memahami dan mengikuti alur cerita, e.g. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan… Menurut Presiden…. Kepala Negara juga menegaskan….&lt;br /&gt;6.    Present Tense. Gunakan perspektif hari ini. Untuk unsur waktu gunakan kata-kata “kemarin”, “hari ini”, “besok”, “lusa”, bukan nama-nama hari (Senin s.d. Minggu). Mahasiswa UIN Bandung melakukan aksi demo hari ini… Besok mereka akan melanjutkan aksi protesnya…&lt;br /&gt;7.    Angka. Satu angka (1-9) ditulis pengucapannya. Angka 1 ditulis “satu” dst. Lebih dari satu angka, ditulis angkanya. Angka 25 atau 345 jangan ditulis: duapuluh lima, tigaratus empatpuluh lima. Angka ratusan, ribuan, jutaan, dan milyaran, sebaiknya jangan gunakan nol, tapi ditulis: lima ratus, depalan ribu, 15-juta, 145-milyar.&lt;br /&gt;8.    Mata uang. Ditulis pengucapannya di belakang angka, e.g. 600-ribu rupiah (Rp 600.000), 500-ribu dolar Amerika Serikat (US$ 50.000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-814087526043005426?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/814087526043005426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=814087526043005426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/814087526043005426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/814087526043005426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/teknis-penulisan-pilihan-kata.html' title='TEKNIS PENULISAN: PILIHAN KATA Jurnalistik Radio'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3524865716054357676</id><published>2009-05-05T21:29:00.001-07:00</published><updated>2009-05-05T21:29:38.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>ELEMEN PEMBERITAAN Jurnalistik Radio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ELEMEN PEMBERITAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    News Gathering – pengumpulan bahan berita atau peliputan. Teknik reportase: wawancara, studi literatur, pengamatan langsung.&lt;br /&gt;2.    News Production – penyusunan naskah, penentuan “kutipan wawancara” (sound bite), backsound, efek suara, dll.&lt;br /&gt;3.    News Presentation – penyajian berita.&lt;br /&gt;4.    News Order – urutan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3524865716054357676?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3524865716054357676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3524865716054357676' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3524865716054357676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3524865716054357676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/elemen-pemberitaan-jurnalistik-radio.html' title='ELEMEN PEMBERITAAN Jurnalistik Radio'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2677411987299105483</id><published>2009-05-05T21:27:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:28:38.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>PRINSIP PENULISAN Jurnalistik Radio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PRINSIP PENULISAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    ELF - Easy Listening Formula. Susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama.&lt;br /&gt;2.    KISS - Keep It Simple and Short. Hemat kata, tidak mengumbar kata. Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan tidak rumit. Gunakan sesedikit mungkin kata sifat dan anak kalimat (adjectives).&lt;br /&gt;3.    WTYT - Write The Way You Talk. Tuliskan sebagaimana diucapkan. Menulis untuk “disuarakan”, bukan untuk dibaca.&lt;br /&gt;4.    Satu Kalimat Satu Nafas. Upayakan tidak ada anak kalimat. Sedapat mungkin tiap kalimat bisa disampaikan dalam satu nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2677411987299105483?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2677411987299105483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2677411987299105483' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2677411987299105483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2677411987299105483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/prinsip-penulisan-jurnalistik-radio.html' title='PRINSIP PENULISAN Jurnalistik Radio'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-7753349288534379228</id><published>2009-05-05T21:25:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:26:25.165-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>KARAKTERISTIK Jurnalis Radio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KARAKTERISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Auditif. untuk didengarkan, untuk telinga, untuk dibacakan atau disuarakan.&lt;br /&gt;2.    Spoken Language. Menggunakan bahasa tutur atau kata-kata yang biasa diucapkan dalam obrolan sehari-hari (spoken words). Kata-kata yang dipilih mesti sama dengan kosakata pendengar biar langsung dimengerti.&lt;br /&gt;3.    Sekilas. Tidak bisa diulang. Karenanya harus jelas, sederhana, dan sekali ucap langsung dimengerti.&lt;br /&gt;4.    Global. Tidak detail, tidak rumit. Angka-angka dibulatkan, fakta-fakta diringkaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-7753349288534379228?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/7753349288534379228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=7753349288534379228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7753349288534379228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7753349288534379228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/karakteristik-jurnalis-radio.html' title='KARAKTERISTIK Jurnalis Radio'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3301077936951862024</id><published>2009-05-05T21:23:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T21:24:58.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik Radio'/><title type='text'>DEFINISIJurnalistik radio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DEFINISIJurnalistik radio (radio journalism, broadcast journalism) adalah proses produksi berita dan penyebarluasannya melalui media radio siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalistik radio adalah “bercerita” (storytelling), yakni menceritakan atau menuturkan sebuah peristiwa atau masalah, dengan gaya percakapan (conversational).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3301077936951862024?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3301077936951862024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3301077936951862024' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3301077936951862024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3301077936951862024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/definisijurnalistik-radio.html' title='DEFINISIJurnalistik radio'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-283843080088334348</id><published>2009-05-05T20:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T20:21:59.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasar-Dasar Jurnalistik'/><title type='text'>Produk Utama Jurnalistik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produk Utama Jurnalistik: Berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature.&lt;br /&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/informasi-news-views.html"&gt;Berita&lt;/a&gt; adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap-tahap pembuatannya adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita –aktual, faktual, penting, dan menarik—dengan “mengisi” enam unsur berita 5W+1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Di mana kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-283843080088334348?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/283843080088334348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=283843080088334348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/283843080088334348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/283843080088334348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/produk-utama-jurnalistik.html' title='Produk Utama Jurnalistik'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8414298039978692685</id><published>2009-05-05T20:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T20:19:54.354-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasar-Dasar Jurnalistik'/><title type='text'>Informasi : News &amp; Views</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Informasi : News &amp;amp; Views&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Informasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berita:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) –aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga “informasi terbaru”. Jenis-jenis berita a.l. berita langsung (straight news), berita opini (opinion news), berita investigasi (investigative news), dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Views: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jenis informasi ini a.l. kolom, tajukrencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, dan esai. Ada juga tulisan yang tidak termasuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;berita&lt;/span&gt; juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;news dan views&lt;/span&gt;. Jenis feature yang paling populer adalah feature tips (how to do it feature), feature biografi, feature catatan perjalanan/petualangan, dan feature human interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyusunan Informasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang disajikan sebuah media massa tentu harus dibuat atau disusun dulu. Yang bertugas menyusun informasi adalah bagian redaksi (Editorial Department), yakni para wartawan, mulai dari Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur Desk, Reporter, Fotografer, Koresponden, hingga Kontributor. Pemred hingga Koresponden disebut wartawan. Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UU No. 40/1999&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;wartawan adalah&lt;/span&gt; “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk menjadi wartawan, seseorang harus memenuhi kualifikasi berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1. Menguasai teknik jurnalistik, yaitu skill meliput dan menulis berita, feature, dan tulisan opini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2. Menguasai bidang liputan (beat).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;3. Menguasai dan menaati Kode Etik Jurnalistik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknis pembuatannya terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), meliputi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1. News Planning = perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para wartawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2. News Hunting = pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;3. News Writing = penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;4. News Editing = penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis harus disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keempat proses tadi dilalui, sampailah pada proses berikutnya, yakni proses pracetak berupa Desain Grafis, berupa lay out (tata letak), artistik, pemberian ilustrasi atau foto, desain cover, dll. Setelah itu langsung ke percetakan (printing process).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebarluasan Informasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yakni penyebarluasan informasi yang sudah dikemas dalam bentuk media massa (cetak). Ini tugas bagian marketing atau bagian usaha (Business Department) –sirkulasi/distribusi, promosi, dan iklan. Bagian ini harus menjual media tersebut dan mendapatkan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Media Massa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Media Massa (Mass Media) adalah sarana komunikasi massa (channel of mass communication). Komunikasi massa sendiri artinya proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri (karakteristik) medi massa adalah disebarluaskan kepada khalayak luas (publisitas), pesan atau isinya bersifat umum (universalitas), tetap atau berkala (periodisitas), berkesinambungan (kontinuitas), dan berisi hal-hal baru (aktualitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis media massa adalah Media Massa Cetak (Printed Media), Media Massa Elektronik (Electronic Media), dan Media Online (Cybermedia). Yang termasuk media elektronik adalah radio, televisi, dan film. Sedangkan media cetak –berdasarkan formatnya— terdiri dari koran atau suratkabar, tabloid, newsletter, majalah, buletin, dan buku. Media Online adalah website internet yang berisikan informasi- aktual layaknya media massa cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8414298039978692685?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8414298039978692685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8414298039978692685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8414298039978692685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8414298039978692685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/informasi-news-views.html' title='Informasi : News &amp; Views'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-1358194506454367533</id><published>2009-05-05T20:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T20:11:42.969-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dasar-Dasar Jurnalistik'/><title type='text'>Pengertian Jurnalistik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian Jurnalistik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pengertian istilah jurnalistik dapat ditinjau dari tiga sudut pandang: harfiyah, konseptual, dan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiyah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day). Asal-muasalnya dari bahasa Yunani kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak.&lt;br /&gt;Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik, dan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai proses, jurnalistik adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Kode%20Etik%20Wartawan"&gt;wartawan&lt;/a&gt; (jurnalis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagai teknik, &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Kode%20Etik%20Wartawan"&gt;jurnalistik&lt;/a&gt; adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebagai &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;ilmu&lt;/a&gt;, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa. Dari pengertian kedua ini, kita dapat melihat adanya empat komponen dalam dunia jurnalistik: informasi, penyusunan informasi, penyebarluasan informasi, dan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-1358194506454367533?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/1358194506454367533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=1358194506454367533' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1358194506454367533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1358194506454367533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/pengertian-jurnalistik.html' title='Pengertian Jurnalistik'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6163416425105460156</id><published>2009-05-05T19:47:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T19:50:16.479-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi massa'/><title type='text'>Hubungan Psikologi Sosial dan Psikologi Komunikasi?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;h1 style="text-align: center;" class="subject"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hubungan Psikologi Sosial dan Psikologi Komunikasi?&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;"&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;Psikologi&lt;/a&gt; memandang komunikasi dengan makna yang lebih luas yang meliputi penyampaian energi alat indera ke otak, proses saling pengaruh di antara berbagai sistem organisme dan diantara organisme. Oleh karena itu bila &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;komunikasi didefinisikan&lt;/a&gt; melalui pendekatan/prespektif psikologi akan didapatkan pengertian sebagai berikut : &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;Psikologi&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;adalah proses individu menyampaikan stimulus untuk merubah/mempengaruhi perilaku individu lain-Hovland &amp;amp; Janis. Menurut Aubrey Fisher ada empat pendekatan psikologi pada komunikasi yang meliputi 4 tahapan yaitu : Penerimaan stimuli secara inderawi (sensory reception of stimuli); Proses yang mengantarai stimuli dan respon (internal mediation of stimuli); Prediksi respon (predictions of respon); dan Peneguhan respon (reinforcement of response)"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6163416425105460156?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6163416425105460156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6163416425105460156' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6163416425105460156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6163416425105460156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/hubungan-psikologi-sosial-dan-psikologi.html' title='Hubungan Psikologi Sosial dan Psikologi Komunikasi?'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2819896631910636540</id><published>2009-05-04T01:32:00.001-07:00</published><updated>2009-05-04T01:34:38.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi lintas budaya'/><title type='text'>KOMUNIKASI ANTARA BUDAYA KOREA DAN INDONESIA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-CO"&gt;KOMUNIKASI ANTARA BUDAYA KOREA DAN INDONESIA:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kajian tentang Perilaku Masyarakat Korea dan Jawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kim Geung Seob&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pusat Studi Korea UGM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;I. Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Komunikasi antarbudaya terjadi ketika dua atau lebih orang dengan latar belakang budaya yang berbeda berinteraksi. Proses ini jarang berjalan dengan lancar dan tanpa masalah. Dalam keba­nyakan situasi, para pelaku interaksi antarbudaya tidak menggunakan bahasa yang sama, tetapi bahasa dapat dipelajari dan masalah komunikasi yang lebih besar terjadi dalam area baik verbal maupun nonverbal. Khususnya, komunikasi nonverbal sangat rumit, multidimensional, dan biasanya merupakan proses yang spontan. Orang-orang tidak sadar akan sebagian besar perilaku nonverbalnya sendiri, yang dilakukan tanpa berpikir, spontan, dan tidak sadar (Samovar, Larry A. dan Richard E. Porter, 1994). Kita biasanya tidak menyadari perilaku kita sendiri, maka sangat sulit untuk menandai dan menguasai baik perilaku verbal maupun perilaku non­verbal dalam budaya lain. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kadang-kadang kita merasa tidak nyaman dalam budaya lain karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Khususnya, perilaku nonverbal jarang menjadi fenomena yang disadari, dapat sangat sulit bagi kita untuk mengetahui dengan pasti mengapa kita merasa tidak nyaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pentingnya komunikasi antarbudaya dikarenakan interaksi sosial keseharian ki­ta itu adalah sesuatu yang tak dapat ditolak. Di dalam percakapan biasa antara dua orang terjadi sekitar 35% komponen verbal sedangkan 65% lagi terjadi dalam komponen nonverbal (Ray L. Birdwhistell, 1969). Namun demikian, studi sistematis tentang komuniksi nonverbal telah lama diabaikan. Studi komunikasi secara tradisional menekankan pada penggunaan bahasa itu sendiri tanpa mencakup bentuk-bentuk komuniksi yang lain. Sepertinya telah ada semacam praduga yang tidak beralasan mengenai bidang tersebut. Misalnya, kebanyakan program-program pengajaran bahasa asing se­ring mengabaikan perilaku komunikasi nonverbal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dewasa ini, pengetahuan mengenai kebudayaan-kebudayaan asing, baik itu melalui kontak langsung maupun tidak langsung melalui media massa merupakan peng­alaman umum yang semakin banyak. Namun demikian, ketidaktahuan umum akan adanya perbedaan-perbedaan antara perilaku komunikasi nonverbal mereka sendiri de­ngan perilaku nonverbal kebudayaan asing telah membaut orang awam berpikiran bah­wa gerakan-gerakan tangan dan ekspresi wajah adalah sesuatu yang universal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada kenyataannya, hanya sedikit saja yang mempunyai makna universal khu­sus­nya adalah tertawa, tersenyum, tanda marah, dan menangis. Karena itulah, orang cen­derung beranggapan bahwa bila mereka berada dalam suatu kebudayaan yang berbeda di mana mereka tidak mengerti bahasanya mereka mengira bisa aman dengan sekedar mengetahui gerakan-gerakan manual. Namun karena manusia memiliki peng­alaman hidup yang berbeda di dalam kebudayaan yang berbeda, ia akan menginterpretasikan secara berbeda pula tanda-tanda dan simbol-simbol yang sama (Bennet, Milton J., 1998). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tujuan kajian tentang komunikasi antarbudaya antara Indonesia dan Korea ini adalah untuk mengemukakan hal-hal yang terdapat dalam kehidupan masyarakat di Indonesia dan Korea. Makalah ini tidak hanya menekankan bagaimana orang Indonesia dan Korea berbeda dalam berbicara, tetapi bagaimana mereka bertindak antarorang dan bagaimana mereka mengikuti aturan-aturan terselubung yang mengatur perilaku anggota masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Dimensi Ragam Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Telah dikenal ribuan anekdot mengenai kesalahpahaman akibat komunikasi antarbudaya an­tara orang-orang dari budaya yang berbeda-beda. Karena besarnya jumlah pasangan budaya, dan karena kemungkinan kesalahpahaman berdasarkan bentuk verbal maupun perilaku nonverbal antara tiap pasangan budaya sama besarnya, maka terdapat banyak anekdot mengenai hal-hal tentang antarbudaya yang mungkin dibuat. Yang diperlukan adalah cara untuk mengatur dan memahami banyak­nya masalah yang mungkin timbul dalam komunikasi antarbudaya. Sebagian besar perbedaan dalam komunikasi antarbudaya merupakan hasil dari keragaman dalam dimensi-dimensi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2819896631910636540?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2819896631910636540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2819896631910636540' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2819896631910636540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2819896631910636540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antara-budaya-korea-dan.html' title='KOMUNIKASI ANTARA BUDAYA KOREA DAN INDONESIA'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8263962322163185473</id><published>2009-03-30T17:30:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T17:35:05.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Klasifikasi Metode Penelitian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Klasifikasi Metode Penelitian&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Metode&lt;/span&gt; histories bertujuan merekonstruksi masa lalu secara sistematis dan objektif dengan mengumpulkan, menilai, memverifikasi, dan menyintesiskan bukti untuk menetapkan fakta dan mencapai kongklusi yang dapat di pertahankan, sering kali dalam hubungan hipotesis tertentu (Isaac dan Michael, 1972:17). Misalnya, &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Konsep%20dasar%20penelitian"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;penelitian&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tentang isi buku bacaan pada zaman colonial, riwayat pendirian gerakan Muhammadiyah, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;deskriptif&lt;/a&gt; bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara factual dan cermat (Isaac dan Michael: 18). Contohnya: penelitian jumlah anak putus sekolah di kota bandung tahun 1981, studi pendapat umum, jumlah pembaca majalah tempo di Jakarta dll.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode eksperimental adalah metode penelitian yang memungkinkan peneliti memanipulasi &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;variabel&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan meneliti akibat-akibatnya. Pada metode eksperimental variabel-variabel dikontrol begitu rupa sehingga variabel luar yang mungkin mempengaruhi dapat disingkirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode kuasi-eksperimental digunakan untuk mendekati kondisi ekperimental pada suatu situasi yang tidak memungkinkan manipulasi variabel. Setiap metode ini akan diuraikan secara rinci.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8263962322163185473?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8263962322163185473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8263962322163185473' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8263962322163185473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8263962322163185473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/klasifikasi-metode-penelitian.html' title='Klasifikasi Metode Penelitian'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-7847536319890421185</id><published>2009-03-26T20:08:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T20:13:26.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Agenda-setting theory</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The agenda-setting theory is the theory that the mass-news media have a large influence on  diences by their choice of what stories to consider newsworthy and how much prominence and space to give them. Agenda-setting theory’s central axiom is salience transfer, or the ability of the mass media to transfer importance of items on their mass agendas to the public agendas.&lt;br /&gt;History&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Foundation&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The media agenda is the set of issues addressed by media sources and the public agenda which are issues the public consider important. Agenda-setting theory was introduced in 1972 by Maxwell McCombs and Donald Shaw in their ground breaking study of the role of the media in 1968 presidential campaign in Chapel Hill, North Carolina. The theory explains the correlation between the rate at which media cover a story and the extent that people think that this story is important. This correlation has been shown to occur repeatedly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the dissatisfaction of the magic bullet theory, McCombs and Shaw introduced agenda-setting theory in the Public Opinion Quarterly. The theory was derived from their study that took place in Chapel Hill, NC, where the researchers surveyed 100 undecided voters during the 1968 presidential campaign on what they thought were key issues and measured that against the actual media content. The ranking of issues was almost identical, and the conclusions matched their hypothesis that the mass media positioned the agenda for public opinion by emphasizing specific topics.[4] Subsequent research on agenda-setting theory provided evidence for the cause-and-effect chain of influence being debated by critics in the field.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One particular study made leaps to prove the cause-effect relationship. The study was conducted by Yale researchers, Shanto Iyengar, Mark Peters, and Donald Kinder. The researchers had three groups of subjects fill out questionnaires about their own concerns and then each group watched different evening news programs, each of which emphasized a different issue. After watching the news for four days, the subjects again filled out questionnaires and the issues that they rated as most important matched the issues they viewed on the evening news. The study demonstrated a cause-and-effect relationship between media agenda and public agenda. Since the theory’s conception, more than 350 studies have been performed to test the theory. The theory has evolved beyond the media's influence on the public's perceptions of issue salience to political candidates and corporate reputation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Functions&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The agenda-setting function has multiple components:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Media agenda are issues discussed in the media, such as newspapers, television, and radio.&lt;br /&gt;    * Public agenda are issues discussed and personally relevant to members of the public.&lt;br /&gt;    * Policy agenda are issues that policy makers consider important, such as legislators.&lt;br /&gt;    * Corporate agenda are issues that big business and corporations consider important, including corporations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These four agendas are interrelated. The two basic assumptions underlie most research on agenda-setting are that the press and the media do not reflect reality, they filter and shape it, and the media concentration on a few issues and subjects leads the public to perceive those issues as more important than other issues.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Characteristics&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Research has focused on characteristics of audience, the issues, and the media that might predict variations in the agenda setting effect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Research done by Weaver in 1977 suggested that individuals vary on their need for orientation. Need for orientation is a combination of the individual’s interest in the topic and uncertainty about the issue. The higher levels of interest and uncertainty produce higher levels of need for orientation. So the individual would be considerably likely to be influenced by the media stories (psychological aspect of theory).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Research performed by Zucker in 1978 suggested that an issue is obtrusive if most members of the public have had direct contact with it, and less obtrusive if audience members have not had direct experience. This means that agenda setting results should be strongest for unobtrusive issues because audience members must rely on media for information on these topics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Levels of agenda setting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first-level agenda setting is most traditionally studied by researchers. In this level the media use objects or issues to influence the public. In this level the media suggest what the public should think about (amount of coverage). In second-level agenda setting, the media focuses on the characteristics of the objects or issues. In this level the media suggest how the people should think about the issue. There are two types of attributes: cognitive (subtantative, or topics) and affective (evaluative, or positive, negative, neutral). Intermedia agenda setting involves salience transfer among the media.Coleman and Banning 2006; Lee 2005; Shoemaker &amp;amp; Reese, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usage&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The theory is used in political advertising, political campaigns and debates, business news and corporate reputation, business influence on federal policy, legal systems, trials, role of groups, audience control, public opinion, and public relations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Strengths and weaknesses of theory&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It has explanatory power because it explains why most people prioritize the same issues as important. It also has predictive power because it predicts that if people are exposed to the same media, they will feel the same issues are important. It can be proven false. If people aren’t exposed to the same media, they won’t feel the same issues are important. Its meta-theoretical assumptions are balanced on the scientific side and it lays groundwork for further research. Furthermore, it has organizing power because it helps organize existing knowledge of media effects.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are also limitations, such as media users may not be as ideal as the theory assumes. People may not be well-informed, deeply engaged in public affairs, thoughtful and skeptical. Instead, they may pay only casual and intermittent attention to public affairs and remain ignorant of the details. For people who have made up their minds, the effect is weakened. News media cannot create or conceal problems, they may only alter the awareness, priorities and salience people attached to a set of problems. Research has largely been inconclusive in establishing a causal relationship between public salience and media coverage.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-7847536319890421185?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/7847536319890421185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=7847536319890421185' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7847536319890421185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7847536319890421185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/agenda-setting-theory.html' title='Agenda-setting theory'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-177939214407714966</id><published>2009-03-24T22:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T22:07:47.454-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><title type='text'>Komunikasi adalah pemasaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;Komunikasi&lt;/a&gt; adalah &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;pemasaran&lt;/a&gt; dan sekrang pemasaran adalah&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt; komunikasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menurut Don E.Schultz, Stanley Tannenbaum dan Robert Lauterborn&lt;/span&gt; dalam buku mereka Integrated Marketing Comunication(1994-46) memandang komunikasi pemasaran sebagai kontinum dari mulai tahap perancangan (design) produk, Distribusi, sampai ke kegiatan promosi (melalui iklan, pemasaran langsung dan special Eventge) dan tahap pembelian dan penggunaan di kalangan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menegaskan bahwa pada saat ini 1990-an pemasaran adalah komunikasi (baca marketing communication) dan komunikasi adalah pemasaran. Keduanya tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Promosi menurut shimp, Terrence adalah: Aspek pemasaran umum bahwa managemen promosi berhubungan dengan ekplisitas. Promosi meliputi praktek periklanan, penjualan perorangan, promosi penjualan, publisitas dan point of purchase communication (P-O-P). Point Of Purchase Communication adalah Komunikasi di tempat pembelian. Elemen promosi, termasuk displai, poster, tanda-tanda dan variasi bahan-bahan di toko lainnya, yang di desain untuk mempengaruhi pilihan pelanggan pada saat pembelian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara promosi dengan pemasaran&lt;br /&gt;Promosi, merupakan salah satu kegiatan pemasaran, pada saat kita menyebarkan pesan (Mempromo). Sedangkan pemasaran lebih kepada 2 (dua) arah dimana proses apakah sesuai, perlu adanya feedback dari mendesain nama sampai kepada produk jadi. Selain itu dalam pemasaran juga perlu assessment (penilaian/taksiran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konsep dasar dari marketing communication adalalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Product (Produk)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.Price (Harga)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.Place (Tempat, Distribusi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.Promotion (Promosi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi pemasaran mengenai 4P ini kemudian dijabarkan lagi menjadi beberapa konsep, konsep dasar dari strategi promosi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Promotion Strategy (5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Periklanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semua bentuk penyajian nonpersonal dan promosi ide, barang atau jasa yang dibayar oleh suatu sponsor tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.Promosi Penjualan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.Hubungan masyarakat dan Publisitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berbagai program untuk mempromosikan dan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.Penjualan secara pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan menerima pesanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.Pemasaran langsung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggunaan surat, telepon, faksimili, e-mail, dan alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan tertentu dan calon pelanggan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dengan bertambahnya zaman, persaingan pasar makin ketat, berkembangannya berbagai jenis media baru dan semakin canggihnya konsumen maka Strategi Promosi di rumuskan menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Advertising&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.Consumer sales promotion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.Trade Promotion and Co-marketing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.Packaging, Point-Of-Purchase&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.Personal Selling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.Public Relations&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.Brand Publicity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.Corporate Advertising&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.The internet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.Direct marketing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11.Experiantial Contact: Events, Sponsorship&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;12.Customer Service&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;13.Word of Mouth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENGEMBANGKAN KOMUNIKASI PEMASARAN YANG EFEKTIF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 langkah dalam mengembangkan program komunikasi dan promosi total yang efektif. Komunikator pemasaran harus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Mengidentifikasi audiens yang dituju&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.Menentukan tujuan komunikasi tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.Merancang pesan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.Memilih saluran komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.Menentukan total anggaran promosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.Membuat keputusan atas bauran promosi (Marketing Mix)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.Mengukur hasil promosi tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.Mengelola dan mengkoordinasikan proses komunikasi pemasaran terintegrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keterangan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi audiens yang dituju&lt;br /&gt;Audiens dapat diartikan sebagai calon pembeli produk perusahaan, pemakai saat ini, penentu keputusan, atau pihak yang mempengaruhi.&lt;br /&gt;Audiens itu dapat terdiri dari individu, kelompok, masyarakat tertentu atau masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menentukan tujuan komunikasi tersebut&lt;br /&gt;Setelah pasar sasaran dan karakteristiknya di identifikasi, komunikator pemasaran harus memutuskan tanggapan yang diharapkan dari audiens. Tanggapan terakhir yang diharapkan dari audiens adalah pembelian, kepuasan yang tinggi dan cerita dari mulut ke mulut yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Merancang pesan&lt;br /&gt;Setelah menentukan tanggapan yang diinginkan dari audiens komunikator selanjutnya mengembangkan pesan yang efektif. Idealnya, pesan itu harus menarik perhatian (attention),mempertahankan ketertarikan (interest), membangkitkan keingininan (desire), dan menggerakkan tindakan (action).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memformulasikan pesan memerlukan pemecahan atas 4 masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Isi pesan -&gt; apa yang akan dikatakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Struktur pesan -&gt; bagaimana mengatakannya secara logis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Format pesan -&gt; Bagaimana mengatakannya secara simbolis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Sumber pesan -&gt; Siapa seharusnya mengatakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memilih saluran komunikasi&lt;br /&gt;Saluran komunikasi terdiri dari 2 jenis yaitu:&lt;br /&gt;- Saluran komunikasi personal.&lt;br /&gt;Mencakup dua orang atau lebih yang berkomunikasi secara langsung satu sama lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Saluran komunikasi nonpersonal&lt;br /&gt;Menyampaikan pesan tanpa melakukan kontak atau interaksi pribadi, tetapi dilakukan melalui media, atmosfer dan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menentukan total anggaran promosi&lt;br /&gt;Bagaimana perusahaan menentukan anggaran promosinya?&lt;br /&gt;Ada 4 metode utama yang digunakan dalam menyusun anggaran promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Metode sesuai kemampuan&lt;br /&gt;2.Metode presentasi penjualan&lt;br /&gt;3.Metode keseimbangan persaingan&lt;br /&gt;4.Metode Tujuan dan tugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Membuat keputusan atas bauran promosi (Marketing Mix)&lt;br /&gt;Perusahaan harus mendistribusikan total anggaran promosi untuk lima alat promosi yaitu:&lt;br /&gt;Iklan, merupakan model komunikasi yang dapat menjangkau public secara luas. Iklan dapat digunakan untuk membangun image jangka panjang dan juga mempercepat quick sales. Selain itu iklan juga bersifat baku dan dapat ditayangkan berulang-ulang serta dapat memperoleh efek dramatisasi dari iklan yang telah ditayangkan tersebut. Namun iklan hanya dapat membawa pesan secara monolog (komunikasi satu arah).&lt;br /&gt;Promosi penjualan, alat promosi ini mempunyai 3 manfaat yaitu pertama, Komunikasi, dimana merupakan sarana untuk menarik perhatian dan memeberikan informasi yang akhirnya mengarahkan konsumen kepada produk. Hal tersebut memberikan kontribusi nilai tambah kepada konsumen dan juga dapat secara aktif mengajak konsumen membeli produk yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Public Relation dan publisitas, alat promosi ini dapat menarik perhatian khalayak ramai jika memiliki kredibilitas yang tinggi dan tidak memasukkan unsure penjualan, jadi hanya sebagai pemberi informasi. Public Relation dan publisitas juga dapat memperoleh efek dramatisasi seperti yang terjadi pada iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal Selling, merupakan alat promosi yang paling efektif pada siklus terakhir dari proses pembelian. Hal ini terjadi karena personal selling dapat membuat hubungan interaktif secara dekat sehingga dapat mengnenal konsumen secara lebih dalam dan lebih baik sehingga dapat memberikan respon yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direct Marketing, alat promosi ini hanya dapat menjangkau konsumen yang spesifik. Namun pesan yang disampaikan melalui direct marketing dapat disesuaikan dengan karakter dan respon konsumen yang dituju serta dapat diperbaharui secara cepat pula.&lt;br /&gt;Perusahaan selalu mencari cara untuk meperoleh efisiensi dengan mensubtitusi satu alat promosi dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mengukur hasil promosi tersebut&lt;br /&gt;Setelah menerapkan rencana promosi, komunikator harus mengukur dampaknya pada audiens sasaran. Hal ini mencakup menanyakan audiens sasaran apakah mereka mengenali atau mengingat pesan yang telah disampaikan, beberapa kali mereka melihatnya, hal-hal apa saja yang mereka ingat, bagaimana perasaan mereka tentang pesan tersebut, dan sikap mereka sebelumnya dan sekarang tentang produk dan perusahaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mengelola dan mengkoordinasikan proses komunikasi pemasaran terintegrasi.&lt;br /&gt;Banyak perusahaan masih sangat mengandalkan satu atau dua alat komunikasi untuk mencapai tujuan komunikasinya. Praktik ini terus berlangsung, meski sekarang ini terjadi disintegrasi dari pasar massal ke banayak pasar kecil, masing-masing memerlukan pendekatan komunikasi tersendiri; berkembangannya berbagai jenis media baru dan semakin canggihnya konsumen. Alat komunikasi, pesan, dan audiens yang sangat lebih modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMUNIKASI PEMASARAN MENYONGSONG ABAD XXI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi anggapan umum, bahwa abad XXI mendatang merupakan era globalisasi dengan kondisi lingkungan dunia bisnis yang secara structural berbeda dengan kondisi lingkungan di masa sekarang dan masa sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi komunikasi pemasaran ini pada dasarnya berkaitan dengan konsespsi ekonomi tentang unsur0unsur klasik pemasaran yang lazim disebut dengan formula â€œ4Pâ€?? yakni Product, Price, Place, and Promotion. Komunikasi tentang 4p ini kemudian dijabarkan lagi menjadi bebrapa konsep sentral yang meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Segmentasi dan cakupan pangsa sasaran: niching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segmentasi dan cakupan pangsa pasar sasaran perlu berubah orientasinya, dari yang semula berskala domestik/nasional menjadi berskala lintas nasional dan global.&lt;br /&gt;Kotler berpendapat bahwa salah satu strategi yang tepat untuk menembus situasi persaingan global adalah dengan melakukan cœnichingate yakni dengan memfokuskan perhatian pada suatu daerah tertentu yang potensial dan aman.&lt;br /&gt;Implikasi dari konsep cœnichingate ini adalah pertama, segmentasi pasar sasaran perlu difokuskan pada kelompok-kelompok tertentu (misalnya kelas social lapisan atas saja, atau lapisan bawah saja). Kedua Cakupan geografis pangsa pasar perlu diarahkan ke negara-negara atau kawasan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Uniformitas Global dalam hal positioning, Brand Name, Packaging, Pricing dan advertising Strategy.&lt;br /&gt;Strategi komunikasi pemasaran yang diarahkan kepada upaya menembus situasi persaingan dalam era pasar global, menurut Keegan, menuntut adanya pola uniformitas (Keseragaman) yang relatif berskala global atau universal dalam beberapa aspek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek komunikasi pemasaran yang perlu mengikuti pola uniformitas global ini terutama meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Strategi Posisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 Penamaan Merk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 Penentuan Harga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4 Strategi Periklanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Diferensiasi dalam Sales Promotion, Selling approach, distribution dan Customer Service.&lt;br /&gt;Pola diferensiasi berdasarkan kondisi pangsa pasar dikawasan tertentu. Menurut Keegan, pendekatan penjualan dan promosi penjualan (termasuk yang menyangkut tenaga personelnya) akan efektif dan efisien apabila dirancang dengan menerapkan pola regionalisasi atau diterapkan di daerah-daerah atau kawasan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek komunikasi pemasaran yang perlu mengikuti pola diferensiasi ini terutama meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Promosi Penjualan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 Pendekatan Penjualan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 Distribusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4 Pelayan Konsumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep sentral yang terakhir adalah Customer Service (pelayanan pelanggan).&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk memelihara dan meningkatkan hubungan psikologis antara produsen dan pelanggan serta memantau berbagai keluhan dari para pelanggan. Pemeliharaan loyalitas dari para pelanggan perllu tetap dijaga agar mereka tidak beralih ke produk pesaing. Bahkan para pelanggan ini merupakan mediaotr yang efektif dalam komunikasi pemasaran karena memiliki Safety Credibility (kepercayaan Keamanan).&lt;br /&gt;Upaya komunikasi pemasaran dalam menembus pasar global ini juga perlu ditunjang dengan upaya-upaya pembenahan dalam berbagai aspek yang menyangkut system organisasi dan manajemen perusahaan, serta didukung oleh kebijakan politik dan ekonomi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Promotion&lt;br /&gt;Promosi meliputi penggunaan saluran komunikasi. Menurut Nickels (1984:19) bauran promosi (promotion mix) yang lengkap meliputi 6 (enam) saluran: Advertising, personnal selling, word-of-mouth, sales promotion, publicity dan public relations.&lt;br /&gt;Saluran advertising meliputi iklan-iklan yang dipasang dalam berbagai bentuk media massa.&lt;br /&gt;Personal selling mencakup kegiatan penjualan langsung ke konsumen secara personal oleh para penjual atau melalui sistem jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Berliani Ardha, SE. M.Si&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.Duncan, Tom.(2005) Advertising &amp;amp; IMC, 2nd Ed., McGraw-Hill&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.Shimp, a Terennce (2003) , Advertising and promotion &amp;amp; supplemental aspects of integrated communications, sixth edition, thomson south-western.Ohio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.Richarrd J. Semenik (2002), Promotion and Integrated Marketing Communications, South-Western,5101 Madison Road, Ohio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;4.Levy/Weitz (2004), Retailing Management, International Edition The McGraw-Hill Companies New York&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-177939214407714966?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/177939214407714966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=177939214407714966' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/177939214407714966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/177939214407714966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/komunikasi-adalah-pemasaran.html' title='Komunikasi adalah pemasaran'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3338088372866586609</id><published>2009-03-23T04:47:00.001-07:00</published><updated>2009-03-23T04:47:49.836-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesan verbal dan non verbal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi intrapersonal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi lintas budaya'/><title type='text'>Defining love</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Defining love &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love is a feeling of sympathy that involves the emotional depth of the Erich Fromm, there are four requirements to achieve love, namely:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1. Introduction &lt;br /&gt;    2. Responsibility &lt;br /&gt;    3. Care &lt;br /&gt;    4. Mutual respect &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like many types of lovers, there are many kinds of love. Love is in the whole of all human culture. Because of differences in culture, the love of pendefinisian also difficult to set. See hypothetical Sapir-Whorf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Expression of love may include the love for 'soul' or mind, love of law and organizations, love for the body, love nature, love food, love money, love learning, love of power, love keterkenalan, etc.. Berarah to love more abstract concept, it is easier experienced than explained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love that is always a need to be kept so that its natural beauty &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love among the private &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love refers to the inter-personal love between men. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some of the elements that often exists in the inter-personal love: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     * Afeksi: respect other people &lt;br /&gt;     * Association: satisfying basic emotional needs &lt;br /&gt;     * Altruisme: non-self-absorbed attention to other people &lt;br /&gt;     * Reciprocation: the love for each other &lt;br /&gt;     * Commitment: the desire to immortalize love &lt;br /&gt;     * Emotional intimacy: sharing emotions and feeling &lt;br /&gt;     * Kinship: family ties &lt;br /&gt;     * Passion: sexual appetite &lt;br /&gt;     * Physical Intimacy: the life of sharing in close to one another &lt;br /&gt;     * Self-interest: the love expect personal rewards &lt;br /&gt;     * Service: desire to help &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sexual energy can become the most important element in determining the form of a relationship. Sexual attraction, but often creates a new bond, sexual desire is considered good or not should not in some bond of love. In many religions and systems of ethics it is considered wrong if you have sexual desires to the immediate family, children, or outside of committed relationships. But a lot of ways to reveal a sense of affection without sex. Afeksi, emotional intimacy and hobby are the same in normal and are all brothers in humanity.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3338088372866586609?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3338088372866586609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3338088372866586609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3338088372866586609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3338088372866586609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/defining-love.html' title='Defining love'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-4574207931793792910</id><published>2009-03-02T01:42:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T01:44:55.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi intrapersonal'/><title type='text'>Elemen-elemen konsep diri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Elemen-elemen konsep diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal hal ini mempengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah, istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik, atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai 'diri' sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas diri yang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas berbeda atatu multiple selves adalah seseorang kala ia melakukan berbagai aktifitas, kepentingan, dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antar pribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pertama persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (meta persepsi).&lt;br /&gt;    * Identitas berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya' dan bagian lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa' (idealisasi diri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia idealkan.&lt;br /&gt;Proses pengembangan kesadaran diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui tiga cara, yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Cermin diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.&lt;br /&gt;    * Pribadi sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat seseorang beraktifitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan mempengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya, karena itulah seseorang yang pesimis akan menyerah lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Perwujudan diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self) perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktifitas serhari hari kita. Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep diri kita terbentuk, teori akan siapa kita akan menjadi lebih stabil dan sulit untuk dirubah secara drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, bila kita mencoba merubah pendapat orang tua kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus dirubah - biasanya ini merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan 'siapa saya' tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.^   (id) Hardjana, Agus M. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Penerbit Kanisius&lt;br /&gt;2.^ (id) S. Djuarsa Sendjaja, P.D dkk. Teori Komunikasi-ikom4230/3SKS/ Modul 1-9. Universtas Terbuka 1998.&lt;br /&gt;3. ^ (en) Piglet, Jean. Konstruksi realitas melalui mata anak kecil. Penerbit: Free Press, New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* (en) Communication Works. Seventh Edition, by Teri Kwak Gamble dan Michael Gamble.&lt;br /&gt;* (id) Psikologi Sosial, Jilid 1. Edisi ke-10. Oleh Roberta A. Baron dan Donn Byrne. Penerbit Erlangga&lt;br /&gt;* (id) Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Oleh Drs. Jalaluddin rakhmat M.sc. Penerbit PT Remaja Rosdakarya - Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-4574207931793792910?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/4574207931793792910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=4574207931793792910' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4574207931793792910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4574207931793792910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/elemen-elemen-konsep-diri.html' title='Elemen-elemen konsep diri'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-228312593629255287</id><published>2009-03-02T01:39:00.001-08:00</published><updated>2009-03-02T01:39:45.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi intrapersonal'/><title type='text'>Karakteristik sosial</title><content type='html'>&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Karakteristik sosial&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekstrovert&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Ekstrovert (halaman belum tersedia)"&gt;ekstrovert&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Introvert&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Introvert (halaman belum tersedia)"&gt;introvert&lt;/a&gt;, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal hal ini mempengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-228312593629255287?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/228312593629255287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=228312593629255287' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/228312593629255287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/228312593629255287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/karakteristik-sosial.html' title='Karakteristik sosial'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8821054063791165997</id><published>2009-03-02T01:36:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T01:37:04.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi intrapersonal'/><title type='text'>Konsep diri</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Konsep diri&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8821054063791165997?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8821054063791165997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8821054063791165997' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8821054063791165997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8821054063791165997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/konsep-diri.html' title='Konsep diri'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-4648022043343389743</id><published>2009-03-02T01:32:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T01:38:54.180-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi intrapersonal'/><title type='text'>Komunikasi intrapersonal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas dari &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;komunikasi&lt;/a&gt; intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/konsep-diri.html"&gt;konsep diri&lt;/a&gt;, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-4648022043343389743?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/4648022043343389743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=4648022043343389743' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4648022043343389743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4648022043343389743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/03/komunikasi-intrapersonal.html' title='Komunikasi intrapersonal'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2447219062533358821</id><published>2009-02-23T02:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T02:29:57.474-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi Komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesan verbal dan non verbal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi lintas budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kode Etik Wartawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi massa'/><title type='text'>"Without Media There Can Be No Terrorism!"</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;       &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;       &lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Without Media There Can Be No        Terrorism!"&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       HANYA beberapa jam usai tragedi bom di &lt;a href="http://www.marriott.com/default.mi"&gt;Hotel JW        Marriott,&lt;/a&gt; Ramadhan Pohan, seorang wartawan Indonesia        yang masih menempati posnya di Washington DC, Amerika        Serikat, menulis e-mail: "…Saya mengutuk keras para        teroris yang-entah atas nama apa pun-keji membunuh        korban-korban sipil yang tak punya urusan apa-apa dengan        perjuangan dan ideologi mereka. Saya yakin, mereka tidak        bertuhan dan amat tak berperikemanusiaan. Sebagai orang        Indonesia di negeri asing, saya tak putus meratapi nasib        Indonesia kini! Di tengah perekonomian yang masih lusuh,        pemberontakan, dan setumpuk masalah lain, bom berkali-        kali terjadi! Kita tak kapok, dan terlalu ramah menindak        teroris. Media massa Indonesia juga terlalu lembek dalam        menghujat dan menohok terorisme!"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Selain pilihan kata-katanya yang lugas, yang paling        penting di sini adalah fakta bahwa penulisnya seorang        wartawan, bagian dari industri media; dan kebetulan        cukup berpengalaman menyaksikan bagaimana media        berinteraksi dengan terorisme di berbagai negara lain!        Tersentak oleh e-mail itu, saya segera membaca kembali        Schmid &amp;amp; Graaf (Violence as Communication: Insurgent        Terrorism and the Western News Media; 1982), yang        melakukan studi paling komprehensif pertama terhadap        hubungan antara kedua elemen itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Schmid &amp;amp; Graaf membuka bukunya dengan asumsi, terorisme        dan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/teori-komunikasi-massa.html"&gt;komunikasi massa&lt;/a&gt; berkait satu sama lain, lalu mereka        membuat pernyataan yang saya pakai sebagai judul artikel        ini! Bahkan, dalam deskripsi Johnpoll (1977), kedua        unsur itu ditautkan dengan dinamit yang ditemukan tahun        1866 dan mesin cetak yang diperkenalkan tahun 1848        disempurnakan 1881. Sebuah koran bernama Truth pernah        secara anarkis mengklaim: "Truth seharga dua sen satu        eksemplar, dinamit berharga 40 sen satu pon. Beli        keduanya, baca yang satu, gunakan yang lain!"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Teroris memanfaatkan media&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Fakta bahwa teroris memanfaatkan media mungkin dapat        ditarik jauh ke belakang, antara lain ke kasus        pembunuhan Empress Elizabeth (Tuchman, 1972). Pelakunya,        Luchini, seorang yang gemar melakukan kliping berita,        menyatakan: "Saya telah lama ingin membunuh orang        penting agar bisa masuk koran!" Pada tataran teoretis,        hal ini dinamakan a violent communication strategy.        Sebagai sender adalah si teroris, para korban menjadi        message generator, dan receiver adalah kelompok yang        dianggap musuh atau publik secara luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Karena ruang pada artikel ini terbatas, saya langsung        menyampaikan beberapa kemungkinan pemanfaatan media oleh        teroris menurut studi Schmid &amp;amp; Graaf, disadari atau        tidak oleh pemilik dan praktisi media. Ada 22 penggunaan        secara aktif (active uses), antara lain:        mengomunikasikan pesan-pesan ketakutan kepada khalayak        luas; mempolarisasi pendapat umum; mencoba menarik        anggota baru pada gerakan teroris; mengecoh musuhnya        dengan menyebar informasi palsu; mengiklankan diri dan        menyebabkan mereka merasa terwakili; membangkitkan        keprihatinan publik terhadap korban untuk menekan agar        pemerintah melakukan kompromi atau konsesi; mengalihkan        perhatian publik dari isu-isu yang tidak dikehendaki        dengan harapan berita teror mereka mengisi halaman depan        media; membangkitkan kekecewaan publik terhadap        pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Ada delapan penggunaan media secara pasif oleh teroris,        sebagian di antaranya: sebagai jaringan komunikasi        eksternal di antara teroris; mempelajari teknik-teknik        penanganan terbaru terhadap terorisme dari laporan        media; mendapat informasi tentang kegiatan terkini        pasukan keamanan menghadapi teror yang sedang mereka        lakukan; menikmati laporan media yang berlebihan tentang        kekuatan teroris hingga menciptakan ketakutan pihak        musuh dan mencegah keberanian polisi secara individual;        mengidentifikasi target-target selanjutnya; mencari tahu        reaksi publik terhadap tindakan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Media memanfaatkan terorisme&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;\&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di        sisi lain, setidaknya ada empat alasan mengapa media "ikut        memanfaatkan" peristiwa terorisme. Satu, kejahatan        selalu merupakan good news bila perhatian utama hanya        menjual koran atau program televisi. Kita bisa balik        sampai tahun 1965, ketika kasus pembunuhan disertai        perkosaan terhadap dua kakak-beradik di Chicago,        menaikkan oplah surat kabar sampai 50.000 eksemplar,        jumlah yang amat signifikan kala itu (Sandman dan        kawan-kawan, 1976). Ketika Aldo Moro diculik di Italia,        sirkulasi koran terbesar Il Corriere naik 35 persen.        Saat terbunuh, oplahnya jadi 56,5 persen (Amidei, 1978).        Schmid dan Graaf juga memberi perhatian serius pada        pengaruh penerimaan iklan yang mendasarkan diri atas        mekanisme rating untuk media elektronik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dua, media membawa banyak berita dengan kandungan        kekerasan karena merasa publik memintanya agar menjadi        tahu persis tentang aspek-aspek kehidupan yang mengancam        mereka. Namun amat perlu dicatat, kian banyak orang tahu,        mereka bisa makin takut ke jalan, akibatnya kontrol        masyarakat menjadi berkurang, dan kejahatan dapat        bertambah tinggi, lalu media makin sibuk dengan berita        kriminal (tentunya dibutuhkan riset ilmiah pada waktu        tertentu untuk kasualitas semacam ini).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tiga, kehidupan khalayak yang "membosankan" karena        disiksa rutinitas tidur, berangkat, dan bekerja,        membutuhkan berita-berita kekerasan dan seks sebagai        thrill (gairah, getaran)! Jadi bisa dimaklumi mengapa        kedua jenis berita ini bertaburan setiap hari di        televisi! Empat, kadangkala ada sekelompok orang yang        menyatakan simpati pada tujuan (baca: misi) para teroris,        dan media mengeksposnya karena menganggapnya unik atau        demi covering both sides.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Bagaimana sebaiknya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Meski karya Schmid dan Graaf merupakan studi kasus        pertama yang komprehensif atas hubungan media dan        terorisme, namun mereka tetap tidak bisa tegas memberi        jawaban tentang bagaimana peran media sebaiknya. Alali        dan Eke (Media Coverage of Terrorism: Methods of        Diffusion; 1991) mungkin selangkah lebih maju dalam        mencoba menawarkan jawaban! Mereka memakai istilah        counterterrorist strategy dan hal itu sungguh tergantung        situasi khas di tempat tertentu; dimulai dari strategi        media mengurangi ekspos tentang terorisme, tidak        terlibat melakukan interpretasi apa pun, sampai        menghentikan ekspos tersebut (misal untuk sementara        waktu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam konteks keraguan semacam inilah, usulan seorang        wartawan seperti Ramadhan Pohan itu menjadi terdengar        "lain". Paling tidak, untuk konteks Indonesia terkini,        pernahkah pemilik dan praktisi media kita menghitung,        misal dengan content analysis sederhana, berapa bagian        media yang digunakan untuk mengekspos terorisme dengan        berbagai gaya dan angle (yang juga membuka kemungkinan        pemanfaatan para teroris) itu, dan berapa bagian yang        sudah kita ciptakan untuk mengutuk tindakan itu secara        konsisten; pada headline yang sama-sama eye-catching,        dengan bahasa yang lugas!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Bahkan, saat para teroris itu dibawa ke persidangan,        mengapa kita terkesan mengambil jeda dalam        memperlihatkan "kemarahan" publik? Berapa banyak media        kita yang tekun menyampaikan iklan layanan masyarakat        antiterorisme (saya baru mencatat satu, di TV 7)?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Akhirnya, satu contoh yang sederhana, begitu sulitkah        kita menghindari gambar polisi yang (kadang) tampak        tersenyum menggandeng teroris keluar-masuk ruang atau        mobil tahanan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       Effendi Gazali &lt;em&gt;Staf Pengajar Program Pascasarjana        Komunikasi UI&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;Kompas        Cyber Media&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2447219062533358821?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2447219062533358821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2447219062533358821' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2447219062533358821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2447219062533358821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/without-media-there-can-be-no-terrorism.html' title='&quot;Without Media There Can Be No Terrorism!&quot;'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5249403812160987218</id><published>2009-02-23T02:23:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T02:25:23.142-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Krisis Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana Media untuk Penyempurnaan UU Pers.</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Krisis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;        Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana        Media untuk Penyempurnaan UU Pers.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="konten"&gt;&lt;b&gt;A. Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Mungkin akan timbul suatu pertanyaan kenapa kita perlu        memperhatikan penyempurnaan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Kode%20Etik%20Wartawan"&gt;UU Pers&lt;/a&gt; dari sudut pandang        hukum telematika, karena terkesan hukum telematika hanya        akan lebih banyak mengkaji keberadaan segala aspek hukum        yang terkait dengan perkembangan teknologi        telekomunikasi dan informatika. Tambahan lagi telah        banyak pihak yang sudah terlanjur berkonotasi bahwa        lingkup pembicaraan hukum telematika adalah identik        dengan istilah ”cyber law” hukum yang terkait dengan        keberadaan dunia maya ataupun internet. Hal ini tidaklah        sepenuhnya benar, karena jika kita cermati lebih dalam        justru karena hasil dari perkembangan konvergensi        telekomunikasi dan informatika itu sendiri maka        belakangan semua orang baru menyadari bahwa telah        terlahir suatu media baru yang bersifat multimedia (teks,        suara, gambar/grafis, dan film) yang pada akhirnya        menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk merenungkan        kembali konsepsi hukum tentang informasi dan komunikasi        sebagai akar dasar semua perkembangan itu tanpa harus        terkunci kepada pembedaan karaktersitik setiap media        baik cetak maupun elektronik. Keberadaan jaringan        computer global sebagai Jalan Raya Informasi        (information superhighway) telah memudarkan garis batas        antara media tradisional dengan media komunikasi modern.        Hal ini akan sangat baik baik disiplin ilmu hukum itu        sendiri agar sistematikanya menjadi lebih tertib dan        konsisten dalam memetakan ketentuan-ketentuan hukum        media. Ada benang merah yang saling terhubung dengan        semua media itu, yakni hukum terhadap informasi dan        komunikasi itu sendiri. Bahkan, mungkin saja di belakang        hari semua benang merah tersebut dapat dirajut menjadi        satu kodifikasi hukum media yang mampu mengakomodir        semua karakteristik media yang ada. Oleh karena itu,        tulisan ini diharapkan dapat melengkapi perspektif hukum        yang selama ini telah berkembang dibenak masyarakat.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;b&gt;B. Konsepsi Umum dan Analisa Kritis Media &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sebagai langkah pertama, kita perlu mengkaji kembali        istilah Media itu sendiri dan melihat padanannya dengan        Pers. Tampaknya sudah menjadi istilah umum bahwa insan        pers sering mengidentikan dirinya sebagai Media,        sementara istilah Pers itu sendiri sepertinya tidak        sebangun atau sepadan dengan istilah Media. Pers mungkin        salah satu bagian dari Media tapi Media itu sendiri        tidak identik dengan Pers, karena Pers akan berkonotasi        kepada aktivitas jurnalistik sementara media adalah        wujud penyelenggaraannya sebagai alat sistem komunikasi        untuk mendiseminasikan informasi kepada publik.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dilihat dari asal usul katanya, Media adalah bentuk        jamak dari Medium yang berasal dari bahasa latin yang        artinya adalah sesuatu yang berada ditengah-tengah dan/atau        sesuatu yang bersifat netral [Webster Dictionary]. Media        juga berarti suatu alat penghantar berkomunikasi.        Penekanan dari kata Media disini adalah keberadaan obyek,        jadi pendekatannya haruslah obyektif bukan subyektif.        Sebagai suatu alat maka obyek tentunya tidak akan dapat        bertanggung jawab atau dimintakan pertanggung jawabannya        sendiri sehingga yang dapat dimintakan pertanggung        jawabannya adalah pihak-pihak yang menyelenggarakan        media itu sendiri. Penyelenggara harus menjaga sifat        netralitasnya dan mempertanggung jawabkan efek dari        komunikasi itu kepada publik baik terhadap kepentingan        personal maupun komunal atau bahkan kepada norma        masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Berbicara tentang Pers, umumnya para pakar komunikasi        masa akan merujuk kepada prinsip dasar Hak Azasi Manusia        untuk memperoleh informasi dari semua saluran komunikasi        yang tersedia dan kemerdekaan mengemukakan pendapat di        depan umum. Ada dua hal yang perlu dicatat disini yakni,        kebebasan berekspresi itu sendiri dan tindakan        mengumumkannya kepada publik. Sebagai pembandingnya,        banyak orang yang merujuk kepada First Amendment dalam        konstitusi AS dimana Congress tidak boleh membuat hukum        untuk menghalangi pelaksanaan hak itu.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Amendment 1: Religious and political freedom:&lt;br /&gt;      Congress shall make no law respecting an establishment        of religion, or prohibiting the free exercise thereof;        or abridging the freedom of speech, or of the press; or        the right of the people peaceably to assemble, and to        petition the Government for redress of grievances.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dari uraian kata-kata tersebut, banyak pihak yang        mempersepsikannya sebagai suatu kebebasan yang absolut        karena congress yang berwenang membuat hukum itu sendiri        saja bahkan tidak diperkenankan oleh konstitusi untuk        membatasi kebebasan pers. Sementara, hanya segelintir        pakar yang mengemukakan bahwa dalam prakteknya di AS        yang perkembangan hukumnya didominasi oleh Jurisprudensi        (Judge make law), kebebasan itu kini menjadi tidak        absolute lagi sebagaimana dipersepsikan oleh kalangan        awam.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Selain akibat multipersepsi atas kata “speech” dan        “abridging” itu sendiri, perbedaan pendapat dikalangan        para Jurist (judges and scholars) sebenarnyaa juga        dikarenakan secara historis kata-kata itu memang        merupakan produk politik pada masa itu, dimana ada        pertentangan antara Federalist dengan State. Sehingga,        semula kata-kata yang diusulkan adalah ”No state shall        violate…etc” menjadi ”Congress shall make no law…etc”.        Para juris di AS, telah menyadari bahwa legal nature        dari kata-kata itu dengan sendirinya adalah menjadi        tidak absolute, sehingga dengan sendirinya jurisprudensi        lah yang menjadi pembimbing atau pedoman dalam        menerapkan ketentuan itu agar menjadi fair bagi semua        pihak. Bahkan untuk menentukan tujuan dan fungsinya saja,        hal itu baru lebih jelas pada saat Justice Brandeis        mengemukakan pendapatnya dalam putusannya pada kasus        Whitney vs. California 71 L.Ed.1095, 1105-06 (1927).&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dalam perkembangannya lebih lanjut ternyata freedom of        speech dan of the press diturunkan menjadi “expression”        dan “action”. Amendement pertama jelas melindungi        kebebasan berekspresi tetapi tidak selalu untuk        “communicative conduct” sehingga berkembanglah “a        hierarchy of protected communicative conduct” dimana        tidak semua hal termasuk dalam protected speech.        Karenanya berkembanglah apa yang dinamakan sebagai        “unprotected class” atau dikenal sebagai “unfree speech”        atau komunikasi yang tidak dilindungi oleh amendemen        pertama tersebut, antara lain meliputi; fighting words,        obscenity, publication of state secrets, incitement to        crime, defamation, subliminal communications dan        commercial speech. Demikian pula halnya dengan konsep        ‘abridgement’ dimana dalam perkembangannya “law” sebagai        produk congress jelas tidak mengurangi kewenangan        pemerintah untuk memberikan pembatasan dan kejelasan        dalam ”regulation” demi untuk melindungi kepentingan        publik itu sendiri.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Lebih lanjut, pemikiran tentang access to the channels        of communication juga mengakibatkan berkembangnya teori        pembedaan atau pengkategorisasian ruang public (public        forum) dan ruang private (private forum). Walhasil, para        juris telah mengembangkan kerangka berpikirnya untuk        melakukan pendekatan prosedural (procedural approaches)        dalam menentukan hal-hal apa saja yang dapat dilindungi        berdasarkan amandemen pertama itu.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Berdasarkan sejarah dan evolusi yang terjadi di AS        tersebut, maka Indonesia sebagai negara yang lebih        diwarnai oleh Eropa Kontinental ketimbang Anglosaxon/Common        Law, menjadi tidak haram jika mencoba memformulasikan        pembatasannya dalam produk legislatifnya (UU). Hal ini        adalah karena di Indonesia, UU sebagai produk        legislative itulah yang dapat memberikan pedoman awal        bagi perkembangan sistem hukum kita. Jurisprudensi        nyatanya masih belum berfungsi dengan baik di negara        kita untuk memberikan benang merah keadilan dalam        perkembangan sistem hukum nasional.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Jadi, hakikinya adalah sama saja baik di AS maupun di        Indonesia bahwa kebebasan itu memang tidak pernah        absolute. Bahkan, secara hukum fisika saja telah        dinyatakan bahwa terhadap suatu aksi tentunya akan        terjadi friksi dan hasilnya mengakibatkan suatu reaksi.        Meskipun di angkasa, ternyata suatu benda juga tidak        pernah lepas dari gaya-gaya yang ada di semesta alam ini.        Oleh karena itu, konsep kebebasan tanpa batas jelas akan        sangat menyesatkan dan bertentangan dengan hukum alam        dan juga pemikiran manusia yang sehat.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Selain itu, sesuai dengan perkembangan wacana negara        demokratis, banyak pihak juga akan merujuk kepada        pemikiran yang menyatakan bahwa Pers adalah pilar        keempat (fourth estate) dalam negara demokrasi. Namun,        dalam praktek dan perkembangannya, publik Amerika juga        melihat bahwa ini adalah jargon semata karena meskipun        pers itu bebas dari kepentingan pemerintahnya ternyata        ia tidak bebas dari kepentingan komersialnya dan bahkan        para pemilik dan/atau penyelenggara media juga cenderung        berselingkuh dengan para politikus dalam menyiarkan        suatu informasi kepada publik. Walhasil, wacana tentang        eksistensi kebebasan media terlanjur disodorkan kepada        publik untuk dilegitimasi kehadirannya tidak lagi        sebagai penyaji fakta melainkan juga sebagai pembentuk        opini dan disahkan sebagai industri informasi dengan        semangat komersialismenya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Idealnya, dalam suatu negara demokratis yang berdasarkan        atas hukum, maka kepentingan hukum masyarakat untuk        memperoleh informasi publik (right to know) adalah        menjadi prioritas tertinggi. Hal ini menjadi dasar        legitimasi bagi semua pihak ingin mencari dan        menyampaikannya kepada publik, khususnya kalangan        jurnalis yang begitu giat dan gagah berani berupaya        mencari fakta/data, mengolahnya menjadi informasi dan/atau        berita, dan kemudian disampaikannya kepada masyarakat.        Lebih jauh lagi, bahkan hal itu dirasakan sebagai        sesuatu yang diamanatkan oleh hukum kepada mereka.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sebagai kompensasinya, dalam rangka memenuhi kepentingan        hukum masyarakat tersebut maka diperlukan suatu        perlindungan hukum bagi para pihak yang jelas-jelas        beriktikad baik melaksanakan fungsi itu, khususnya bagi        pihak yang secara professional mencarinya dan        menyelenggarakan media komunikasinya kepada public.        Namun pada sisi yang lain, publik juga perlu mendapatkan        perlindungan dari kekotoran ataupun sisi negatif        informasi yang disampaikannya. Oleh karena itu,        diperlukanlah suatu ketentuan hukum dalam suatu produk        legislatif (UU) sebagai kesepakatan public untuk        melindungi semua pihak yang terkait dengan itu secara        adil. Pada prinsipnya, tanpa terkecuali setiap orang        yang bertindak mengungkapkan informasi untuk kepentingan        publik tentunya jelas harus dilindungi oleh hukum,        terlepas apakah ia jurnalis ataupun tidak. Dalam        prakteknya, penerapan hukum itu harus digantungkan        kepada Hakim sebagai pejabat penerap keadilan bagi        masyarakat agar sesuai dengan lingkup kasus yang ada.       &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sesuai dengan sejarahnya, Pers yang lahir dari aktivitas        jurnalistik kepentingan hukumnya adalah menginginkan        kebebasan untuk memperoleh data dan mengolahnya menjadi        suatu informasi serta berhak menyampaikannya kembali        (freedom of speech) kepada publik sesuai pendapatnya.        Pada satu sisi, sistem hukum Hak Kekayaan Intelektual (Hak        Cipta) telah melindungi keberadaan informasi itu sebagai        suatu karya cipta yang harus dilindungi (protected        works) demi kepentingan hak moral dan hak ekonomis        individu si penciptanya dan melindungi kemerdekaan/kebebasan        untuk berekspresi itu sendiri. Namun pada sisi lain,        sesuai dengan perspektif hukum komunikasi, si        intelektual tersebut seharusnya juga memperhatikan efek        atau dampak komunikasi tersebut kepada publik. Oleh        karena itu, suatu penyampai informasi selayaknya harus        dapat dimintakan pertanggung jawabnya manakala efek        komunikasi itu ternyata merugikan atau berpengaruh buruk        kepada kepentingan hukum individual manusia (HAM) dan        juga kepada norma dan ketertiban masyarakat (protected        communication dan protected community). Jadi selain        adanya apresiasi yang diberikan oleh hukum ia juga harus        mampu mengemban tanggung jawab dari setiap apa yang        telah ditimbulkannya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Singkatnya, penyajian informasi kepada publik diharuskan        seobyektif mungkin meskipun secara naturalianya ia tetap        bersifat subyektif karena sebenarnya terlahir dari        ekspresi ide dari seseorang. Perspektifnya terhadap        sesuatu peristiwa tentu akan tetap melekat dalam        penyajian informasi yang disampaikannya. Oleh karena itu,        suatu berita tidak dapat dikatakan obyektif dari awalnya        sehingga dengan sendirinya ia tidak bebas nilai atau        tidak bebas dari kepentingan subyektif orang yang        menuliskannya. Disinilah netralitas media menjadi sangat        relevan untuk menjadi suatu persyaratan hukum        (requirement of neutrality). Untuk itu diperlukan suatu        standar obyektifitas untuk menentukan apakah ia layak        dikatakan sebagai suatu karya jurnalistik. Perlindungan        hukum yang diberikan kepada si pencari dan penyampai        informasi hanyalah ditujukan bagi setiap pihak yang        memang menghargai dan tunduk dengan etika jurnalistik,        bukan kepada pihak-pihak yang ”sembarangan” dalam        menguntai kata-kata.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dalam rangka memenuhi nilai-nilai obyektifitas itu,        sebagai upaya preventif maka secara prosedural suatu        informasi sebelum disampaikan kepada publik, selayaknya        secara internal ia perlu diinteraksikan dengan pihak        lain dan/atau paling tidak yang bersangkutan dapat        menjelaskan dan menjamin bahwa informasi yang        diberikannya adalah berdasarkan atas data atau fakta        yang diperolehnya secara halal dan benar serta        disajikannya secara fair. Disinilah suatu penyelenggara        media harus dianggap ikut bertanggung jawab untuk        menanggung akibat/dampak penyampaian suatu informasi        kepada publik, karena atas kuasanya informasi itu        dikomunikasikan kepada publik.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dari pemaparan tersebut di atas, terlihat jelas        perbedaan makna antara Pers dengan Media. Istilah media        adalah keberadaan obyek atau alat untuk berkomunikasi        yang harus bersifat netral, sementara Pers adalah        kegiatan jurnalistik yang kaya akan        perspektif-perspektif jurnalisme. Tentunya, yang akan        membuat media itu menjadi tidak netral adalah orang yang        menyelenggarakannya. Oleh karena itu, wajarlah jika        seorang pakar komunikasi Prof Abdul Muis mengingatkan        kita bahwa ada dua pendekatan hukum dalam konteks ini        yaitu aspek Hukum Media dan aspek Hukum Komunikasi.        Namun, menurut hemat saya akan lebih tepat jika kita        melihatnya dalam satu kesatuan yakni Hukum Komunikasi.        Keberadaan Media sepatutnya adalah bagian yang tidak        dipisahkan dari proses komunikasi itu sendiri karena        tidak mungkin terjadi suatu komunikasi antara si        penyampai informasi (originator) dengan si penerima        informasi (recipient) tanpa kehadiran suatu Media.        Ringkasnya, kita harus memandang Media itu sendiri        sebagai suatu sistem komunikasi yang terpadu dimana        obyektifitasnya dan netralitasnya akan ditentukan kepada        sejauh mana sistem penyelenggaraannya diselenggarakan        dengan baik.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Melengkapi pandangan tersebut, walau bagaimanapun harus        diletakkan pemahaman kepada publik bahwa suatu informasi        yang merupakan obyek komunikasi tersebut jelas tidak        akan lepas dari aliran pandangan si pembuatnya, sehingga        pandangan suatu aliran tentunya akan terlihat jelas dari        karakteristik informasi yang disajikannya tersebut. Jika        si intelektual tersebut beraliran kapitalis maka        tentunya ia tidak akan menulis tentang kebaikan aliran        sosialis yang berlawanan dengannya, demikian juga        sebaliknya. Demikian juga jika si intelektual tersebut        ternyata non religius maka ia akan menuliskan bahwa        ketentuan keagamaan adalah suatu kemunafikan dan        demikian pula sebaliknya. Walhasil, jelas dirasakan        adanya suatu perang informasi terhadap suatu kepentingan,        dan demi obyektifitas maka semestinya masyarakat tidak        boleh langsung percaya terhadap suatu informasi yang        disampaikan oleh satu sumber saja, melainkan juga perlu        melihatnya dari banyak sumber. Kebenaran akan dapat        terlihat dari apa yang lahir ditengah-tengah        pertentangan wacana itu sendiri. Akhirnya, yang menjadi        permasalahan disini adalah konflik ideologi antara        informasi yang disajikan dengan ideologis bangsanya.        Tidak heran jika ada sebagian masyarakat yang ternyata        malah menjadi bingung atau bahkan akan marah dengan        keberadaan aliran-aliran media itu sendiri.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Lebih lanjut, sesuai dengan perkembangannya maka        terbangunlah suatu mekanisme hukum antara publik dengan        medianya, dengan cara memberikan kewajiban kepada        penyelenggara untuk melayani Hak jawab dan Hak Koreksi        dari masyarakat. Namun, hal ini masih dirasakan seperti        terlalu mensimplifikasi efek komunikasi yang ditimbulkan        kepada kepentingan hukum lain. Sekiranya suatu berita        yang menghancurkan nama baik seseorang (character        assasination) ternyata berakibat serangan jantung        sehingga meninggalnya seseorang, apakah masih relevan        Hak Jawab dan Hak Koreksi sebagai upaya pemulihan haknya.        Tambahan lagi, dalam kehidupan sehari-hari dapat        dikatakan bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang,        sehingga naturalianya efek dari kata-kata akan selalu        berbekas dalam hati si penerimanya. Dimaafkan atau tidak        itu kembali kepada hak si orang tersebut, yang jelas        Hukum tidak dapat memaksakan seseorang harus menerima        maaf dari orang lain. Seorang hakim juga sepatutnya juga        tidak boleh membatasi hak orang lain untuk harus        menjelmakan hak jawab dan hak koreksinya terlebih dahulu,        karena hal ini berarti hakim telah berpihak hanya kepada        kepentingan si penyelenggara media.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Selain itu, dalam hal penerimaan informasi, umumnya        informasi pertama seringkali lebih berbekas ketimbang        informasi yang berikutnya. Sehingga terlepas apakah ia        langsung percaya atau tidak percaya, yang jelas secara        informasi telah berdampak kepada sesorang ”the damage        has been done”. Ada suatu ”ruang kerugian” disini yang        tidak cukup terjawab hanya dengan hak jawab dan hak        koreksi. Sepatutnya, semakin intelektual seseorang jelas        akan semakin tinggi pula amanat yang harus diembannya        untuk memperhitungkan segala sesuatu yang dapat terjadi        dari karya intelektualnya tersebut. Oleh karena itu,        pertanggung jawaban bagi seseorang ahli komunikasi masa        yang berdasarkan keilmuannya sepatutnya tahu sejauhmana        efek dari kata-katanya, jelas juga harus diimbangi        dengan beban sanksi yang relatif lebih berat ketimbang        orang awam. Jika hal ini tidak ada, maka jelaslah bahwa        segelintir orang akan senang mempelintir kata-kata dan        mungkin pula akan berakibat timbulnya mafia dalam media.       &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;b&gt;C. Internet sebagai Media Komunikasi Baru &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, konvergensi        TELEMATIKA (Telekomunikasi, Media dan Informatika) mau        tidak mau telah mengabsorbsi keberadaan kata Media yang        terwujud dalam penyelenggaraan sistem informasi global.        Suatu jaringan sistem informasi dan komunikasi yang        lahir akibat keterpaduan perkembangan teknologi        informasi dan telekomunikasi telah berfungsi sebagaimana        sebagaimana layaknya suatu Media komunikasi masa. Hal        mana sebelumnya kurang begitu disadari karena semula        penerapan teknologi informasi adalah untuk kepentingan        personal atau untuk kepentingan internal organisasinya        saja. Demikian juga halnya dengan telekomunikasi yang        memang semula digunakan hanya untuk kepentingan        komunikasi antara para pihak, bukan untuk komunikasi        masa. Akhirnya, sekarang kita ternyata tidak dapat        mengatakan bahwa penyelenggaraan telekomunikasi akan        terlepas dalam lingkup kajian hukum media modern dewasa        ini.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dengan melihat kepada platform sistem informasi dan        komunikasi elektronik global yang berbasiskan teknologi        komputer (computer based information system), maka ada        beberapa hal yang perlu dilihat sehubungan dengan        komputer sebagai alat pengolah informasi dan alat untuk        menyebarkan informasi tersebut. Sistem Komputer pada        hakekatnya mempunyai fungsi-fungsi Input, Proses,        Output, Strorage dan Communication. Ia juga paling tidak        terdiri atas 5 komponen penting, yakni; hardware,        software, procedure, brainware dan content dari        informasi itu sendiri. Semua komponen itu harus berkerja        dengan baik itu dan saling terintegrasi agar dapat        melakukan fungsi-fungsi sebagaimana yang diharapkan.        Data sebagai input untuk menghasilkan suatu informasi        yang berdayaguna ditentukan oleh kehandalan brainware        dalam menciptakan procedures yang selanjutnya akan        dikonkritkan dengan kehadiran software yang sesuai agar        hardware dapat bekerja untuk mengolah dan menampilkan        informasi sebagaimana yang ditentukan atau diharapkan.       &lt;br /&gt;      Selanjutnya agar ia dapat berkomunikasi dengan komputer        yang lain, maka ia harus satu bahasa dimana pembangunan        jaringan kerjanya adalah harus sesuai dengan protokol        komunikasi yang dipakai oleh para pihak, seperti antara        lain Electronic Data Interchange/EDI (proprietary        system) dan Internet protocol (open system). Dan oleh        karena sistem tersebut saling terintegrasi dan terhubung        secara online, maka hubungan komunikasinya menjadi        bersifat real-time kesemua anggota dan seakan hadir        dimana-mana secara ”ubiquotus”.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sesuai dengan karakteristiknya yang elektronik itu,        tampaknya keberadaan suatu sistem informasi sebagai        Media berkomunikasi relatif akan lebih mudah diatur        ketimbang Pers. Lihat saja pada kenyataan teknisnya        bahwa semua anggota jaringannya sepakat untuk        menggunakan protokol komunikasi TCP/IP. Semua komputer        yang terhubung hanya bisa terhubung dengan aturan        komunikasi yang sama dalam lapisan 4 layers. Sebagai        suatu sistem informasi jelas ia telah ditetapkan sebagai        suatu Media yang netral, sehingga ia dapat ditulisi apa        saja oleh pihak pihak yang berkenan untuk itu. Ia dapat        ditentukan akan hidup ataukah akan mati tergantung        kepada arus listriknya. Keberadaan akses informasinya        pun dapat dibatasi atau restriktif berdasarkan otorisasi        yang diberikannya dalam network tersebut. Dalam konteks        ini, sepanjang memang ada ”political will” untuk itu        sepatutnya penyelenggara media akan menjadi relatif        lebih mudah untuk diatur.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Ada satu hal yang sangat menarik untuk dilihat dari        keberadaan suatu sistem informasi elektronik sebagai        suatu Media yakni keberadaan informasi sebagai        keluarannya adalah ditentukan kepada sejauhmana sistem        security-nya dikembangkan baik secara tehnik, manajemen        maupun hukum. Keterpercayaan terhadap isi akan sangat        ditentukan oleh sejauhmana kehandalan dan validitas        pemrosesannya yang tercermin dalam keberadaan setiap        procedures dan juga softwarenya, serta kejelasan subyek        hukum yang bertanggung jawab atasnya. Setelah dapat        diyakini bahwa sistem informasi itu layak dipercaya,        barulah kita dapat menyatakan bahwa jika memang sistem        telah berjalan sebagaimana mestinya maka selayaknya        informasinya menjadi layak untuk dipercaya. Dengan        sendirinya, jika data yang dimasukkan adalah salah, maka        hasil keluarannya juga akan menjadi salah ”Garbage In        Garbage Out,” bukan sistemnya lagi yang dipersalahkan        (malfunction) melainkan ”human error” manusianya yang        mengerjakan sistem itu. Implikasi hukumnya adalah,        sepanjang sistem telah dibangun dan diselenggarakan        dengan baik (best practices), maka pihak si pengembang        dan si penyelenggara berhak mendapatkan perlindungan        hukum berupa pembatasan dalam pertanggung jawabannya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Patut juga dicermati bahwa persyaratan security tersebut        adalah berbanding lurus dengan nilai kekuatan pembuktian        secara hukum, bahkan dapat dikatakan bahwa ”no security,        no deals”. Hal ini harus menjadi perhatian utama para        pihak, karena teoritisnya Internet memang tidak didesain        sebagai infrastruktur informasi publik yang secured.        Justru kepentingan negara industri itu sendiri lah yang        ingin menawarkan dan menumbuhkan jasa security-nya, baik        dalam hal penjualan perangkat keras maupun software        untuk berjalannya computer security maupun communication        security itu sendiri.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Beranalogi dengan hal tersebut, maka jika kita ingin        mengatakan Pers adalah suatu Media harus ada suatu        standar kelayakan bagi si penyelenggara jasa yang        mengkelola Media itu. Ia baru layak dikatakan sebagai        suatu Media jika ia telah memenuhi standar tertentu        dalam penyelenggaraannya agar lebih jernih dalam        merefleksikan kepentingan masyarakat bukan kepentingan        si penyelenggaranya. Ia juga dapat membatasi tanggung        jawabnya terhadap akibat substansi informasi yang        disampaikannya sepanjang ia telah berupaya sebaik        mungkin (best practices). Bahkan sekiranya ia telah        mengemukakan standar prosedur pengoperasiannya bahwa ia        tidak melakukan sensor apapun, tanggung jawab sepenuhnya        justru akan kembali kepada si penulis. Dan pihak yang        merasa berkeberatan dapat langsung seketika itu juga        memasukkan koreksi dan hak jawabnya pada tempat yang        sama dengan informasi itu. Disini, para pembaca akan        langsung dapat mencerna bahwa informasi itu tengah        dipersengketakan validitasnya. Dalam konteks ini, tidak        sedetikpun ia akan dirugikan, kecuali atas kelambanannya        sendiri dalam merespon suatu informasi.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sehubungan dengan itu pula, ada juga satu pelajaran        hukum yang selayaknya dapat kita ambil dari kasus        Napster di Amerika. Meskipun keberadaan situs tersebut        sebenarnya hanya sebagai suatu media komunikasi bagi        para anggotanya (peer to peer communication) untuk        saling bertukar koleksi lagu-lagu yang diperolehnya,        namun sekiranya ia bertentangan dengan sistem hukum yang        ada khususnya Hak Cipta maka keberadaannya dapat        dihentikan (shut-down). Kesalahannya adalah        memfasilitasi tukar menukar lagu dimana ia mempunyai        model bisnis didalamnya, padahal tanpa harus ia        fasilitasi masing-masing orang dapat berkomunikasi        secara langsung. Hal ini berakibat bahwa model bisnis        napster menjadi sebagaimana layaknya tukang tadah di        pasar-pasar gelap. Demi hukum, pengadilan terpaksa harus        menghentikannya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Jika memang Amerika adalah menjadi tolok ukur dalam        penegakan freedom of speech di dunia, saya melihat bahwa        demi ”kepentingan hukum”, harus tetap ada satu        kemungkinan bahwa suatu Media dapat dimungkinkan untuk        dihentikan atau ditutup oleh putusan pengadilan jika si        penyelenggara media membuat keberadaan Medianya menjadi        bertentangan dengan hukum yang ada. Dalam negara        demokratis, ini tidaklah salah, karena supremasi hukum        adalah hal yang tertinggi, bukan kepentingan bisnis        media itu, dan juga bukan didasarkan atas diskresi        lembaga eksekutif (pemerintah).&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Demi menjaga kepentingan semua pihak maka harus dipahami        bahwa sepatutnya asas strict liability juga melekat        terhadap informasi itu dan juga pihak manajemen dari        organisasi yang melakukan sistem penyelenggaraan Media        tersebut. Sepertinya bukan lah suatu hal yang berlebihan        sekiranya azas “good governance” juga perlu diterapkan        dalam penyelenggaraan Media, paling tidak si        penyelenggara harus mengeluarkan “best effort” nya untuk        menjaga obyektifitas dan netralitas tersebut.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Oleh karena itu, jika Pers ingin dikatakan berfungsi        sebagai media, saya pikir tentunya ia harus berfungsi        sebagaimana layaknya sistem informasi elektronik yang        didasarkan atas trustworthy suatu proses. Jika memang        sistem penyelenggaraan media nya yang sudah tidak mau        taat hukum, maka hasil output informasinya tentunya juga        akan berhadapan dengan hukum.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Ringkasnya sesuai dengan paradigma sistem informasi,        maka paling tidak Pers akan terdiri dari komponen (i)        content informasi, (ii) Wartawan dan (iii)        prosedur-prosedur dalam Organisasi dan Manajemen        Penyelenggara Media itu sendiri. Dalam hal ini, paling        tidak dapat dilihat adanya tiga lingkup standar agar        membuat sistem pers menjadi sehat, yakni (i)        standarisasi brainware/wartawan, (ii) standarisasi karya        jurnalistik atau pemberitaan, dan (iii) standarisasi        penyelenggaraan media itu sendiri. Boleh jadi sebagai        lingkup yang paling luas, standarisasi penyelenggaraan        media itu sendiri akan mencakup kedua lingkup sebelumnya        karena ia akan menentukan standar minimum wartawan yang        akan digunakannya dan bagaimana sistem operasi dan        prosedur yang dianutnya dalam mengemukakan suatu        pemberitaan kepada publik. Semakin tinggi standar yang        dianutnya maka semakin tinggi pula validitas        pemberitaannya dan relatif semakin aman pula ia dalam        melakukan pertanggung jawaban hukumnya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;b&gt;D. Krisis Media Akibat Perilaku Bermasalah dan        Kepentingan Bisnis Media &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Ditinjau lebih luas lagi sesuai dengan perspektif ilmu        perundang-undangan, mungkin penyebab kenapa kondisi Pers        sekarang ini seperti ini adalah juga didasari sejauhmana        keefektifan aturan main yang ditetapkan dalam UU Pers.        Jika memang mekanismenya adalah sebebas-bebasnya maka        insan pers jadi bertindak sebebasnya. Dan sedikit        janggal rasanya bahwa pemerintah dinihilkan sama sekali        dalam proses penerapannya sementara lembaga pelaksananya        Dewan Pers juga tidak mempunyai kekuatan yang dapat        memaksa pihak pers untuk bertindak sebagaimana mestinya.        Ia hanya merupakan wadah untuk penetapan Kode Etik,        alternatif penyelesaian sengketa, serta pengkajian hukum        dan kebijakan saja. Sementara pada sisi yang lain,        peranan masyarakat juga belum dapat dikatakan cerdas        menyikapi segala sesuatu dan mampu berpartisipasi aktif        sebagaimana yang diharapkan. Tambahan lagi setiap orang        tentunya akan berpikir ulang untuk berhadapan dengan        media. Walhasil, akhirnya dijumpai terjadinya premanisme        dalam pers, terkadang pers menjadi obyek premanisme        namun sering juga ia menjadi subyeknya. Contohnya adalah        penyajian informasi entertainment, dimana pers terkesan        memaksa untuk memperoleh informasi yang berkenaan dengan        privasi seseorang. Pers memang telah begitu galak,        bahkan berani masuk ke wilayah-wilayah yang sebenarnya        sudah menyentuh batasan harkat dan privacy seseorang.        Menghambat jalan seseorang untuk berjalan kemobilnya        sendiri demi mendapatkan suatu pemberitaan sudah menjadi        pandangan kita sehari-hari yang kita lihat dalam        peliputan pemberitaan di TV.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sebagaimana layaknya para wakil rakyat dalam fungsi        legislative, para insan pers juga sangat meyakini        dirinya adalah bertindak atas aspiratif rakyat. Namun        ada sedikit perbedaan, dimana para wakil rakyat harus        berinventasi untuk meraih simpati dan suara rakyat dalam        proses pemilihan umum sehingga dapat dikatakan        legitimate menyampaikan suara rakyat. Sementara kalangan        pers dengan inisiatif sendiri dan dengan dibawah naungan        UU Pers dilegitimasikan sebagai aspiratif rakyat tanpa        harus ada kejelasan standarisasi profesi kewartawanan        yang ketat.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Jika kita membaca informasi yang disampaikan dalam        beberapa surat khabar harian yang ternyata berbahasa        terlalu berani dalam mengekspose sex dan kekerasan, dan        juga berani memberikan tempat untuk iklan yang bernada-nada        serupa, mungkin masyarakat juga akan menjadi semakin        kebingungan apakah memang hal ini sebenarnya informasi        yang dibutuhkannya ataukah memang hal tersebut yang        sebenarnya aspiratif rakyat. Sex dan kekerasan memang        merupakan fakta hidup, dan juga merupakan informasi yang        menarik untuk dibaca, tapi apakah ini aspiratif rakyat        atau memang sengaja dicekoki kepada rakyat.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dalam prakteknya sekarang ini, ada pers yang telah        secara elegan menyajikan informasi dan ada juga pers        yang justru membuat galau dan resah hati masyarakat.        Bagaimana tidak, karena sepertinya memang tidak ada satu        tindakan apapun yang dapat dikenakan kepada sebagian        insan pers tersebut. Siapa yang dapat menyadarkan        kalangan pers untuk secara jernih memandang apa yang        sesungguhnya terjadi dalam kehidupan ini. Apakah memang        ”kemerdekaan pers” diartikan sebagai kebebasan yang        sebebas-bebasnya tanpa batasan normatif. Bahkan akibat        pendapat yang mengatakan bahwa semestinya UU Pers adalah        lex specialis dengan berbagai macam alasan, KUHP        dinyatakan tidak berlaku lagi. Sementara, dalam UU Pers        ketentuan pidana dirasakan tidak begitu berimbang.        Barang siapa yang menghalangi pers harus dipidana        penjara dan denda, sementara pers hanya dipidana denda        saja. Lantas bagaimana halnya dengan insan pers yang        ternyata mengganggu hak orang lain, apakah memang sudah        ada dalam UU Pers ataukah memang hal seperti itu        sepatutnya tidak masuk dalam lingkup UU Pers. Jadi,        apakah UU Pers telah cukup mengatur semua tindak pidana        yang mungkin terkait dengan Pers.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Selain itu, dalam hubungan kerja antara Wartawan sebagai        profesi, apakah ia telah cukup dilindungi karena        kenyataannya ia adalah buruh dari suatu perusahaan pers,        dimana status kewartawanannya sangat tergantung oleh        perusahaan itu. Apakah ada sanksi bagi perusahaan pers        yang tidak memberikan bagian sahamnya kepada karyawan        dan apakah wartawan telah mendapatkan bagian yang layak        terhadap keuntungan perusahaan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Seiring dengan era reformasi untuk mengarah kepada        perbaikan di segala bidang, kalangan pers telah        memperoleh kelonggaran yang dicita-citakannya untuk        memperoleh informasi namun ternyata bukan kemerdekaannya        dalam arti yang hakiki. Dulu Pers begitu dikekang oleh        pemerintah dan sekarang begitu merdekanya tanpa ada        kebutuhan untuk mendapatkan pembinaan atau pengawasan        dari pemerintah lagi. Semua seakan sepakat bahwa        pengawasan pers adalah langsung dari rakyat, sementara        masyrakatnya saja tidak semuanya dapat bernasib baik        mengenyam pendidikan sehingga belum dapat secara kritis        mengkontrol pers. Apalagi dalam kenyataan hidup ini, tak        ada orang yang hidup tanpa salah dan dosa, sementara        pers jelas dapat mengkemukakan semua salah dan dosa        seseorang sesuai agenda dan kepentingannya. Sehingga        akankah ada anggota masyarakat biasa yang akan berani        berhadapan dengan pers? Semua tentunya akan berpikir dua        kali.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Walhasil sepertinya kita memang harus duduk kembali        untuk membicarakan hal ini, apakah UU Pers memang sudah        efektif menyelesaikan perilaku bermasalah. Dulu        pemerintah yang membuat masalah, sekarang justru Pers        sendiri yang sekarang menjadi sumber dari perilaku        bermasalah terhadap kemerdekaan pers itu sendiri. Sudah        layakkah pers dikatakan sebagai media jika ia tidak        menjelmakan upaya terbaiknya untuk bersifat netral dan        obyektif.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dari berbagai pemaparan di atas, paling tidak kita dapat        melihat adanya krisis dalam dunia media yang mungkin        akan mencakup seluruh komponennya, antara lain;&lt;br /&gt;      o Krisis perilaku insan media dalam mencari berita,        membuat sumber ataupun obyek informasi menjadi tidak        berharkat atau terganggu privasinya;&lt;br /&gt;      o Krisis substansi media, mengungkapkan informasi tanpa        etika dan standar jurnalistik;&lt;br /&gt;      o Krisis komitmen untuk menjalankan seluruh fungsi media        yang diamanatkan oleh UU;&lt;br /&gt;      o Krisis komitmen untuk cita-cita reformasi, khususnya        untuk ikut memajukan pendidikan, karena tidak ada jamina        bahwa semua media telah menjalankan fungsi pendidikannya        dengan baik;&lt;br /&gt;      o Krisis standar penyelenggaraan manajemen suatu Media;&lt;br /&gt;      o Krisis masyarakatnya yang terkesan kurang begitu        kritis dan agresif dalam menyikapi suatu pemberitaan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Dipandang dari sisi bisnis, karena informasi adalah        suatu komoditi yang merupakan kebutuhan hidup masyarakat        informasi, maka bisnis untuk menjadi penyedia informasi        adalah peluang bisnis yang cukup menggiurkan. Hal ini        tentunya menjadi suatu ancaman tersendiri bagi        pengharagaan akan nilai-nilai “kemerdekaan pers”        terutama nilai-nilai netralitas dan obyektifitas itu        sendiri. Sejauhmana kepentingan pemodal tidak akan        mengendalikan kepentingan media itu sendiri. Padahal        sudah pasti bahwa si Pengurus adalah bertugas untuk        menjaga kepentingan si pemodal yang ingin memperoleh        keuntungan dari bisnis itu.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Adalah suatu hal yang sangat lumrah dalam hukum        investasi, bahwa konsekwensi dari adanya suatu investasi        adalah adanya kendali dalam perusahaan itu. Dari sisi        pemodal tentunya akan menjadi sangat begitu indah jika        informasi yang disampaikan adalah sesuai dengan        kepentingannya dan dapat menaikkan tiras atau oplahnya        di masyarakat dan memberikan tempat yang cukup ditakuti        oleh penyelenggara negara. Dari sisi si pemilik media        mungkin jelas ia merasa berhak untuk bisa menampilkan        dirinya dalam satu halaman penuh dari sekian banyak        halaman yang dikelolanya, tapi demi obyektifitas dan        netralitas media, apakah hal itu dapat dikatakan etis        ataukah tidak? Karena walau bagaimanapun, si        penyelenggara media sepatutnya memperlihat upaya yang        semaksimal mungkin untuk tidak memperlihatkan        kepentingannya pribadi dalam media yang dikelolanya itu.        Dan jika kita berbicara tentang etis, apakah pelanggaran        terhadap hal itu ada sanksinya dari kalangan        masyarakatnya. Demikian pula jika ada hukumnya apakah        ada sanksi hukumnya? Jika ternyata tidak, saya pikir ini        merupakan indikasi ketidak netralan itu, dan berarti        Pers tidak layak untuk disebut Media.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;b&gt;E. Penutup &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Sesuai dengan kepentingan publik dalam Negara Demokrasi,        maka dalam lingkup media komunikasi paling tidak        terlihat beberapa kepentingan hukum yang dapat        diidentifikasi antara lain sebagai berikut;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Intelektual&lt;br /&gt;      (Jurnalis professional) Penyelenggara Media&lt;br /&gt;      (Investor/&lt;br /&gt;      Pengusaha) Masyarakat&lt;br /&gt;      (kolektif) Individual (anggota masyarakat) Penyelenggara        Negara&lt;br /&gt;      • Karya intelektual&lt;br /&gt;      • Obyektifitas Karya jurnalistik&lt;br /&gt;      • Kemerdekaan Berekspresi&lt;br /&gt;      • Obyektifitas dan Netralitas&lt;br /&gt;      • Tanggung jawab penyelenggaraan Media yang baik (good        information governance)&lt;br /&gt;      • Tidak menjadi suatu alat yang bertentangan dengan        hukum dan perasaan keadilan serta norma masyarakat&lt;br /&gt;      • Mencari profit untuk usaha • Hak mengetahui masyarakat        atas sistem penyelenggaraan negara yang baik&lt;br /&gt;      • Hak masyarakat atas ketertiban umum dan perasaan aman&lt;br /&gt;      • Hak masyarakat atas peradaban yang sesuai etika dan        dinamika kebudayaan&lt;br /&gt;      • Hak atas kebebasan berinformasi dan berkomunikasi&lt;br /&gt;      • Hak atas privasi&lt;br /&gt;      • Hak untuk tidak menjadi obyek penelitian dan        pemberitaan • Kegiatan yang baik dan bertanggung jawab        untuk memberikan kontrol ataupun feedback kepada        pemerintah&lt;br /&gt;      • Kewajiban memberikan informasi publik dan kerahasiaan        informasi untuk kepentingan publik.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Setelah mencermati, apakah itu Media, apakah itu Pers        dan bagaimana kelayakannya. Jika memang Pers memang        tidak mempunyai suatu prosedur untuk memperlihatkan        kelayakannya, rasanya sulit mengatakan bahwa Pers adalah        suatu media. Patut diacungkan jempol bagi insan Pers        yang sadar akan apa konsekwensi dari penggunaan kata        Media itu, dimana sebagai penyelenggara Media mereka        berupaya untuk mengembangkan sistem operasi dan prosedur        didalam manajemen penyelenggaraannya agar informasi yang        disampaikannya terjamin obyetifitasnya dan validitasnya.        Tetapi sangat disayangkan akibat ada sebagian Pers yang        berperilaku buruk dan tak ada mekanisme yang dapat        menghentikannya secara self-regulation-regime atau        komunitas pers sekan lepas tanggung jawab dan tidak        dapat memberhentikannya lewat mekanisme komunalnya, maka        Pers sepertinya kurang mendapat simpati rakyat.        Akibatnya seorang idealis pers boleh jadi malah terjerat        hukum sementara seorang komersialis pers malah        terlindungi dengan baik. Cukup ironis sekali.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Berkenaan dengan UU Pers yang menjelaskan ada        fungsi-fungsi dalam media, sepatutnya ada mekanisme        kontrol yang harus memaksakan perusahaan pers untuk        menjalankan ke semua fungsi media itu. Selain itu, perlu        juga dipikirkan apakah suatu media yang orang-orangnya        tidak perduli dengan hukum dan tidak mau terikat kepada        suatu etika jurnalistik akan dibiarkan terus sehingga        membuat kebingungan bagi masyarakat tentang etika pers        dan medianya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Semua orang tentunya akan sepakat bahwa media masa        adalah backbone dari penyelenggaraan negara yang baik.        Sesuai dengan perpesktif fourth estate yang meletakkan        Media setara dengan Pemerintah, maka logikanya jika        memang ada hukum untuk menyelenggarakan sistem        pemerintahan yang baik, sepatutnya juga ada standar        dalam menyelenggarakan sistem media yang baik. Sehingga        akan sangat adil bagi semua pihak, dan refleksi yang        dihasilkan oleh pers untuk demokrasi tentunya juga akan        menjadi semakin jernih dan netral untuk kepentingan kita        semua, serta Pers dapat lebih mencitrakan diri dalam        harkat dan martabatnya sebagai honorable profession        ditengah masyarakat.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Jika kita semua memang ingin ada ”trust” oleh masyarakat        kepada pelaku media, jangan biarkan mekanisme itu        terjadi tanpa prosedur yang kuat. Security untuk        mendapatkan trust memang harus dibangun dengan cara best        effort, dengan kata lain harus ada standar untuk good        information governance dalam media, hal itulah yang akan        dapat membatasi tanggung jawab bagi segenap insan media.        Semuanya ini dikembalikan kepada kesadaran dan semangat        kita semua untuk menyelamatkan karakteristik bangsa ini        di masa depan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Akhirnya, diharapkan bahwa UU sebagai pedoman sikap        tindak Pers dan Masyarakatnya dapat melindungi        kepentingan pada idealis media masa yang berupaya sekuat        mungkin untuk menyajikan informasi yang baik kepada        masyarakat dan juga bisa menghentikan orang-orang dan        media yang tidak bertanggung jawab kepada masyarakat.        Mudah-mudahan harkat dan martabat serta budaya        masyarakat tidak terpuruk hanya karena kepentingan        segelintir kapitalis media. Jika memang benar-benar kita        ingin menyelamatkan para idealis media, maka tidak ada        kata lain kita harus mau membuka diri bahwa demi        kepentingan hukum harus diperkenankan bahwa suatu media        yang bertentangan dengan hukum harus dapat dihentikan        ataupun ditutup agar tidak mengkontaminasi publik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;:       &lt;span class="judul"&gt;       &lt;a href="http://www.lkht.net/profile.php?nama=Edmon%20Makarim"&gt;       Edmon Makarim&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.lkht.net/"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Lembaga Kajian Hukum dan Teknologi - FHUI&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5249403812160987218?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5249403812160987218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5249403812160987218' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5249403812160987218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5249403812160987218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/krisis-media-dalam-perspektif.html' title='Krisis Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana Media untuk Penyempurnaan UU Pers.'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-7518408518586819569</id><published>2009-02-23T02:22:00.001-08:00</published><updated>2009-02-23T02:22:59.129-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi massa'/><title type='text'>Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat Majemuk</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;       &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:130%;"&gt;Ruang        Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat        Majemuk &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;em&gt;"Segala tindakan yang menyangkut hak orang-orang        lain&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;em&gt;yang maksimnya tak sesuai dengan kepublikan adalah        tak adil."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;-        Immanuel Kant&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       BANGSA kita sedang memasuki tahapan sejarah yang sangat        penting dengan melangsungkan pemilihan presiden secara        langsung. Namun, ini baru awal. Sangatlah dini mengklaim        sukses pemilu sebagai sukses demokratisasi. Pemahaman        demokrasi di negara-negara yang sedang melangsungkan        transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi seperti        negara kita bersifat minimal. Demokrasi dimengerti        sebagai pemilihan umum yang berlangsung fair. Demokrasi        minimalis ini mengabaikan proses di antara pemilihan        umum yang satu dan pemilihan umum yang lain. Namun, jika        bertolak dari konsep demokrasi itu sendiri, kita tak        dapat berhenti pada sikap minimalis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       DEMOKRASI per definitionem, seperti dirumuskan secara        padat dalam bahasa Jerman, adalah regierung der        regierten (pemerintahan dari mereka yang diperintah).        Jika demikian, menyerahkan kepercayaan begitu saja        kepada para pelaku dalam sistem politik hasil pemilihan        umum-eksekutif, legislatif, dan yudikatif-tidak akan        memenuhi definisi itu. Mereka yang diperintah harus        mendapatkan akses pengaruh ke dalam sistem politik. Jika        demokrasi ingin maksimal, celah di antara dua pemilihan        umum harus diisi dengan partisipasi politis warga negara        dalam arti seluas-luasnya. Dalam demokrasi maksimal        inilah konsep ruang publik menduduki tempat sentral.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Bila demokrasi tidak sekadar dipahami formalistis, ia        harus memberikan kemungkinan kepada warga negara        mengungkapkan opini mereka secara publik. Ruang atau,        katakanlah, panggung tempat warga negara dapat        menyatakan opini, kepentingan, serta kebutuhan mereka        secara diskursif dan bebas tekanan itu merupakan inti        ide ruang publik politis. Konsep ruang di sini bukanlah        metafora, melainkan real, sejauh kita tidak memahaminya        sebagai ruang geometris yang terukur dan berciri fisis.        Ruang sosial terbentuk lewat komunikasi, yakni, seperti        dikatakan Hannah Arendt, suatu lingkup bagi suatu "aku"        untuk menyatakan "kesiapaannya" di hadapan suatu "kamu"        sehingga suatu tindakan bersama suatu "kita" menjadi        mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam teori-teori demokrasi klasik dikenal konsep        volonte generale (kehendak umum), yaitu keputusan publik        yang mencerminkan kepentingan seluruh rakyat. Konsep        kuno yang berasal dari Jean-Jacques Rousseau ini tetap        dianut dalam praktik-praktik parlementarisme modern        meski konsep itu lahir dari masyarakat berukuran kecil        yang relatif homogen: masyarakat kanton Swiss. Sulit        membayangkan realisasi volonte generale dalam sebuah        masyarakat majemuk dengan keragaman orientasi nilai dan        gaya hidup dalam era globalisasi pasar dan informasi        dewasa ini. Ide tentang ruang publik politis dapat        menjelaskan relevansi konsep klasik itu di dalam        masyarakat kompleks seperti masyarakat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Apa itu ruang publik politis?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam masyarakat majemuk dewasa ini, suatu identifikasi        "kedaulatan rakyat" dengan "perwakilan rakyat" dalam        Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan        Rakyat (MPR) menjadi semakin sulit karena sistem politik        "hanyalah" salah satu subsistem di antara subsistem lain        di dalam sebuah masyarakat kompleks. Karena itu, konsep        kedaulatan rakyat harus ditafsirkan secara baru. Jika        parlemen hanyalah salah satu subsistem masyarakat        kompleks, kedaulatan rakyat seharusnya dibayangkan        melampaui sistem perwakilan itu, yang merupakan        intensitas interaksi diskursif di antara berbagai        subsistem di dalam masyarakat majemuk. Dengan kata lain,        kedaulatan rakyat adalah "totalitas bentuk" dan "isi        komunikasi" tentang persoalan-persoalan publik yang        berlangsung, baik di dalam sistem politik (eksekutif,        legislatif, dan yudikatif) maupun di dalam masyarakat        luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Jika interpretasi ini dapat diterima, ruang publik        politis yang berfungsi baik dan kedaulatan rakyat adalah        satu dan sama. Konsep ruang publik politis merupakan        pemahaman baru atas konsep kedaulatan rakyat agar konsep        ini dapat diterapkan di dalam masyarakat kompleks di era        globalisasi ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam karya awalnya, Strukturwandel der Oeffentlichkeit        (Perubahan Struktur Ruang Publik), Juergen Habermas        menjelaskan ruang publik politis sebagai kondisi-kondisi        komunikasi yang memungkinkan warga negara membentuk        opini dan kehendak bersama secara diskursif (&lt;strong&gt;1&lt;/strong&gt;).        Pertanyaannya sekarang, kondisi-kondisi manakah yang        diacu oleh Habermas?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Pertama, partisipasi dalam komunikasi politis itu hanya        mungkin jika kita menggunakan bahasa yang sama dengan        semantik dan logika yang konsisten digunakan. Semua        warga negara yang mampu berkomunikasi dapat        berpartisipasi di dalam ruang publik politis itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kedua, semua partisipan dalam ruang publik politis        memiliki peluang yang sama untuk mencapai suatu        konsensus yang fair dan memperlakukan mitra        komunikasinya sebagai pribadi otonom yang mampu        bertanggung jawab dan bukanlah sebagai alat yang dipakai        untuk tujuan-tujuan di luar diri mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Ketiga, harus ada aturan bersama yang melindungi proses        komunikasi dari represi dan diskriminasi sehingga        partisipan dapat memastikan bahwa konsensus dicapai        hanya lewat argumen yang lebih baik. Singkatnya, ruang        publik politis harus "inklusif", "egaliter", dan "bebas        tekanan" (&lt;strong&gt;2&lt;/strong&gt;). Kita dapat menambahkan        ciri-ciri lain: pluralisme, multikulturalisme, toleransi,        dan seterusnya. Ciri ini sesuai dengan isi konsep        kepublikan itu sendiri, yaitu dapat dimasuki oleh siapa        pun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di        manakah lokus ruang inklusif, egaliter, dan bebas        tekanan itu di dalam masyarakat majemuk? Jika kita,        seperti analisis Habermas, membayangkan masyarakat        kompleks dewasa ini sebagai tiga komponen besar, yaitu        sistem ekonomi pasar (kapitalisme), sistem birokrasi        (negara), dan solidaritas sosial (masyarakat), lokus        ruang publik politis terletak pada komponen solidaritas        sosial. Dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang otonom        yang membedakan diri, baik dari pasar maupun dari        negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini,        sulitlah membayangkan adanya forum atau panggung        komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar        ataupun negara. Kebanyakan seminar, diskusi publik,        demonstrasi, dan seterusnya didanai, difasilitasi, dan        diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kuasa        bisnis, partai, atau organisasi internasional dan        seterusnya. Hampir tak ada lagi lokus yang netral dari        pengaruh ekonomi dan politik. Jika demikian, ruang        publik politis harus dimengerti secara "normatif": ruang        itu berada tidak hanya di dalam forum resmi, melainkan        di mana saja warga negara bertemu dan berkumpul        mendiskusikan tema yang relevan untuk masyarakat secara        bebas dari intervensi kekuatan-kekuatan di luar        pertemuan itu. Kita menemukan ruang publik politis,        misalnya, dalam gerakan protes, dalam aksi advokasi,        dalam forum perjuangan hak-hak asasi manusia, dalam        perbincangan politis interaktif di televisi atau radio,        dalam percakapan keprihatinan di warung-warung, dan        seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Berbeda dari demokrasi dalam masyarakat yang berukuran        relatif kecil dan homogen, demokrasi di dalam masyarakat        kompleks yang berukuran gigantis seperti masyarakat kita        tidak dapat berfungsi secara memuaskan hanya dengan        mengandalkan kinerja para wakil rakyat dalam DPR/MPR.        Subjek kedaulatan rakyat dalam masyarakat majemuk tidak        boleh dibatasi pada aktor-aktor parlementer. Subjek itu        seharusnya adalah para aktor dalam ruang publik politis,        dan mereka adalah apa yang kita sebut masyarakat sipil.        Mereka terdiri atas perkumpulan, organisasi, dan gerakan        yang terbentuk spontan untuk menyimak, memadatkan, dan        menyuarakan keras-keras ke dalam ruang publik politis        problem sosial yang berasal dari wilayah privat (&lt;strong&gt;3&lt;/strong&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Masyarakat sipil bukan hanya pelaku, melainkan juga        penghasil ruang publik politis. Seperti diteliti oleh J        Cohen dan A Arato, ruang publik politis yang dihasilkan        para aktor masyarakat sipil itu dicirikan oleh "pluralitas"        (seperti keluarga, kelompok nonformal, dan organisasi        sukarela), "publisitas" (seperti media massa dan        institusi budaya), "privasi" (seperti moral dan        pengembangan diri), dan "legalitas" (struktur hukum dan        hak-hak dasar) (&lt;strong&gt;4&lt;/strong&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Fungsi ruang publik politis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di        dalam rezim Soeharto, negara mengintervensi pembentukan        opini publik dengan alasan pemeliharaan stabilitas        nasional, mengawasi media massa secara ketat demi        keamanan nasional, menstigma para oposan, dan merintangi        pembentukan spontan kelompok-kelompok politis.        Pemerintah saat itu membenarkan politik represifnya        dengan alasan bahwa negara sudah diperlengkapi dengan        DPR/MPR untuk kanalisasi aspirasi publik, sementara        lembaga perwakilan ini berada di bawah dominasi        eksekutif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Masih basah dalam ingatan kita bagaimana pada setiap        pemilihan presiden terjadi kor setuju yang jadi ritual        bagi terpilihnya kembali Soeharto untuk kesekian kalinya.        Tak boleh ada beda pendapat. Aklamasi dipersiapkan        sebelumnya. Negara Orde Baru adalah sebuah sistem        administrasi otoriter yang merintangi pembentukan ruang        publik politis dengan menciptakan publik semu yang        bertindak seolah-olah mewakili volonte generale.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Negara Orde Baru tidak hanya tidak memiliki sambungan        pada sumber loyalitas dan legitimitasnya, melainkan juga        kekurangan sensibilitas terhadap masalah sosial yang        nyata dihadapi. Tak adanya sambungan inilah yang        menyebabkan rakyat menarik kembali legitimitas        pemerintahan Soeharto lewat gerakan reformasi. Reformasi        tak lain dari membangun jaringan yang menyambungkan        sistem politik dengan sumber legitimitasnya: rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam negara hukum demokratis, ruang publik politis        berfungsi sebagai sistem alarm dengan sensor peka yang        menjangkau seluruh masyarakat. Pertama, ia menerima dan        merumuskan situasi problem sosio-politis. Melampaui itu,        kedua, ia juga menjadi mediator antara keanekaragaman        gaya hidup dan orientasi nilai dalam masyarakat di satu        pihak dan sistem politik serta sistem ekonomi di lain        pihak. Kita bisa membayangkan ruang publik politis        sebagai struktur intermedier di antara masyarakat,        negara, dan ekonomi. Organisasi-organisasi sosial        berbasis agama, lembaga swadaya masyarakat, perhimpunan        cendekiawan, paguyuban etnis, kelompok solidaritas,        gerakan inisiatif warga, dan masih banyak lainnya dalam        ruang publik memberikan isyarat problem mereka agar        dapat dikelola oleh negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Ruang publik berfungsi baik secara politis jika secara        "transparan" memantulkan kembali persoalan yang dihadapi        langsung oleh yang terkena. Transparansi itu hanya        mungkin jika ruang publik tersebut otonom di hadapan        kuasa birokratis dan kuasa bisnis. Tuntutan normatif ini        tentu sulit didamaikan dengan fakta bahwa media        elektronik dan cetak di masyarakat kita kerap menghadapi        dilema yang tak mudah dipecahkan di hadapan tekanan        politis maupun pemilik modal. Namun, itu tak berarti        bahwa para pelaku ruang publik menyerah saja pada        imperatif pasar dan birokrasi. Tanpa memenuhi tuntutan        normatifnya, ruang publik hanya akan menjadi "ekstensi"        pasar dan negara belaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tentu sulit membayangkan ruang publik sebagai ruang        bebas kuasa. Sebaliknya, ruang publik politis justru        merupakan jaringan kekuasaan yang sangat kompleks karena        setiap bentuk perhimpunan dalam masyarakat kita        membentuk ruang publiknya sendiri yang ingin mendesakkan        kebutuhannya. Kita dapat memakai hasil analisis Habermas        untuk membedakan dua tipe ruang publik politis dalam        masyarakat kita (&lt;strong&gt;5&lt;/strong&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tipe pertama-sebut saja "ruang publik autentik"-adalah        ruang publik yang terdiri atas proses komunikasi yang        diselenggarakan oleh institusi nonformal yang        mengorganisasikan dirinya sendiri. Komunikasi di sini        terjalin secara horizontal, inklusif, dan diskursif.        Para aktor dalam tipe pertama ini berasal dari publik        itu sendiri, hidup dari kekuatan mereka sendiri, dan        berpartisipasi dalam diseminasi, multiplikasi, dan        proteksi ruang publik. Gerakan mahasiswa yang mendorong        reformasi adalah contoh tipe pertama ini. Dalam gerakan        inilah kita menyaksikan lahirnya ruang publik politis di        negeri kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Para aktor ruang publik autentik memiliki kepekaan atas        bahaya-bahaya yang mengancam hak-hak komunikasi kita        sebagai warga negara dan menentang setiap upaya        merepresi kelompok-kelompok minoritas dan marjinal.        Perkembangan ruang autentik ini akan banyak ditentukan        oleh civic courage dan civic friendship yang tumbuh di        antara warga negara. Ini tampak, misalnya, dalam        keberanian sebuah media menyiarkan, menerbitkan, atau        menayangkan berita yang menjadi hak publik untuk        mengetahuinya, tetapi menohok kepentingan pemodal        ataupun birokrasi: dalam gerakan pemberantasan korupsi        misalnya. Multiplikasi aktor ataupun lembaga yang        memiliki civic virtues seperti ini merupakan syarat        pembentukan ruang publik autentik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tipe kedua-"ruang publik tak autentik"– adalah kekuatan        pengaruh atas keputusan para pemilih, konsumen, dan        klien untuk memobilisasi loyalitas, daya beli, dan        perilaku mereka lewat media massa. Berbeda dari yang        pertama, para aktor di sini hanya "memakai" ruang publik        yang sudah ada dengan bantuan sumber-sumber dari luar        mereka, yakni uang dan kuasa. Partai politik dan        asosiasi bisnis dalam masyarakat kita tercakup dalam        tipe kedua ini. Ruang publik macam inilah yang dominan        di dalam masyarakat yang menjalankan kesehariannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Setelah gerakan mahasiswa ikut mendorong delegitimasi        rezim Soeharto di tahun 1998, ruang publik yang terbuka        segera diduduki oleh kekuatan pasar dan birokrasi.        Menumbuhkan ruang publik berarti tidak hanya        multiplikasi ruang publik autentik, melainkan juga terus        mengontrol kiprah para pelaku ruang publik tak autentik.        Masyarakat harus membebaskan diri dari budaya bungkam ke        budaya kritis, dari indeferensi ke partisipasi politis,        dari watak massa ke komunitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di        dalam negara hukum demokratis, media massa merupakan        kekuatan keempat setelah eksekutif, legislatif, dan        yudikatif. Media massa dapat berfungsi secara benar        dalam ruang publik politis jika otonom tidak hanya dari        negara dan pasar, melainkan juga dari para aktor ruang        publik itu sendiri. Ia harus mampu menetralkan pengaruh        uang dan kekuasaan yang dapat memanipulasi ruang publik        politis. Ia memang tak mungkin lepas sama sekali dari        para aktor tipe kedua, tetapi ia dapat dan seharusnya        menangkap dan melontarkan suara-suara yang mencerminkan        kepublikan seluas-luasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Komunikasi antara ruang publik dan sistem        politik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sudah dikatakan di atas bahwa reformasi tak lain        daripada upaya membuka kanal-kanal komunikasi politis        dalam masyarakat majemuk. Sementara dalam revolusi bisa        saja sistem negara berubah, dalam reformasi sistem        negara hukum yang telah ada diradikalkan secara        komunikatif. Reformasi tak lain daripada menyingkirkan        rintangan komunikasi politis antara sistem politik (eksekutif,        legislatif, dan yudikatif) dan ruang publik politis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Menurut Habermas, negara hukum modern berciri demokratis        jika terjadi komunikasi politis intensif antara ruang        publik dan sistem politik (&lt;strong&gt;6&lt;/strong&gt;).        Habermas, menurut hemat saya, berhasil menjelaskan suatu        persoalan besar yang dicari para aktivis sosial dan        politis di dalam masyarakat kita, yaitu bagaimana        menyambungkan aspirasi masyarakat luas, korban,        minoritas, dan seterusnya yang diwakili oleh organisasi        nonformal dengan sistem politik. Model diskursivitas        antara ruang publik dan sistem politik dapat menjelaskan        itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam ruang publik politis, masyarakat sipil        melangsungkan diskursus publik dalam berbagai bentuk dan        isi. Pluralisme keyakinan dan pendapat ini sering        berkontroversi satu sama lain, dari yang memiliki niveau        yang rendah sampai yang tinggi. Suara-suara dalam ruang        publik politis berciri anarkis dan tak terstruktur.        Ruang publik politis adalah lokus baik bagi komunikasi        yang manipulatif maupun komunikasi yang tak terbatas.        Meski demikian, bukan berarti bahwa suara-suara itu        dapat diterima begitu saja sebagai opini publik.        Andaikata semua suara memiliki akses dalam proses        pengambilan keputusan publik tanpa saringan, kiranya        pemerintahan semacam itu tidak hanya buruk, melainkan        juga dapat dianggap tak ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di        sini kita bisa membayangkan adanya dua macam filter        dalam prosedur demokratis: filter dalam ruang publik        politis itu sendiri dan filter sistem politik. Suatu        opini memiliki kualitas sebagai opini publik jika lolos        dari filter ruang publik. Publik pembaca dan pendengar        bisa saja dimanipulasi ataupun diintimidasi untuk        menerima sebuah opini, tetapi opini macam itu tetap akan        dipersoalkan autentisitasnya selama publik tetap        mendapat akses untuk menguji kesahihannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Segala yang terbukti sebagai hasil manipulasi dan        intimidasi-jika pengujian publik dibuka-tidak dapat        dihitung sebagai opini publik. Tentu saja manipulasi dan        intimidasi bisa sangat terancang secara sistemis,        seperti misalnya dalam rezim Nazi atau rezim komunis.        Namun, sekali "sistem dusta" ini terbongkar dan terbuka        di mata publik, segala keyakinan yang selama rezim teror        itu dipegang teguh dalam pemerintahan demokratis akan        terbukti sebagai manipulasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tidak dapat disangkal bahwa kekuasaan sosial dan kerap        juga kekuasaan politis ikut bermain menentukan proses        penyaringan opini dalam ruang publik politis itu. Tidak        hanya ada figur-figur berpengaruh, melainkan juga        lembaga- lembaga yang disegani dan memiliki kekuasaan.        Namun, sekali lagi, selama peranan kekuasaan ini dapat        diperiksa secara publik, opini yang dipengaruhi oleh        kekuasaan itu tidak imun terhadap kritik publik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kita menyaksikan sendiri dalam masyarakat kita bagaimana        korupsi hanya bisa dibasmi jika publik ikut berperan        sebab korupsi-seperti juga dusta dan        rahasia-menyembunyikan diri dari sorotan publik. Rapat        atau longgarnya filter dalam ruang publik itu banyak        ditentukan oleh publik itu sendiri. Semakin kritis dan        vital suatu masyarakat, semakin rinci publik dalam        masyarakat itu mengembangkan filternya. Koran-koran yang        provokatif memang dibiarkan, tetapi jika provokasi        politis dikenali sebagai provokasi belaka, koran-koran        macam itu akan ditinggalkan dan gairah mencari sensasi        akan berimigrasi ke bidang-bidang lain, misalnya seni,        gaya hidup, atau erotisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Jika publik itu cerdas, akan terjadi seleksi rasional di        antara argumen-argumen dengan kemenangan argumen yang        lebih baik, yang lalu mendapat kualitas sebagai opini        publik. Karena komunikasi publik mengikuti norma argumen        yang lebih baik, kualitas suara akan lebih menentukan        daripada kuantitasnya. Apakah sebuah argumen yang lebih        baik akan mendapatkan mayoritas suara atau tidak, akan        banyak ditentukan oleh kualitas publik itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Perjuangan mendapat pengakuan publik itu akan memasuki        tahap politisnya jika suatu opini publik masuk ke dalam        filter sistem politik. Dalam sistem politik terdapat        juga suatu publik. Publik di sini memiliki kualitas        berbeda daripada publik dalam ruang publik politis.        Berbeda dari yang terakhir ini, publik dalam sistem        politik tersebut kuat karena kedekatan akses mereka        dalam pengambilan keputusan publik: wakil rakyat,        presiden, kabinet, lembaga yudikatif, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Filter sistem politik terdiri dari sistem atau prosedur        hukum: konstitusi dan produk perundang-undangannya.        Prosedur legal ini dapat diasalkan dari hasil komunikasi        politis sebelumnya antara ruang publik politis dan        sistem politik. Dengan kata lain, filter sistem politik        tersebut juga tidak boleh dijauhkan dari pengujian        diskursif publik. Opini publik yang masuk ke dalam        filter itu dan meraih mayoritas di dalam sistem        legislatif akan berubah kualitasnya menjadi keputusan        publik: produk hukum. Bahasa sehari-hari yang digunakan        dalam ruang publik politis diterjemahkan ke dalam bahasa        hukum yang bersifat resmi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Suatu masyarakat majemuk yang memiliki ruang publik        politis yang vital dapat kita sebut sebagai masyarakat        kuat. Masyarakat kuat semacam ini harus diimbangi dengan        pemerintahan yang kuat juga. Suatu masyarakat yang        memiliki gairah demokratisasi yang kuat, tetapi sistem        politiknya lemah, tak akan sanggup menyaring desakan        kekuasaan massa yang masuk untuk memaksakan kehendaknya.        Ini terjadi dalam "anarkisme". Sebaliknya, suatu sistem        politik yang otonom dari masyarakatnya dan cenderung        berjalan menurut logika kekuasaannya akan melenyapkan        ruang publik politis itu. Ini terjadi dalam        totalitarianisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sebuah negara hukum demokratis harus memiliki masyarakat        yang kuat maupun kepemimpinan yang kuat. Sistem politik        tidak boleh menjadi independen dari ruang publik politis.        Ia harus terus mendapatkan makanan dan hidupnya dari        ruang publik itu karena dari situ pulalah ia meraih        sumber loyalitas dan legitimitasnya. Pemerintahan yang        kuat dalam arti ini adalah pemerintahan yang mampu        memperlancar komunikasi politis antara sistem politik        dan masyarakat sipil dalam ruang publik politis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Ide tentang ruang publik politis, sebagaimana diulas di        atas, dapat merekonstruksi konsep klasik tentang        kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat bukanlah demokrasi        langsung dalam arti aksi-aksi massa untuk memaksakan        kehendak kepada sistem politik. Di dalam negara hukum        demokratis batas-batas antara negara dan masyarakat        harus dihormati, tetapi batas-batas itu tidak boleh        dijaga terlalu kaku. Respek terhadap batas-batas antara        masyarakat dan negara harus disertai upaya-upaya untuk        mencairkan proses komunikasi di antara keduanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Pemahaman tentang ruang publik politis mengambil jarak        terhadap ide demokrasi langsung. Jika kita menerima ide        ruang publik politis, kita harus menerima suatu model        demokrasi representatif sebagaimana biasanya        dilaksanakan dalam negara-negara hukum modern. Namun,        demokrasi representatif itu berada dalam kontrol publik        dengan jaringan-jaringan kerjanya. Kontrol publik lalu        bersifat tidak langsung, yaitu lewat dikursivitas.        Diskursivitas antara ruang publik politis dan sistem        politik itulah realisasi ide kedaulatan rakyat di dalam        masyarakat majemuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       &lt;strong&gt;F Budi Hardiman&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pengajar Program        Magister Filsafat STF Driyarkara dan Doktor Hukum di        Universitas Pelita Harapan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       1. Lihat Habermas, J, Strukturwandel der Oeffenlichkeit,        STW, Frankfurt aM, 1990, hlm 38&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       2. Lihat Budi Hardiman, F, Demokratie als Diskurs, (tesis        tak diterbitkan), Munich, 1996, hlm 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       3. Lihat Habermas, J, Faktizitaet und Geltung, Shurkamp,        Frankfurt aM, 1992, hlm 443&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       4. Budi Hardiman, hlm 52&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       5. Bdk Habermas, J, Strukturwandel der Oeffentlichkeit,        STW, Frankfurt aM, 1990, hlm 28&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       6. Lihat Budi Hardiman, hlm 57&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;Kompas        Cyber Media&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-7518408518586819569?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/7518408518586819569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=7518408518586819569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7518408518586819569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7518408518586819569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/ruang-publik-politis-komunikasi-politis.html' title='Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat Majemuk'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-1442036991438625307</id><published>2009-02-23T02:21:00.001-08:00</published><updated>2009-02-23T02:21:54.899-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Media Massa, Pemerintah dan Humas</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;color:#000000;"&gt;       Media Massa, Pemerintah dan Humas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;       &lt;br /&gt;      Media massa sering dikatakan memiliki peran sebagai "anjing        penjaga" dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan        pemerintah. Salah satu manfaat utama pers yang bebas        dalam sistem demokrasi sering dinyatakan dengan        kewajiban untuk menyediakan informasi pada masyarakat        mengenai kinerja pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tetapi,        sukar ditemukan alasan yang mendasari pers sebagai "anjing        penjaga" kinerja pemerintah. Istilah tersebut        mengesankan bahwa pers telah menjadi perwakilan dari        rakyat untuk 'menjaga' dan 'memerhatikan' kinerja        pemerintah. Dengan asumsi itu, pemerintah terkesan        selalu salah, sementara pers selalu benar. Pers pun        memandang bahwa institusinya berdedikasi tinggi apabila        sukses memperlihatkan 'kegagalan' pemerintah. Dengan        senang hati, pers memublikasikan informasi yang bisa        meningkatkan oplah, mengisi komersial slot tanpa        khawatir bahwa yang dipublikasikan dapat berdampak buruk        pada masyarakat. Kenyataannya, pers pada umumnya adalah        institusi swasta yang berorientasi pada laba.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pers itu        bebas, termasuk untuk berpihak. Contohnya, sebuah media        massa dapat mendukung semua kebijakan pemerintah atau        mungkin menentang kebijakan lainnya. Atau bisa saja        bersikap mendua terhadap suatu kebijakan, kadang        bersikap pro dan kadang bersikap kontra. Sebuah media        massa bisa menentukan diri sebagai lawan pemerintah,        atau sebagai 'pengawal' kebijakan pemerintah. Sebuah        media massa dapat mengritisi dan menentukan bagaimana        suatu kebijakan menjadi kesalahan. Media massa dapat        bertindak sebagai "anjing penjaga" atau "senjata" untuk        mendukung atau sebaliknya menyerang pemerintah. &lt;/span&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Suara        pemerintah bisa menjadi bahan perbincangan, perdebatan        dan interpretasi oleh figur-figur media. Pernyataan        pemerintah segera ditanggapi dalam tajuk rencana yang        menginterpretasikan apa yang 'sebenarnya' dikatakan oleh        pejabat tersebut dan apa yang 'sebenarnya' dimaksudkan.        Sayangnya, kadang interpretasi tersebut cenderung        premature dan instant. Analisis instan segera menjadi        bias instan. Distorsi kerap terjadi hingga menyesatkan        masyarakat. Hal-hal demikian berdampak negatif pada        pemberitaan mengenai pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Benarkah        pemerintah membutuhkan pers sebagai kanal informasi        untuk masyarakat? Benarkah pemerintah tanpa pers        benar-benar tidak berdaya untuk menyosialisasikan        kebijakan dan pelayanan publik? Benarkah hubungan yang        terjalin antara media massa swasta dan pemerintah layak        dijalankan meskipun ada kemungkinan besar terjadi        pengemasan berita yang bias hingga mengarah pada        runtuhnya kepercayaan masyarakat?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;       Kenyataannya, banyak jurnalis bergantung pada aparat        pemerintah untuk pemberitaan. Faktanya, semua informasi        yang diberitakan oleh media massa tentang pemerintah        didapat dari (bahkan divalidasi oleh) pejabat pemerintah,        termasuk mengenai event-event nasional, kecuali bila        mereka mendapat informasi dari sumber berita otoritas        berwenang. Secara tradisional, jurnalis tergantung serta        harus bekerja sama dangan sumber resmi pemerintah.        Pemerintah memberikan respons dengan menyediakan        informasi yang padat dan seimbang, undangan untuk        berpartisipasi pada berbagai kegiatan, bahkan        menyediakan 'tunjangan' demi menghindari publikasi        negatif. Ungkapan "WTS" (Wartawan Tanpa Surat Kabar),        Wartawan CNN (Wartawan Cuma Nanya-nanya) pun tetap        populer di kalangan jurnalis yang sering mencari berita        di instansi-instansi pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Agar        masyarakat menerima informasi yang jernih dan berimbang,        pemerintah harus lebih melibatkan diri dalam dunia media        massa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;b&gt;Peran        Humas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;       Pemerintah saat ini telah memiliki kapasitas untuk        mengungkapkan informasi secara langsung. Kembalinya        Departemen Penerangan dengan kemasan baru, kehadiran        beragam situs resmi instansi pemerintah yang telah        menghabiskan anggaran miliaran rupiah, kehadiran puluhan        media massa internal pemerintah serta beragam jurnal        menunjukkan kemampuan pemerintah menyediakan informasi        yang dibutuhkan masyarakat. Dhus, pemerintah sebaiknya        mulai mengurangi peran instansi swasta dalam pemberian        informasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Hampir        seluruh instansi pemerintah memiliki kantor humas,        divisi yang melakukan manajemen media massa, pembangun        citra, jembatan pemerintah dengan masyarakat, serta        penghubung pemerintah dengan pers. Kantor humas telah        melakukan publikasi internal, memberdayakan        kantor-kantor wilayah serta unit pelayanan teknis agar        berperan sebagai outlet informasi. Pejabat humas        pemerintah sebenarnya memiliki kemampuan bersaing dengan        editor institusi swasta, khususnya dalam uji kompetensi.        Tetapi, citra pegawai negeri sipil selama ini selalu        dianggap korup dan terlalu santai. Kesan negatif pun        telanjur menancap di benak masyarakat kita. Citra        warisan yang telah berumur puluhan tahun yang semestinya        diubah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sebelum        bola reformasi bergulir, pemerintah memiliki imej        sebagai manipulator informasi. Bahkan setelah reformasi,        imej ini tidak banyak berubah. Pemerintah seolah        dianggap 'musuh' yang harus dilawan. Dengan bergulirnya        reformasi, pemerintah menransformasikan diri agar        menjadi pemerintahan yang bersih dan benar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;       Masyarakat telah memahami hak-haknya yang sekaligus juga        menjadi kewajiban pemerintah. Dalam bidang pelayanan        publik, masyarakat menuntut sistem pemerintahan yang        bersih dan transparan. Masyarakat berhak atas akses        informasi, sebaliknya pemerintah wajib menjamin akses        tersebut terjaga dan terkontrol agar tidak menimbulkan        ekses negatif akibat eksploitasi pemberitaan yang        bombastis. Karena, pada akhirnya rakyat juga yang        dirugikan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Wajah        aparat birokrasi kita yang memang carut-marut sudah        saatnya diperhatikan melalui perbaikan gaji sekaligus        perbaikan kinerja dengan terus meningkatkan citra        pegawai negeri dan membangun sistem yang transparan.        Tentu implementasinya tidaklah mudah karena tradisi yang        tercipta selama puluhan tahun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Seiring        dengan perubahan menuju tatanan baru demokrasi,        reformasi segala bidang termasuk di dalamnya reformasi        performa pegawai negeri, sistem kehumasan serta sistem        hubungan dengan media massa, maka memberdayakan divisi        humas untuk mengubah citra aparat birokrasi agar lebih        tanggap menyikapi fenomena masyarakat, sangat penting.        Perkembangan teknologi informasi menuntut divisi humas        dituntut lebih responsif terhadap keluhan masyarakat.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Bahwa        institusi pemerintah tidaklah seburuk yang disangka dan        pegawai negeri adalah juga rakyat Indonesia. Seyogianya        kantor-kantor humas memang harus diberdayakan untuk        menjaga nama baik aparat pemerintah serta menjalin kerja        sama dengan pers agar tercipta pemberitaan yang        berimbang, bermanfaat, dan bertanggung jawab. ***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#000000;"&gt;&lt;i&gt;Oleh:        Fatma Puspita Sari, pegawai negeri sipil, alumnus        Jurusan Ilmu Komunikasi Massa,&lt;br /&gt;      Fakultas Sospol Universitas Sebelas Maret Solo.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;b&gt;       &lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Suara Karya Online&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-1442036991438625307?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/1442036991438625307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=1442036991438625307' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1442036991438625307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1442036991438625307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/media-massa-pemerintah-dan-humas.html' title='Media Massa, Pemerintah dan Humas'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6951772699833023640</id><published>2009-02-16T00:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:39:49.750-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi data'/><title type='text'>JARINGAN KOMUNIKASI DATA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;JARINGAN KOMUNIKASI DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Komunikasi data atau &lt;a href="http://solution-blog-solution.blogspot.com/"&gt;Jaringan Komputer&lt;/a&gt; merupakan sekumpulan komputer yang saling terhubung satu sama lain menggunakan protokol dan media transmisi tertentu. Berdasarkan luas area cakupan yang dicapai &lt;a href="http://solution-blog-solution.blogspot.com/"&gt;jaringan komputer&lt;/a&gt; dapat diklasifikan menjadi : Local Area Network (LAN) dan Wide area Network (WAN). Luas cakupan LAN lebih kecil dari WAN biasanya terdiri dari sekelompok gedung yang saling berdekatan.&lt;br /&gt;TOPOLOGI JARINGAN&lt;br /&gt;Topologi jaringan merupakan suatu cara untuk menghubungkan komputer atau terminal-terminal dalam suatu jaringan. Model dari topologi jaringan yang ada antara lain: Star, Loop, ring dan Bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topologi Star&lt;br /&gt;Pada topologi ini LAN terdiri dari sebuah cntral node yang berfungsi sebagai pengatur arus informasi dan penanggung jawa komunikasi dalam suatu jaringan. Jadi jika node yang satu ingin berkomunikasi dengan node yang lain maka harus melalui sentral node. Fungsi central node disini sangat penting, biasanya dalam sistem ini harus mempunyai kehandalan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topologi Bus&lt;br /&gt;Pada topologi bus ini, node yang satu dengan node yang lain dihubungkan dengan jalur data atau bus. Semua node memiliki status yang sama antara satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topologi Loop&lt;br /&gt;Topologi Loop ini menghubungkan antar node secara serial dalam bentuk suatu lingkaran tertutup. Semua node memiliki status yang sama.&lt;br /&gt;Pada topologi loop ini, setiap node dapat melakukan tugas untuk operasi yang berbeda-beda. Topologi ini memiliki kelemahan, jika salah satu node rusak maka akan dapt menyebabkan gangguan komunikasi antar node satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topologi Ring&lt;br /&gt;Topologi ring atau topologi cincin ini merupakan topologi hasil penggabungan antara topologi loop dengan topologi bus. Keuntungannya adalah bahwa jika salah satu node rusak, maka tidak akan mengganggu jalannya komunikasi antar node karena node yang rusak tersebtu diletakkan terpisah dari jalur data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROTOKOL&lt;br /&gt;Protokol dipergunakan untuk proses &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20data"&gt;komunikasi data&lt;/a&gt; dari sistem-sistem yang berbeda-beda. Protokol merupakan sekumpulan aturan yang mendefinisikan beberapa fungsi seperti pembuatan hubungan, proses transfer suatu file, serta memecahkan berbagai masalah khusus yang berhubungan dengan komunikasi data antara alat-alat komunikasi tersebut supaya komunikasi dapat berjalan dan dilakukan dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang berhubungan dengan tugas-tugas protokol antara lain:&lt;br /&gt;1.    Mengaktifkan jalur komunikasi data langsung, serta sistem sumber harus menginformasikan identitas sistem tujuan yang diinginkan kepada &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20data"&gt;jaringan komunikasi.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Sistem sumber harus dapat memastikan bahwa sistem tujuan benar-benar telah siap untuk menerima data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Aplikasi transfer file pada sistem sumber harus dapat memastikan bahwa program manajemen file pada sistem tujuan benar-benar dipersiapkan untuk menerima dan menyimpan file untuk beberapa user tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Bila format-format file yang dipergunakan pada kedua sistem tersebtu tidak kompatibel, maka salah satu satau sistem yang lain harus mamapu melakukan fungsi penerjemahan format.&lt;br /&gt;Standarisasi Protokol&lt;br /&gt;Beragamnya berbagai komponen dan perangkat komputer dalam suatu jaringan, membutuhkan suatu standard protokol yang dapt digunakan oleh beragam perangkat tersebut. Modedl OSI (Open Systems Interconnection) dikembangkan oleh ISO(International Organization for Standardization) sebagai model untuk arsitektur komunikasi komputer, serta sebagai kerangka kerja bagi pengembangan standard-standard protokol. Model OSI terdiri dari tujuh lapisan, yaitu :&lt;br /&gt;•    Application&lt;br /&gt;•    Presentation&lt;br /&gt;•    Session&lt;br /&gt;•    Transport&lt;br /&gt;•    Network&lt;br /&gt;•    Data Link&lt;br /&gt;•    Physical&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan dari ketujuh lapisan OSI diatas dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.    Application Layer&lt;br /&gt;Merupakan lapisan yang menyediakan akses ke lingkungan OSI bagi pengguna serta menyediakan layanan informasi terdistribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Presentation Layer&lt;br /&gt;Menyediakan keleluasaan terhadap proses aplikasi untuk bermacam-macam representasi data. Juga melakukan proses kompresi dan enkripsi data agar keamanan dapat lebih terjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Session Layer&lt;br /&gt;Menyediakan struktur kontrol untuk komunikasi diantara aplikasi-aplikasi; menentukan, menyusun, mengatur dan mengakhiri sesi koneksi diantara aplikasi-aplikasi yang sedang beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Transport Layer&lt;br /&gt;Menyediakan transfer data yang handal dan transparan diantara titik-titik ujung; menyediakan perbaikan end to end error dan flow control.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Network Layer&lt;br /&gt;Melengkapi lapisan yang lebih tinggi dengan keleluasaan dari transmisi data dan teknologi-teknologi switching yang dipergunakan untuk menghubungkan sistem; bertugas menyusun, mempertahankan, serta mengakhiri koneksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Data Link Layer&lt;br /&gt;Menyediakan transfer informasi yang reliabel melewati link fisik; mengirimi block (frame) dengan sinkronisasi yang diperlukan, kontrol error, dan flow control.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Physical Layer&lt;br /&gt;Berkaitan dengan transmisi bit stream yang tidak terstruktur sepanjang media physical (physical medium); berhubungan dengan karakteristik prosedural, fungsi, elektris, dan mekanis untuk mengakses media fisikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6951772699833023640?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6951772699833023640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6951772699833023640' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6951772699833023640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6951772699833023640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/jaringan-komunikasi-data.html' title='JARINGAN KOMUNIKASI DATA'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-7960284770492476606</id><published>2009-02-16T00:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:35:23.480-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi data'/><title type='text'>BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI DATA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sistem &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komunikasi-data.html"&gt;komunikasi data&lt;/a&gt; dapat berbentuk offline communication system (sistem komunikasi offline) atau online communication system (sistem &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;komunikasi&lt;/a&gt; online). Sistem komunikasi data dapat dimulai dengan sistem yang sederhana, seperti misalnya jaringan akses terminal, yaitu jaringan yang memungkinkan seorang operator mendapatkan akses ke fasilitas yang tersedia dalam jaringan tersebut. Operator bisa mengakses komputer guna memperoleh fasilitas, misalnya menjalankan program aplikasi, mengakses database, dan melakukan komunikasi dengan operator lain. Dalam lingkungan ideal, semua fasilitas ini harus tampak seakan-akan dalam terminalnya, walaupun sesungguhnya secara fisik berada pada lokasi yang terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Komunikasi Off line.&lt;br /&gt;Sistem komunikasi Offline adalah suatu sistem pengiriman data melalui fasilitas telekomunikasi dari satu lokasi ke pusat pengolahan data, tetapi data yang dikirim tidak langsung diproses oleh CPU (Central Processing Unit). Seperti pada Gambar 4.3, di mana data yang akan diproses dibaca oleh terminal, kemudian dengan menggunakan modem, data tersebut dikirim melalui telekomunikasi. Di tempat tujuan data diterima juga oleh modem, kemudian oleh terminal, data disimpan ke alamat perekam seperti pada disket, magnetic tape, dan lain-lain. Dari alat perekam data ini, nantinya dapat diproses oleh komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan-peralatan yang diperlukan dalam sistem komunikasi offline, antara lain :&lt;br /&gt;1. Terminal&lt;br /&gt;Terminal adalah suatu I/O device yang digunakan untuk mengirim data dan menerima data jarak jauh dengan menggunakan fasilitas telekomunikasi. Peralatan terminal ini bermacam-macam, seperti magnetic tape unit, disk drive, paper tape, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jalur komunikasi&lt;br /&gt;Jalur &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;komunikasi&lt;/a&gt; adalah fasilitas telekomunikasi yang sering digunakan, seperti :                 telepon, telegraf, telex, dan dapat juga dengan fasilitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Modem&lt;br /&gt;Model adalah singkatan dari Modulator / Demodulator. Suatu alat yang mengalihkan data dari sistem kode digital ke dalam sistem kode analog dan sebaliknya.&lt;br /&gt;Sistem Komunikasi On line.&lt;br /&gt;Pada sistem komunikasi On line ini, data yang dikirim melalui terminal komputer bisa langsung diperoleh, langsung diproses oleh komputer pada saat kita membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20data"&gt;Sistem Komunikasi&lt;/a&gt; On line ini dapat berupa:&lt;br /&gt;•    Realtime system&lt;br /&gt;•    Batch Processing system&lt;br /&gt;•    Time sharing system&lt;br /&gt;•    Distributed data processing system&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realtime system&lt;br /&gt;Suatu realtime system memungkinkan untuk mengirimkan data ke pusat komputer, diproses di pusat komputer seketika pada saat data diterima dan kemudia mengirimkan kembali hasil pengolahan ke pengirim data saat itu juga. American Airlines merupakan perusahaan yang pertama kali mempelopori sistem ini. Dengan realtime system ini, penumpang pesawat terbang dari suatu bandara atau agen tertentu dapat memesan tiket untuk suatu penerbangan tertentu dan mendapatkan hasilnya kurang dari 15 detik, hanya sekedar untuk mengetahui apakah masih ada tempat duduk di pesawat atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem realtime ini juga memungkinkan penghapusan waktu yang diperlukan untuk pengumpulan data dan distribusi data. Dalam hal ini berlaku komunikasi dua arah, yaitu pengiriman dan penerimaan respon dari pusat komputer dalam waktu yang relatif cepat.&lt;br /&gt;Pada realtime system, merupakan komunikasi data dengan kecepatan tinggi. Kebutuhan informasi harus dapat dipenuhi pada saat yang sama atau dalam waktu seketika itu juga. Pada sistem ini proses dilakukan dalam hitungan beberapa detik saja, sehingga diperlukan jalur komunikasi yang cepat, sistem pengolahan yang cepat serta sistem memori dan penampungan atau buffer yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan sistem ini memerlukan suatu teknik dalam hal sistem disain, dan pemrograman, hal ini disebabkan karena pada pusat komputer dibutuhkan suatu bank data atau database yang siap untuk setiap kebutuhan. Biasanya peralatan yang digunakan sebagai database adalah magnetic disk storage, karena dapat mengolah secara direct access (akses langsung), dan perlu diketahui bahwa pada sistem ini menggunakan kemampuan multiprogramming, untuk melayani berbagai macam keperluan dalam satu waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time sharing system&lt;br /&gt;Time sharing system adalah suatu teknik penggunaan online system oleh beberapa pemakai secara bergantian menurut waktu yang diperlukan pemakai (gambar 4.5). Disebabkan waktu perkembangan proses CPU semakin cepat, sedangkan alat Input/Output tidak dapat mengimbangi kecepatan dari CPU, maka kecepatan dari CPU dapat digunakan secara efisien dengan melayani beberapa alat I/O secara bergantian. Christopher Strachy pada tahun 1959 telah memberikan ide mengenai pembagian waktu yang dilakukan oleh CPU. Baru pada tahun 1961, pertama kali sistem yang benar-benar berbentuk time sharing system dilakukan di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan diberi nama CTSS (Compatible Time Sharing System) yang bisa melayani sebanyak 8 pemakai dengan menggunakan komputer IBM 7090.&lt;br /&gt;Salah satu penggunaan time sharing system ini dapat dilihat dalam pemakaian suatu teller terminal pada suatu bank. Bilamana seorang nasabah datang ke bank tersebut untuk menyimpan uang atau mengambil uang, maka buku tabungannya ditempatkan pada terminal. Dan oleh operator pada terminal tersebut dicatat melalui papan ketik (keyboard), kemudian data tersebut dikirim secara langsung ke pusat komputer, memprosesnya, menghitung jumlah uang seperti yang dikehendaki, dan mencetaknya pada buku tabungan tersebut untuk transaksi yang baru saja dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distributed data processing system&lt;br /&gt;Distributed data processing (DDP) system merupakan bentuk yang sering digunakan sekarang sebagai perkembangan dari time sharing system. Bila beberapa sistem komputer yang bebas tersebar yang masing-masing dapat memproses data sendiri dan dihubungkan dengan jaringan telekomunikasi, maka istilah time sharing sudah tidak tepat lagi. DDP system dapat didefinisikan sebagai suatu sistem komputer interaktif yang terpencar secara geografis dan dihubungkan dengan jalur telekomunikasi dan seitap komputer mampu memproses data secara mandiri dan mempunyai kemampuan berhubungan dengan komputer lain dalam suatu sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap lokasi menggunakan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20data"&gt;komputer&lt;/a&gt; yang lebih kecil dari komputer pusat dan mempunyai simpanan luar sendiri serta dapat melakukan pengolahan data sendiri. Pekerjaan yang terlalu besar yang tidak dapat dioleh di tempat sendiri, dapat diambil dari komputer pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-7960284770492476606?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/7960284770492476606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=7960284770492476606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7960284770492476606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7960284770492476606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/bentuk-bentuk-komunikasi-data.html' title='BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI DATA'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6374896419923282087</id><published>2009-02-16T00:29:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:31:16.139-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi data'/><title type='text'>Untuk mempermudah pengertian komunikasi data</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mempermudah pengertian, komunikasi dapat dijelaskan dengan suatu model komunikasi yang sederhana, Kegunaan dasar dari sistem komunikasi ini adalah menjalankan pertukaran data antara 2 pihak. diberikan contoh, yaitu komunikasi antara sebuah workstation dan sebuah server yang dihubungkan sengan sebuah jaringan telepon. Contoh lainnya bisa berupa pertukaran sinyal-sinyal suara antara 2 telepon pada satu jaringan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini penjelasan dari contoh komunikasi data tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Source (Sumber). Peralatan ini membangkitkan data sehingga dapat ditransmisikan. Misalkan telepon dan PC (Personal Computer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Transmiter (Pengirim). Biasanya data yang dibangkitkan dari sistem sumber tidak ditransmisikan secara langsung dalam bentuk aslinya. Sebuah transmisi cukup memindah dan menandai informasi dengan cara yang sama seperti menghasilkan sinyal-sinyal elektromagnetik yang dapat ditransmisikan melewati beberapa sistem transmisi berurutan. Sebagai contoh, sebuah modem tugasnya menyalurkan suatu digital bit stream dari suatu alat yang sebelumnya sudah dipersiapkan misalnya PC, dan menstransformasikan bit stream tersebut menjadi suatu sinyal analog yang dapat ditransmisikan melalui jaringan telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sistem Transmisi. Berupa jalur transmisi tunggal atau jaringan kompleks yang menghubungkan antara sumber dengan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Receiver (Penerima). Receiver menerima sinyal dari sistem transmisi dan menggabungkannya ke dalam bentuk tertentu yang dapat ditangkap oleh tujuan. Sebagai contoh, sebuah modem akan menerima suatu sinyal analog yang datang dari jaringan atau jalur transmisi dan mengubahnya menjadi suatu digital bit stream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Destination (Tujuan). Menangkap data yang dihasilkan okeh receiver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6374896419923282087?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6374896419923282087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6374896419923282087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6374896419923282087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6374896419923282087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/untuk-mempermudah-pengertian-komunikasi.html' title='Untuk mempermudah pengertian komunikasi data'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5243554930035002372</id><published>2009-02-16T00:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:28:35.708-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi data'/><title type='text'>MODEL KOMUNIKASI Data</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;MODEL KOMUNIKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses komunikasi data dari satu lokasi ke lokasi yang lain, harus ada minimal 3 unsur utama sistem yaitu sumber data, media transmisi dan penerima. Andaikan salah satu unsur tidak ada, maka komunikasi tidak dapat dilakukan. Secara garis besar &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/dasar-komunikasi.html"&gt;proses komunikasi&lt;/a&gt; &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komunikasi-data.html"&gt;data &lt;/a&gt;digambarkan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Data.&lt;br /&gt;Pengertian sumber data adalah unsur yang bertugas untuk mengirimkan informasi, misalkan terminal komputer, Sumber data ini membangkitkan berita atau &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komunikasi-data.html"&gt;informasi&lt;/a&gt; dan menempatkannya pada media transmisi. Sumber pada umumnya dilengkapi dengan transmitter yang berfungsi untuk mengubah informasi yang akan dikirimkan menjadi bentuk yang sesuai dengan media transmisi yang digunakan, antara lain pulsa listrik, gelombang elektromagnetik, pulsa digital. Contoh dari transmisi adalah modem yaitu perangkat yang bertugas untuk membangkitkan digital bitstream dari PC sebagai sumber data mejadi analog yang dapat dikirimkan melalui jaringan telepon biasa menuju ke tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Transmisi&lt;br /&gt;Media transmisi data merupakan jalur dimana proses &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komunikasi-data.html"&gt;pengiriman data&lt;/a&gt; daari satu sumber ke penerima data. Beberapa media transmisi data yang dapat digunakan jalur transmisi atau carrier dari data yang dikirimkan, dapat berupa kabel, gelombang elektromagnetik, dan lain-lain. Dalam hal ini berfungsi sebagai jalur informasi untuk sampai pada tujuannya.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang berhubungan dengan transmisi data yaitu kapasitas dan tipe channel transmisi, kode transmisi, mode transmisi, protokol yang digunakan dan penggunaan kesalahan transmisi.&lt;br /&gt;Beberapa media transmisi yang digunaka antara lain: twisted pair, kabel coaxial, serat optik dan gelombang elektromagnetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerima Data.&lt;br /&gt;Pengertian penerima data adalah alat yang menerima data atau informasi, misalkan pesawat telepon, terninal komputer, dan lain-lain. Berfungsi mnerima data yang dikirimkan oleh suatu sumber informasi. Perima merupakan suata alat yang disebut receiver yang fungsinya untuk menerima sinyal dari sistem transmisi dan menggabungkannya ke dalam bentuk tertentu yang dapat ditangkap dan digunakan oleh penerima. Sebagai contoh modem yang berfungsi sebagai receiver yang menerima sinyal analog yang dikirim melalui kabel telepon dan mengubahnya menjadi suatu bit stream agar dapat ditangkap oleh komputer penerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5243554930035002372?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5243554930035002372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5243554930035002372' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5243554930035002372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5243554930035002372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/model-komunikasi-data.html' title='MODEL KOMUNIKASI Data'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-6585788350728348973</id><published>2009-02-16T00:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:23:39.893-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi data'/><title type='text'>Komunikasi Data</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama kali &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/hakikat-teknologi-komunikasi.html"&gt;komputer&lt;/a&gt; ditemukan, ia belum bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Pada saat itu komputer masih sangat sederhana. Berkat kemajuan teknologi di bidang elektronika, komputer mulai berkembang pesat dan semakin dirasakan manfaatnya dalam kehidupan kita. Saat ini komputer sudah menjamur di mana-mana. Komputer tidak hanya dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan, universitas-univeristas, atau lembaga-lembaga lainnya, tetapi sekarang komputer sudah dapat dimiliki secara pribadi seperti layaknya kita memiliki radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas pemakai komputer terdapat di perusahaan-perusahaan atau kantor-kantor. Suatu perusahaan yang besar seringkali memiliki kantor-kantor cabang. Apabila suatu perusahaan yang mempunyai cabang di beberapa tempat adalah tidak efisien apabila setiap kali dilakukan pengolahan datanya harus dikirim ke pusat komputernya dengan cara manual. Perlu diperhatikan bahwa berfungsinya suatu komputer untuk menghasilkan informasi yang benar-benar handal, maka sedapat mungkin data yang dimasukkan benar-benar asli dari tangan pertama pencatat datanya, dan belum mengalami pengolahan dari tangan ke tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila demikian bagaimana dengan data yang akan dioleh berasal dari cabang-cabang yang tersebar di beberapa tempat yang jauh letaknya dari pusat komputer. Di sini pentingnya dibangun suatu sistem komputerisasi, terutama untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan data. Tetapi kenyataannya, dalam sirkulasi suatu sistem pengolahan data, pengolahan itu sendiri hanya suatu bagian. Secara garis besar suatu sistem sirkulasi pengolahan data terdiri dari pengumpulan data, pemrosesan, dan distribusi. Dari sirkulasi ini masalah yang banyak dijumpai dari perusahaan-perusahaan justru dalam hal pengumpulan data dan distribusi data dan informasi untuk beberapa lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;Komunikasi&lt;/a&gt; data berhubungan erat dengan pengiriman data menggunakan sistem transmisi elektronik satu terminal komputer ke terminal komputer lain. Data yang dimaksud disini adalah sinyal-sinyal elektromagnetik yang dibangkitkan oleh sumber data yang dapat ditangkap dan dikirimkan ke terminal-terminal penerima. Yang dimaksud terminal adalah peralatan untuk terminal suatu data seperti disk drive, printer, monitor, papan ketik, scanner, plotter dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa diperlukan suatu teknik komunikasi data antar komputer satu dengan komputer atau terminal yang lain. Salah satunya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya distributed processing , ini mutlak diperlukan jaringan sebagai sarana pertukaran data.&lt;br /&gt;2. Transaksi sering terjadi pada suatu lokasi yang berbeda dengan lokasi pengolahan datanya atau lokasi di mana data tersebut akan digunakan, sehingga data perlu dikirim ke lokasi pengolahan data dan dikirim lagi ke lokasi yang membutuhkan informasi dari data tersebut.&lt;br /&gt;3. Biasanya lebih efisien atau lebih murah mengirim data lewat jalur komunikasi, lebih-lebih bila data telah diorganisasikan melalui komputer, dibandingkan dengan cara pengiriman biasa.&lt;br /&gt;4. Suatu organisasi yang mempunyai beberapa lokasi pengolahan data, data dari suatu lokasi pengolahan yang sibuk dapat membagi tugasnya dengan mengirimkan data ke lokasi pengolahan lain yang kurang atau tidak sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan komputer mulai berkembang di awal tahun 1980 sebagai media komunikasi komunikasi yang berkembang pesat. Sehingga sampai saat ini komputer menjadi sarana komunikasi yang sangat efektif dan hampir seluruh bentuk informasi melibatkan komputer dalam penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditemukannya internet, berbagai &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20data"&gt;informasi&lt;/a&gt; bisa diakses dari rumah dengan biaya yang murah. Komunikasi data sebenarnya merupakan gabungan dua teknik yang sama sekali jauh berbeda yaitu pengolahan data dan telekomunikasi. Dapat diartikan bahwa komunikasi data memberikan layanan komunikasi jarauk juah dengan sistem komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-6585788350728348973?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/6585788350728348973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=6585788350728348973' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6585788350728348973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/6585788350728348973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komunikasi-data.html' title='Komunikasi Data'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2759450345153653654</id><published>2009-02-11T03:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T03:05:48.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Kecermatan Pengukuran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecermatan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pengukuran.html"&gt;Pengukuran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila peneliti sudah mulai mengukur gejala yang ditelitinya, ia berhadapan dengan persoalan realiabilitas dan validitas alat ukur yang dipergunakannya. Dalam penelitian ilmiah, kedua syarat alat ukur ini sangat penting. Tanpa keduanya, penelitian tidak lagi bersifat ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reliabilitas&lt;/span&gt; mempunyai arti memiliki sifat dapat dipercaya. Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas apabila dipergunakan berkali-kali oleh peneliti yang sama atau oleh peneliti yang lain tetap memberikan hasil yang sama ( forcese dan richer, 1973: 71) jadi relibilitas mengandung makna stabilitas (tidak berubah-ubah), konsisten (ajeg), dan dependabilitas (dapat diandalkan). Ada tiga cara menentukan reliabilitas: (1) antaruji, (2) antarbutir, (3) dan antarpenilai. Cara (1) menguji reliabilitas ialah membandingkan beberapa hasil pengukuran dari populasi yang sama pada waktu yang berbeda atau oleh peneliti yang berlainan. Perbandingan itu dihitung untuk mencari angka korelasinya. Bila perbedaan itu hanya secara kebetulan saja, pengukuran memiliki korelasi yang signifikan. Pada cara (2) alatukur yang terdiri dari sekian butir tes dibagi dua, ini disebut metode belah dua (split-half-procedure). Pada cara (3) responden yang sama diukur, diuji, dan diamati oleh beberapa orang penguji. Skor yang diberikan oleh setiap penguji kemudian dikorelasikan. Reliabilitas antar penilai biasanya diyatakan dengan angka kesepakatan di antara penilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*. Validitas mempunyai arti kesucian alat &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;ukur&lt;/a&gt; dengan apa yang hendak kita ukur. Validitas itu sendiri ada (3) macam:&lt;br /&gt;@. Validitas isi (content Validity ) menunjukkan bahwa pokok-pokok pada alat ukur mewakili sifat yang kita &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;ukur&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;@. Validitas prediktif ( predictive validity) disebut juga validitas-sehubungan-dengan-kreteria ( criterion-related-validity )&lt;br /&gt;@. Validitas konstruk, menujukkan sejauh mana suatu alat ukur mengukur konstruk &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;teoritis&lt;/a&gt; yang tertentu ( yakni, suatu keadaan yang di hipotesiskan mempunyai hubungan sebab-akibat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2759450345153653654?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2759450345153653654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2759450345153653654' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2759450345153653654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2759450345153653654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/kecermatan-pengukuran.html' title='Kecermatan Pengukuran'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8148352567380709270</id><published>2009-02-11T02:57:00.001-08:00</published><updated>2009-02-11T02:57:52.571-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Skala Rasio</title><content type='html'>&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pengukuran.html"&gt;*. Skala Rasio&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala rasio menghimpun semua sifat skala interval ditambah skala adanya (nol) mutlak (fixed zero point)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8148352567380709270?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8148352567380709270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8148352567380709270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8148352567380709270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8148352567380709270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/skala-rasio.html' title='Skala Rasio'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-7799177097931882983</id><published>2009-02-11T02:55:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T02:57:13.700-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Skala Interval</title><content type='html'>&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pengukuran.html"&gt;*. Skala Interval &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala Interval mempunyai ciri-ciri tambahan pada skala ordinal: urutan kategori data mempunyai jarak yang sama. Skala interval mempunyai ciri matematis additivity artinya kita dapat menambah atau mengurangi. Jika menemukan bilangan (nol), bilangan ini (nol) mutlak menunjukkan tidak adanya sifat-sifat yang diukur sama sekali. Dengan begitu skala interval tidak memungkinkan kita melakukan proses pembagian atau perkalian. Untuk itu kita harus menggunakan skala rasio.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-7799177097931882983?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/7799177097931882983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=7799177097931882983' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7799177097931882983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/7799177097931882983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/skala-interval.html' title='Skala Interval'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8155839758928380572</id><published>2009-02-11T02:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T02:55:29.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Skala Ordinal</title><content type='html'>&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pengukuran.html"&gt;*. Skala Ordinal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekala ini menunjukan bilangan bertingkat missal 1,2,3,4, dst. Pada dua ciri skala nominal, skala ordinal hanya menambahkan satu ciri: kategori data disusun berdasarkan urutan logis dan sesuai dengan besarnya karakterristik yang dimiliki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8155839758928380572?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8155839758928380572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8155839758928380572' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8155839758928380572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8155839758928380572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/skala-ordinal.html' title='Skala Ordinal'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2740869621614028573</id><published>2009-02-11T02:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T02:55:50.576-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Skala Nominal</title><content type='html'>&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pengukuran.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*. Skala Nominal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala ini mempunyai ciri-ciri (1) kategori data bersifat mutually exclusive (satu objek masuk hanya pada satu kelompok saja), (2) kategori data tidak sisusun secara logis .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2740869621614028573?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2740869621614028573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2740869621614028573' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2740869621614028573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2740869621614028573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/blog-post.html' title='Skala Nominal'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3113689848255932146</id><published>2009-02-11T02:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T03:01:36.703-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Pengukuran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengukuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pengukuran (scales of Measurement)&lt;br /&gt;Pengukuran adalah penggunaan aturan untuk menetapkan bilangan pada objek atau peristiwa. Dalam penelitian kita kenakan pengukuran pada variabel yang kita pelajari pengukuran menandai nilai-nilai variabel dengan notasi bilangan dan dilakukan secara sistematis dan taat asas. Peraturan penggunaan notasi bilangan dalam pengukuran disebut sekala atau tingkat pengukuran (levels of measurement) pengukuran dapat di kelompokkan beberapa bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/blog-post.html"&gt;*. Skala Nominal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/skala-ordinal.html"&gt;*. Skala Ordinal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/skala-interval.html"&gt;*. Skala Interval&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/skala-rasio.html"&gt;*. Skala Rasio&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3113689848255932146?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3113689848255932146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3113689848255932146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3113689848255932146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3113689848255932146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pengukuran.html' title='Pengukuran'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-4048508499207955380</id><published>2009-02-10T01:09:00.001-08:00</published><updated>2009-02-10T01:27:32.278-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;*. Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kriteria ini sering kali luput dari perhatian pemulah. Ia cenderung memilih pokok penelitian yang ‘menarik’ tanpa meneliti apakah penelitiannya dapat menolak, meneguhkan, atau mendukung teori hubungan social yang ada. Ilmu baru bersifat kumulatif bila ditegakkan diatas bangunan fakta dan teori yang . &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;ilmu&lt;/a&gt; tidak akan berkembang, bila setiap studi merupakan survai yang terpisah. (goode/hatt). Untuk merumuskan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;hipotesis&lt;/a&gt; yang berkaitan dengan teori jelas memerlukan penelaahan kepustakaan. &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;Hipotesis&lt;/a&gt; yang lahir tanpa pengetahuan teoretis tidak lebih tinggi nilainya dari dugaan orang awam. Selain tidak akan mengembangkan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;ilmu&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;hipotesis&lt;/a&gt; seperti itu tidak akan memberikan kepuasan ilmiah.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-4048508499207955380?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/4048508499207955380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=4048508499207955380' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4048508499207955380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/4048508499207955380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-berkaitan-dengan-suatu.html' title='Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-437276836425988769</id><published>2009-02-10T01:08:00.001-08:00</published><updated>2009-02-10T01:24:09.040-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;*. Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori dan metode bukanlah hal yang bertentangan. Ahli teori yang tidak tahu teknik untuk menguji hipotesisnya tidak akan mampu merumuskan masalah yang diteliti. Sebelum meneliti masalah kita harus mempelajari beberapa teknik yang pernah dipergunakan uuntuk mengukur factor-faktor yang diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-437276836425988769?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/437276836425988769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=437276836425988769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/437276836425988769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/437276836425988769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-dihubungkan-dengan.html' title='Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2622522315999761383</id><published>2009-02-10T01:07:00.002-08:00</published><updated>2009-02-10T01:24:39.174-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Hipotesis harus bersifat spesifik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;*. Hipotesis harus bersifat spesifik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali kita membuat  hipotesis-hipotesis yang umum karena hipotesis-hipotesis tersebut kedengaranya “hebat” dan mengesankan. Sebenarnya hipotesis seperti itu tidak dapat diuji contoh “ (a) Jika komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan rakyat dilakukan sebaik-baiknya, partisipasi dalam pembangunan akan meningkat. (b) Bila siaran pedesaan disesuaikan dengan frame of reference pendengarnya, siaran pedesaan itu akan mencapai sasarannya. Supaya dapat diteliti (researchable), hipotesis-hipotesis “ besar” itu harus dijabarkan menjadi subhipotesis-hipotesis. Dalam subhipotesis digunakan konsep-konsep yang sudah sangat spesifik. Subjek, waktu, target, dan hubungan-hubungan dinyatakan secara jelas dan eksplisit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2622522315999761383?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2622522315999761383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2622522315999761383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2622522315999761383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2622522315999761383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-bersifat-spesifik.html' title='Hipotesis harus bersifat spesifik'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8279218022040998496</id><published>2009-02-10T01:07:00.001-08:00</published><updated>2009-02-10T01:25:02.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;*. Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis tidak boleh mengandung konsep-konsep yang merupakan penilaian (value judgements). “Pemuda seharusnya berperan dalam pembangunan” merupakan contoh hipotesis yang merujuk pada nilai, bukan pada rujukan empiris. Kata-kata seperti “seharusnya” harus dihindari karena lebih mencerminkan sikap daripada gejalah empiris. Ubah kata-kata seperti itu menjadian uraian deskriptif misalnya “ hubungan masyarakat yang baik “ diubah menjadi “ frekuensi kontak dengan public pegawai”,”efektif” diganti dengan “ morel kerja meningkat” (morel kerja dapat diukur dengan indeks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8279218022040998496?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8279218022040998496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8279218022040998496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8279218022040998496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8279218022040998496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipitesis-harus-mempunyai-rujukan.html' title='Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-2423049684992266431</id><published>2009-02-10T01:06:00.001-08:00</published><updated>2009-02-10T01:23:35.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Hipotesis harus jelas secara konseptual</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html"&gt;*. Hipotesis harus jelas secara konseptual&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep sedapat mungkin didefinisikan secara operasional. Untuk menjelaskan konsep, definisikanlah konsep itu (a) dengan kata-kata, (b) dalam operaso tertentu (indeks pengukuran, jenis observasi), (c) dengan menghubungkannya pada konsep-konsep lain yang dalam penelitian sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-2423049684992266431?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/2423049684992266431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=2423049684992266431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2423049684992266431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/2423049684992266431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-jelas-secara-konseptual.html' title='Hipotesis harus jelas secara konseptual'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-130529437222128011</id><published>2009-02-10T01:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T01:14:54.296-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Hipotesis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hipotesis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam model tradisional ilmu kita melihat bagaimana dari kasus-kasus observasi kita simpulkan sebuah teori melalui peruses induksi. Kemudian, dari teori kita dapat menjabarkan proposisi-proposisi baru melalui proses deduksi. Teori tidak dapat diuji. Agar dapat diuji teori harus dirinci menjadi proposisi-proposisi. Proposisi ini disebut hipotesis sering juga disebut statement of theory in testable form, atau tentative statement about reality (champion, 1981:125). Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Hipotesis yang abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, tetapi juga sukar diuji secara empiris. Hipotesis yang abstrak biasanya “ dibuktikan” kebenarannya, bukan dengan data empiris, tetapi dengan interpretasi subjektif.&lt;br /&gt;Goode dan Hatt (1952:67-73) menjelaskan ciri-ciri hipotesis yang baik sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-jelas-secara-konseptual.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;*. Hipotesis harus jelas secara konseptual&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipitesis-harus-mempunyai-rujukan.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;*. Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-bersifat-spesifik.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;*. Hipotesis harus bersifat spesifik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-dihubungkan-dengan.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;*. Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 255, 0);" href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis-harus-berkaitan-dengan-suatu.html"&gt;*. Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-130529437222128011?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/130529437222128011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=130529437222128011' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/130529437222128011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/130529437222128011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/hipotesis.html' title='Hipotesis'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5577051284450921877</id><published>2009-02-09T00:49:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T00:57:12.503-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep dasar penelitian'/><title type='text'>Variable dibagi dalam tiga katagori</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalam penelitian variable dibagi dalam tiga katagori &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/variable-dibagi-dalam-tiga-katagori.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* .Variabel bebas dan tak bebas.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penelitian mencari sebab dan akibat dalam gejala atau mencari hubungan di antara berbagai factor. Variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variable yang lain dusebut variable bebas. Variable yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variable yang mendahuluinya disebut variable tak bebas.&lt;br /&gt;Bila kita menyatakan “ bila x, maka y” , x adalah variabel bebas dan y variabel tak bebas &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;(kerlingger, 1971:35)&lt;/a&gt;. Dalam penelitian diduga bahwa situasi rumah menentukan perestasi anak di sekolah.perasaan kesepian menyebabkan banyak orang menonton televise. Situasi rumah, perasaan kesepihan merupakan variabel bebas sedangkan perestasi akademis, ferekuensi menonton merupakan variabel tak bebas. Jadi sebetulnya klasifikasi variabel dalam variabel bebas dan variabel tak bebas bergantung pada maksud penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/variable-dibagi-dalam-tiga-katagori.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*. Variabel aktif dan variabel atribut.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian eksperimental, kita berhadapan dengan variabel yang dapat kita manipulasi dan variabel yang sudah jadi dan tidak dapat kita kendalikan. Kita ambil contoh variabel aktif  : kita dapat mengendalikan temperatur ruangan, atau tingkat hukuman yang diberikan guru pada muridnya, atau jumlah insentif dalam kampanye keluarga berencana (KB).&lt;br /&gt;Contoh variabel atribut : tetapi kita tidak bias mengendalikan umur, tingkat kecerdasan, jenis kelamin dll.&lt;br /&gt;Maka satu-satunya cara meneliti variabel atribut tentulah ialah mengelompokkan subjek peneliti dalam katagori variabel atribut tertentu dan membandingkannya dengan subjek penelitian dalam katagori variabel atribut yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/variable-dibagi-dalam-tiga-katagori.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*. Variabel kontinyu dan variabel diskret&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam statistic dibedakan antara Variabel kontinyu dan variabel diskret.&lt;br /&gt;Variabel kontinyu  adalah variabel yang secara teoritis dapat mempunyai nilai yang bergerak tak terbatas antara dua nilai ( tinggi orang boleh 1.50 cm, 1.522 cm dst tergantung kecermatan pengukuran). Variabel diskret hanya mempunyai satu nilai tertentu saja (1.2.3.4, dst) dan dalam variabel diskret tidak mengenal pecahan   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5577051284450921877?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5577051284450921877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5577051284450921877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5577051284450921877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5577051284450921877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/variable-dibagi-dalam-tiga-katagori.html' title='Variable dibagi dalam tiga katagori'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8497575534314953362</id><published>2009-02-08T05:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T05:43:26.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Komponen Konseptual dan Jenis-jenis Teori Komunikasi</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana telah disinggung dalam modul sebelumnya bahwa ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, maka &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Definisi%20komunikasi"&gt;defenisi-defenisi&lt;/a&gt; mengenai komunikasi menjadi sangat beragam. Setiap defenisi memiliki penekanan arti, cakupan dan konteks yang berbeda satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Terdapat 126 defenisi komunikasi yang dapat dikumpulkan oleh Frank E.X. Dance. semuanya setelah dirangkum dapat dikategorikan manjadi 15 komponen konseptual. Yaitu:&lt;span id="more-8"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Simbol/verbal/ujaran, komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal. (Hoben, 1954)&lt;br /&gt;2. Pengertian/pemahaman, proses di mana kita memahami dan dipahami orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. (Anderson, 1959)&lt;br /&gt;3. Interaksi/hubungan/proses sosial. Interaksi adalah perwujudan komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan terjadi interaksi. (Mead, 1963)&lt;br /&gt;4. Pengurangan rasa ketidakpastian. Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego. (Burnland, 1964)&lt;br /&gt;5. Proses, komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dll. melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka dll.&lt;br /&gt;6. Pengalihan/penyampaian/pertukaran. Penggunaan kata komunikasi menunjuk pada pengalihan dari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya menjadi bermakna. Misal kata â€œpohonâ€ mewakili objek pohon.&lt;br /&gt;7. Menghubungkan/menggabungkan. Komunikasi adalah proses yang menghubungkan satu bagian kehidupan dengan bagian lainnya.&lt;br /&gt;8. Kebersamaan. Komunikasi adalah proses yang membuat sesuatu yang semula dimiliki seseorang menjadi milik dua orang atau lebih.&lt;br /&gt;9. Saluran/jalur/alat. Komunikasi adalah alat pengirim pesan. Misalnya telegraph, telepon, radio, kurir, dll.&lt;br /&gt;10. Replikasi memori. Komunikasi adalah proses mengarahkan perhatian dengan menggugah ingatan.&lt;br /&gt;11. Tanggapan Diskriminatif, komunikasi adalah tanggapan pilihan atau terarah pada suatu stimulus.&lt;br /&gt;12. Stimuli, setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima.&lt;br /&gt;13. Tujuan/kesengajaan, komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima.&lt;br /&gt;14. Waktu/situasi, komunikasi merupakan suatu transisi dari suatu struktur keseluruhan situasi atau waktu sesuai pola yang diinginkan.&lt;br /&gt;15. Kekuasaan/kekuatan, komunikasi adalah suatu mekanisme yang memimbulkan kekuatan atau kekuasaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelima belas komponen konseptual tersebut di atas merupakan kerangka acuan yang dapat dijadikan dasar dalam menganalisis fenomena peristiwa &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;komunikasi&lt;/a&gt;. Komponen-komponen tersebut baik secara tersendiri, secara gabungan atau secara keseluruhan dapat dijadikan sebagai fokus perhatian dalam penelitian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;JENIS-JENIS TEORI KOMUNIKASI&lt;br /&gt;Menurut Littlejohn (1989) berdasarkan metode penjelasan serta cakupan objek pengamatannya, secara umum teori-teori komunikasi dapat dibagi dua kelompok:&lt;br /&gt;1. Teori-teori Umum (general theories), teori ini merupakan teori yang mengarah pada bagaimana menjelaskan fenomena komunikasi (metode penjelasannya). Karenanya teori ini memberi analisa piker suatu teori, terdiri dari:&lt;br /&gt;2. Teori-teori fungsional dan struktural. Ciri dan pokok pikiran dari teori ini adalah: Individu dipengaruhi oleh struktur sosial atau sistem sosial dan individu bagian dari struktur. Sehingga cara pandangnya dipengaruhi struktur yang berada di luar dirinya. Pendekatan ini menekankan tentang sistem sebagai struktur yang berfungsi. Karakteristik dari pendekatan ini adalah:&lt;br /&gt;a. Mementingkan sinkroni (stabilitas dalam kurun waktu tertentu) daripada diacrony (perubahan dalam kurun waktu tertentu). Misalnya dalam mengamati suatu fenomena menggunakan dalil-dalil yang jelas dari suatu kaidah. Perubahan terjadi melalui tahapan metodologis yang telah baku.&lt;br /&gt;b. Cenderung memusatkan perhatiannya pada â€akibat-akibat yang tidak diinginkanâ€ (unintended consequences) daripada hasil yang sesuai tujuan. Pendekatan ini tidak mempercayai konsep subjektivitas dan kesadaran. Fokus mereka pada faktor-faktor yang berada di luar kontrol kesadaran manusia.&lt;br /&gt;c. Memandang realitas sebagai sesuatu yang objektif dan independent. Oleh karena itu, pengetahuan dapat ditemukan melalui metode empiris yang cermat.&lt;br /&gt;d. Memisahkan bahasa dan lambang dari pemikiran dan objek yanng disimbolkan dalam komunikasi. Bahasa hanyalah alat untuk merepresentasikan apa yang telah ada.&lt;br /&gt;e. Menganut prinsip the correspondence theory of truth. Menurut teori ini bahasa harus sesuai dengan realitas. &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;Simbol-simbol&lt;/a&gt; harus merepresentasikan ssuatu secara akurat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Teori-teori Behavioral dan kognitif.&lt;br /&gt;Teori ini berkembang dari ilmu psikologi yang memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara individual. Beberapa pokok pikirannya:&lt;br /&gt;ïƒ„ Salah satu konsep pemikirannya adalah model stimulus-respon (S-R) yang menggambarkan proses informasi antara stimulus dan respon.&lt;br /&gt;ïƒ„ Mengutamakan analisa variabel. Analisis ini pada dasarnya merupakan upaya mengidentifikasi variabel-variabel kognitif yang dianggap penting serta mencari hubungan antar variabel.&lt;br /&gt;ïƒ„ Menurut pandangan ini komunikasi dipandang sebagai manifestasi dari proses berfikir, tingkah laku dan sikap seseorang. Oleh karenanya variabel-variabel penentu memegang peranan penting terhadap kognisi seseorang (termasuk bahasa) biasanya berada di luar kontrol individu.&lt;br /&gt;Contoh lain teori atau model yang termasuk dalam kelompok teori ini adalah Model Psikologi Comstock tentang efek televisi terhadap individu. Tujuan model ini adalah untuk memperhitungkan dan membantu memperkirakan terjadinya efek terhadap tingkah laku orang perorang dalam suatu kasus tertentu, dengan jalan menggabungkan penemuan-penemuan atau teori-teori tentang kondisi umum dimana efek selama ini dapat ditemukan. Model ini dinamakan model psikologi karena melibatkan masalah-masalah keadaan mental dan tingkah laku orang perorangan.&lt;br /&gt;Moel ini berpendapat , televisi hendaknya dianggap sederajat dengan setiap pengalaman, tindakan atau observasi personal yang dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pemahaman (learning) maupun tindakan (acting). Jadi model ini mencakup kasus dimana televisi tidak hanya mengajarkan tingkah laku yang dipelajari dari sumber-sumber lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Teori-teori Konvesional dan Interaksional.&lt;br /&gt;Teori ini beranggapan bahwa agar komunikasi dapat berlangsung, individu-individu yang berinteraksi menggunakan aturan-aturan dalam menggunakan lambang-lambang. Bukan hanya aturan mengenai lambang itu sendiri tetapi juga harus sepakat dalam giliran berbicara, bagaimana bersikap sopan santun atau sebaliknya, bagaimana harus menyapa dan sebagainya. Teori ini berkembang dari aliran interactionisme simbolik yang menunjukan arti penting dari interaksi dan makna. Pokok pikiran teori ini adalah:&lt;br /&gt;ïƒ„ kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara, serta mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, termasuk dalam hal ini bahasa dan simbol. Komunikasi dianggap sebagai alat perekat masyarakat (the glue of society).&lt;br /&gt;ïƒ„ Struktur sosial dilihat sebagai produk dari interaksi. Interaksi dapat terjadi melalui bahasa, sehingga bahasa menjadi pembentuk struktur sosial. Pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi.&lt;br /&gt;ïƒ„ Struktur sosial merupakan produk interaksi, karena bahasa dan simbol direproduksi, dipelihara serta diubah dalam penggunaannnya. Sehingga focus pengamatannya adalah pada bagaimana bahasa membentuk struktur social, serta bagaimana bahasa direproduksi, dipelihara, serta diubah penggunaannya.&lt;br /&gt;ïƒ„ Makna dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu dari konteks ke konteks. Sifat objektif bahasa menjadi relatif dan temporer. Makna pada dasarnya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh melalui interaksi. Oleh karena itu makna dapat berubah dari waktu ke waktu, konteks ke konteks, serta dari kelompok social ke kelompok lainnya. Dengan demikian sifat objektivitas dari makna adalah relative dan temporer.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5. Teori-Teori Kritis dan Interpretif&lt;br /&gt;Jenis teori ini berkembang dari tradisi sosiologi interpretift, yang dikembangkan oleh Alfred Schulzt, Paul Ricour et al. sementara teori kritis berkembang dari pemikiran Max Weber, Marxisme dan Frankfurt School.&lt;br /&gt;Interpretif berarti pemahaman (verstechen) berusaha menjelaskan makna dari suatu tindakan. Karena suatu tindakan dapat memiliki banyak arti, maka makna idak dapat dengan mudah diungkap begitu saja. Interpretasi secara harfiah merupakan proses aktif dan inventif.&lt;br /&gt;Teori interpretif umumnya menyadari bahwa makna dapat berarti lebih dari apa yang dijelaskan oleh pelaku. Jadi interpretasi adalah suatu tindakan kreatif dalam mengungkap kemungkinan-kemungkinan makna.&lt;br /&gt;Implikasi social kritis pada dasarnya memiliki implikasi ekonomi dan politik, tetapi banyak diantaranya yang berkaitan dengan komunikasi dan tatanan komunikasi dalam masyarakat. Meskipun demikian teoritisi kritis biasanya enggan memisahkan komunikasi dan elemen lainnya dari keseluruhan system. Jadi, suatu teori kritis mengenai komunikasi perlu melibatkan kritik mengenai masyarakat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Pendekatan kelompok ini terutama sekali popular di Negara-negara Eropa.Karakteristik umum yang mencirikan teori ini adalah:&lt;br /&gt;ïƒ„ Penekanan terhadap peran subjektifitas yang didasarkan pada pengalaman individual.&lt;br /&gt;ïƒ„ Makna merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered.&lt;br /&gt;ïƒ„ Bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia.&lt;br /&gt;Di samping karakteristik di atas yang menunjukan kesamaan, terdapat juga perbedaan mendasar antara teori-teori interpretif dan teori-teori kritis dalam pendekatannya. Pendekatan teori interpretif cenderung menghndarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan absolute tentang fenomena yang diamati. Pengamatan menurut teori interpretif, hanyalah sesuatu yang bersifat tentative dan relative. Sementara teori-teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan absolut, preskriptif dan juga politis sifatnya.&lt;br /&gt;Jadi dapat disimpulkan bahwa teori interpretif ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia, atau untuk menginterpretasikan makna-makna teks. Sedangkan teori kritis berkaitan dengan cara-cara di mana kondisi manusia mengalami kendala dan berusaha menciptakan berbagai metode untuk memperbaiki kehidupan manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;A. Jenis Teori-teori Kontekstual&lt;br /&gt;Berdasarkan konteks dan tingkatan analisisnya, teori komunikasi dapat dibagi menjadi lima :&lt;br /&gt;1. intra personal communication, yaitu proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Fokusnya adalah pada bagaimana jalannya proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya. Umumnya membahas mengenai proses pemahaman, ingatan, dan interpretasi terhadap simbol-simbol yang ditangkap melalui pancainderanya.&lt;br /&gt;2. interpersonal communication, yaitu komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung (non-media) atau tidak langsung (media). Fokus teori ini adalah pada bentukbentuk dan sifat hubungan, percakapan, interaksi dan karakteristik komunikator.&lt;br /&gt;3. komunikasi kelompok. Fokus pada interaksi diantara orang-orang dalam kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antar pribadi, namun pembahasannya berkaitan dengan dinamika kelompok, efisiensi dan efektifitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interaksi serta pembuatan keputusan.&lt;br /&gt;4. komunikasi Organisasi. Mengarah pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi formal dan informal. Pembahasan teori ini menyangkut struktur dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia, komunikasi dan proses pengorganisasiannya serta budaya organisasi.&lt;br /&gt;5. komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan pada sejumlah khalayak yang besar. Proses komunikasi melibatkan keempat teori sebelumnya. Teori ini secara umum memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang menyangkut struktur media, hubungan media dan masyarakat, hubungan antara media dan khalayak, aspek-aspek budaya dari komunikasi massa, serta dampak komunikasi massa terhadap individu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;by. Drs. Ahmad Mulyana, M.Si.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Sasa Djuarsa S., Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta. 2003&lt;br /&gt;2. John Fiske, Introduction to Communication Studies, Sage Publications, 1996&lt;br /&gt;3. Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8497575534314953362?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8497575534314953362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8497575534314953362' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8497575534314953362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8497575534314953362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komponen-konseptual-dan-jenis-jenis.html' title='Komponen Konseptual dan Jenis-jenis Teori Komunikasi'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-3776887493617280009</id><published>2009-02-08T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T05:33:06.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesan verbal dan non verbal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>PESAN VERBAL &amp; NONVERBAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PESAN VERBAL &amp;amp; NONVERBAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pesan Verbal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Simbol atau pesan verbal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti. Kalimat dalam bahasa Indonesia Yang berbunyi ”Di mana saya dapat menukar uang?” akan disusun dengan tatabahasa bahasa-bahasa yang lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Inggris: Dimana dapat saya menukar beberapa uang? (Where can I change some money?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Perancis: Di mana dapat saya menukar dari itu uang? (Ou puis-je change de l’argent?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Jerman: Di mana dapat saya sesuatu uang menukar? (Wo kann ich etwasGeld wechseln?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Spanyol: Di mana dapat menukar uang? (Donde puedo cambiar dinero?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatabahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam bahasa. Sintaksis merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;!. Fungsi Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;Larry L. Barker&lt;/a&gt; (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.&lt;br /&gt; 2. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.&lt;br /&gt; 3. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cansandra L. Book (1980), dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu sampai pada kemajuan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Teknologi%20Komunikasi"&gt;teknologi&lt;/a&gt; saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Berhubungan dengan orang lain. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita, dan atau mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Bahasa memungkinkan kita untuk lebih teratur, saling memahami mengenal diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keterbatasan Bahasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk pada objek. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi buka realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar belakang sosial budaya yang berbeda pula. Kata berat, yang mempunyai makna yang nuansanya beraneka ragam. Misalnya: tubuh orang itu berat; kepala saya berat; ujian itu berat; dosen itu memberikan sanksi yang berat kepada mahasiswanya yang nyontek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kata-kata mengandung bias budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa terikat konteks &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Komunikasi%20lintas%20budaya"&gt;budaya&lt;/a&gt;. Oleh karena di dunia ini terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda, tidak mengherankan bila terdapat kata-kata yang (kebetulan) sama atau hampir sama tetapi dimaknai secara berbeda, atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara sama. Konsekuensinya, dua orang yang berasal dari &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/akulturasi.html"&gt;budaya&lt;/a&gt; yang berbeda boleh jadi mengalami kesalahpahaman ketiaka mereka menggunakan kata yang sama. Misalnya kata awak untuk orang Minang adalah saya atau kita, sedangkan dalam bahasa Melayu (di Palembang dan Malaysia) berarti kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi sering dihubungkan dengan kata Latin communis yang artinya sama. Komunikasi hanya terjadi bila kita memiliki makna yang sama. Pada gilirannya, makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama. Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme. Isomorfisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideologi yang sama; pendeknya mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isomorfisme total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Percampuranadukkan fakta, penafsiran, dan penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbahasa kita sering mencampuradukkan fakta (uraian), penafsiran (dugaan), dan penilaian. Masalah ini berkaitan dengan dengan kekeliruan persepsi. Contoh: apa yang ada dalam pikiran kita ketika melihat seorang pria dewasa sedang membelah kayu pada hari kerja pukul 10.00 pagi? Kebanyakan dari kita akan menyebut orang itu sedang bekerja. Akan tetapi, jawaban sesungguhnya bergantung pada: Pertama, apa yang dimaksud bekerja? Kedua, apa pekerjaan tetap orang itu untuk mencari nafkah? .... Bila yang dimaksud bekerja adalah melakukan pekerjaan tetap untuk mencari nafkah, maka orang itu memang sedang bekerja. Akan tetapi, bila pekerjaan tetap orang itu adalah sebagai dosen, yang pekerjaannya adalah membaca, berbicara, menulis, maka membelah kayu bakar dapat kita anggap bersantai baginya, sebagai selingan di antara jam-jam kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berkomunikasi, kita menterjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara, bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Pesan Nonverbal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunikasi nonverbal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Klasifikasi pesan nonverbal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Pesan kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut: a. Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan taksenang, yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk; b. Wajah mengkomunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan; c. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi situasi; d. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri; dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah: a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif; b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah; c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.&lt;br /&gt; 3. Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.&lt;br /&gt; 4. Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.&lt;br /&gt; 5. Pesan sentuhan dan bau-bauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad digunakan orang, juga untuk menyampaikan pesan –menandai wilayah mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Fungsi pesan nonverbal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;Mark L. Knapp&lt;/a&gt; (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.&lt;br /&gt; 2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.&lt;br /&gt; 3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”&lt;br /&gt; 4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.&lt;br /&gt; 5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;Dale G. Leathers&lt;/a&gt; (1976) dalam Nonverbal Communication Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan. Yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Factor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatamuka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan nonverbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banya ’membaca’ pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk nonverbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi, ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar pustaka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-3776887493617280009?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/3776887493617280009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=3776887493617280009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3776887493617280009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/3776887493617280009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html' title='PESAN VERBAL &amp; NONVERBAL'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-8104033661179042330</id><published>2009-02-04T02:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T02:51:17.090-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi Komunikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Definisi, Prinsip Dan Istilah Desain Komunikasi Visual</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Definisi, Prinsip Dan Istilah Desain Komunikasi Visual&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa bentuk gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Prinsip&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pesan visual harus kreatif (asli, inovatif dan lancar), komunikatif, efisien dan efektif, sekaligus indah/estetis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Instilah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;1. Seni Grafis / Graphic Arts, termasuk ke dalam kelompok bidang ilmu Seni Murni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;2. Grafis / Graphic, adalah hal yang berkaitan dengan tulisan atau gambar yang mengandung makna untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;3. Desain Grafis / Graphic Design, istilah yang dipakai sebelum menggunakan istilah Desain Komunikasi Visual, berasal dari kata bahasa Yunani “Graphos” yang berarti “tulisan/gambar”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Untuk mengantisipasi perkembangan dunia komunikasi visual serta perannya yang semakin luas, maka digunakan istilah: Desain Komunikasi Visual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Perlunya Pendidikan Desain Komunikasi Visual&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;1. Mengenal konsep Desain Komunikasi Visual sebagai Dasar Perancangan/Desain dan Strategi Komunikasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;2. Mengenal Desain Grafis (Desain Komunikasi Visual) dan Bahasa Rupa sebagai Pengolah Visual Data Informasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;3. Mengenal secara teknis prinsip, proses teknologi informatika dan sistem informasi manajemen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;4. Memahami elemen desain grafis sebagai alat penyampai pesan yang efektif, efisien, komunikatif dan estetis kreatif dalam konteks konsep-policy/planning/ strategy dan implementasi serta evaluasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;5. Memahami strategi komunikasi, psikologi dan sosial/ antropologi budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;6. Memahami beberapa media baru, terutama dunia media / ruang cyber serta tekniknya, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;a.     Animasi – Audio Visual (Mix Media)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;b.     Interaktif media dan web/website yang biasa dipergunakan untuk melengkapi E-media dan Mixmedia/Multimedia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;7. Menguasai konsep perancangan / desain komunikasi visual dan pemasaran global secara universal.Menguasai proses dan tehnik perancangan /desain yang dapat mengantisipasi perkembangan dunia kewirausahaan/enterprenuership.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;by:sunardipw&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-8104033661179042330?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/8104033661179042330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=8104033661179042330' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8104033661179042330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/8104033661179042330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/definisi-prinsip-dan-istilah-desain.html' title='Definisi, Prinsip Dan Istilah Desain Komunikasi Visual'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-1213858742782938629</id><published>2009-02-02T01:27:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:29:54.236-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Dasar Komunikasi</title><content type='html'>DASAR KOMUNIKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/membangun-komunikasi-efektif.html"&gt;Komunikasi Efektif&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;1. Analisi Khalayak (mengidentifikasi orang yang mau diajak berkomunikasi, dengan informasi yang selengkap-lengkapnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. menetapkan tujuan :&lt;br /&gt;*mengubah pengetahuan (kognitif)&lt;br /&gt;*mengubah sikap (afektif)&lt;br /&gt;*mengubah perilaku (behavioral/psikomotorik)&lt;br /&gt;nb : dalam perubahan perilaku tentu berbeda dengan konatif, karena dalam konatif hanya bersifat kecenderungan untuk berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibawah ini adalah tahapan perubahan sikap pd seseorang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*kognitif :&lt;br /&gt;- Sadar&lt;br /&gt;- Tahu&lt;br /&gt;- Kenal&lt;br /&gt;- Paham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Afektif :&lt;br /&gt;- tertarik&lt;br /&gt;- suka&lt;br /&gt;- ingin&lt;br /&gt;- memilih&lt;br /&gt;- yakin&lt;br /&gt;- coba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*psikomotor/behavioral :&lt;br /&gt;- coba&lt;br /&gt;- beli&lt;br /&gt;- beli barang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menetapkan Saluran&lt;br /&gt;- Personal&lt;br /&gt;- nonpersonal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perencanaan Pesan :&lt;br /&gt;1. Isi Pesan&lt;br /&gt;2. Struktur (bagaimana pesan kita susun dan diorganisasikan secara kronologis)&lt;br /&gt;3. Format pesan (bagaimana kita menghidangkan pesan tsb)&lt;br /&gt;4. Sumber pesan : harus memeliki kredibilitas (keahlian, daya tarik, keahlian)&lt;br /&gt;5. Produksi Pesan&lt;br /&gt;6. Pelaksanaan Pesan&lt;br /&gt;7. Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(buat anak komunikasi, dasar komunikasi diatas harus bener2 dipegang betul! kalo bisa sampe ‘molotok’ di otak! cuz, ini bakalan terus dibawa sampe akhir kamu semua nyelesein kuliah di komunikasi. terus pastinya bakalan ada di ujian komperhensif menjelang sidang kamu!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gut luck! buat semua anak komunikasi! Public Relations, Jurnalistik, Manajemen Komunikasi, Perpustakaan, and all of you.. !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-1213858742782938629?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/1213858742782938629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=1213858742782938629' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1213858742782938629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1213858742782938629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/dasar-komunikasi.html' title='Dasar Komunikasi'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5573396180934327648</id><published>2009-02-02T01:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:26:36.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Komunikasi Intrapersonal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KOMUNIKASI INTRAPERSONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunikasi intrapersonal, akan dijelaskab bagaimana orang menerima informasi, mengolahnya, menyumpannya dan menghasilkannya kembali. Proses pengolahan informasi, yang di sini kita sebut komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Sensasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg propriseptor (misalnya, organ vestibular).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Persepsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian (Attention)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Eksternal Penarik Perhatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini ditentukan oleh faktor-faktor situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perharian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter) dan sifat-sifat yang menonjol, seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Gerakan secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.&lt;br /&gt;    * Intensitas Stimuli, kita akan memerharikan stimuli yang menonjol dari stimuli yang lain&lt;br /&gt;    * Kebauran (Novelty), hal-hal yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik perhatian.&lt;br /&gt;    * Perulangan, hal-hal yang disajikan berkali-kali bila deisertai sedikit variasi akan menarik perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Internal Penaruh Perhatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi perhatian kita lolos dari perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan ini timbul dari faktor-faktor yang ada dalam diri kita. Contoh-contoh faktor yang memengaruhi perhatian kita adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Faktor-faktor Biologis&lt;br /&gt;    * Faktor-faktor Sosiopsikologis.&lt;br /&gt;    * Motif Sosiogenis, sikap, kebiasaan , dan kemauan, memengaruhi apa yang kita perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth E. Andersen, menyimpulkan dalil-dalil tentang perhatian selektif yang harus diperhatikan oleh ahli-ahli komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Perhatian itu merupakan proses aktif dan dinamis, bukan pasif dan refleksif.&lt;br /&gt;   2. Kita cenderung memerhatikan hal-hal tertentu yang penting, menonjol, atau melibatkan kita.&lt;br /&gt;   3. Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan kepercayaan, sikat, nilai, kebiasaan, dan kepentingan kita.&lt;br /&gt;   4. Kebiasaan sangat penting dalam menentukan apa yang menarik perhatian, tetapi juga apa yang secara potensial akan menarik perhatian kita.&lt;br /&gt;   5. Dalam situasi tertentu kita secara sengaja menstrukturkan perilaku kita untuk menghindari terpaan stimuli tertentu yang ingin kita abaikan&lt;br /&gt;   6. Walaupun perhatian kepada stimuli berarti stimuli tersebut lebih kuat dan lebih hidup dalam kesadaran kita, tidaklah berarti bahwa persepi kita akan betul-betul cermat.&lt;br /&gt;   7. Perhatian tergantung kepada kesiapan mental kita,&lt;br /&gt;   8. Tenaga-tenaga motivasional sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi.&lt;br /&gt;   9. Intesitas perhartian tidak konstan&lt;br /&gt;  10. Dalam hal stimuli yang menerima perhatian, perhatian juga tidak konstan.&lt;br /&gt;  11. Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha itu sering menuntut perhatian&lt;br /&gt;  12. Kita mampu menaruh perhatian pada berbagai stimuli secara serentak.&lt;br /&gt;  13. Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan memertahankan perhatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal lain yang termasuk apa yang ingin kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memeberikan respons pada stimuli itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka Rujukan (Frame of Reference)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kerangka rujukan. Mula-mula konsep ini berasal dari penelitian psikofisik yang berkaitan dengan persepsi objek. Dalam eksperimen psikofisik, Wever dan Zener menunjukan bahwa penilaian terhadap objek dalam hal beratnya bergantung pada rangkaian objek yang dinilainya. Dalam kegiatan komunikasi kerangka rujukan memengaruhi bagaimana memberi makna pada pesan yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor Struktural yang Menentukan Persepsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor structural berasal semata-mara dari sifar stimuli fisik dan ekfek-efek saraf yang ditimbulkanny pada system saraf individu. Para psikolog Gestalat, seperti Kohler, Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat structural. Prinsip-prinsip ini kemundian terkenal dengan nama teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, kita tidak melihat bagian-bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi, menjadi empat bagian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Dalil persepsi yang pertama : Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Berarti objek-objek yang mendapatkan tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi&lt;br /&gt;   2. Dalil persepsi yang kedua : Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interprestasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.&lt;br /&gt;   3. Dalil persepsi yang ketiga : Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan diperngaruhi oleh keanggotaan kelompolmua dengan efek berupa asimilasi atau kontras.&lt;br /&gt;   4. Dalil persepsi yang keempat : Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Dalil ini umumnya betul-betul bersifat structural dalam mengelompokkan objek-objek fisik, seperti titik, garis, atau balok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada persepsi sosial, pengelompokan tidak murni structural; sebab apa yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu, tidaklah dianggap sama atau berdekatan dengan individu yang lainnya. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya, atau mengakrabkan diri dengan orang-orang yang punya prestise tinggi. Jadi, kedekatan dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditangapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Kecenderungan untuk mengelompokan stimuli berdasarkan kesamaan dan kedekatan adalah hal yang universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Memori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunikasi Intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam memengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya (Schlessinger dan Groves). Memori meleawai tiga proses:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor inera dan sirkit saraf internal.&lt;br /&gt;   2. Penyimpanan (strorage) adalah menentukan berapa lama informasi itu berada berserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana. Pe&lt;br /&gt;   3. Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis Memori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanggilan diketahui dengan empat cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengingatan (Recall), Proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim (kata demi kata), tanpa petunjuk yang jelas.&lt;br /&gt;   2. Pengenalan (Recognition), Agak sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta;lebih mudah mengenalnya.&lt;br /&gt;   3. Belajar lagi (Relearning), Menguasai kembali pelajaran yang sudah kita peroleh termasuk pekerjaan memori.&lt;br /&gt;   4. Redintergrasi (Redintergration), Merekontruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme Memori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga teori yang menjelaskan memori :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Teori Aus (Disuse Theory), memori hilang karena waktu. William James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa “the more memorizing one does, the poorer one’s ability to memorize” – makin sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat.&lt;br /&gt;   2. Teori Interferensi (Interference Theory), Memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada menja lilin atau kanvas itu. Ada 5 hal yang menjadi hambatan terhapusnya rekaman : Interferensi, inhibisi retroaktif (hambatan kebelakang), inhibisi proaktif (hambatan kedepan), hambatan motivasional, dan amnesia.&lt;br /&gt;   3. Teori Pengolahan Informasi ( Information Processing Theory), menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term memory (STM, memory jangka pendek; lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukan pada Long-Term Memory (LTM, memori jangka panjang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Berpikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah berpikir itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berpikir kita melibat semua proses yang kita sebut sensasi, persepsi, dan memori. Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsure-unsur lingkungan dengan menggunakan lambing-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak. Berpikir menunjukan berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa. Berpikir kita lakukan untuk memahami relaitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving). Dan menghasilkan yang baru (creativity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Orang Berpikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam berpikir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. berpikir autistik, dengan melamun, berfantasi, menghayal, dan wishful thinking. Dengan berpikir autistic prang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis.&lt;br /&gt;   2. berpikir realistic, disebut juga nalar (reasoning), ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyara.&lt;br /&gt;   3. Floyd L. Ruch, menyebutkan tiga macam berpikir realistic :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Berpikir deduktif : mengambil kesimpulan dari dua pernyataan, dalam logika disebutnya silogisme.&lt;br /&gt;   2. Berpikir Induktif : Dimulai dari hal-hal yang khusu kemundian mengambil kesimpulan umum; kita melakukan generalisasi.&lt;br /&gt;   3. Berpikir evaluatif : berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan, kita tidak menmbah atau mengurangi gagasan, namun menilainya menurut kriteria tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan Keputusan (Decision Making)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Keputusan yang kita ambil beraneka ragam. Tanda-tanda umumnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual&lt;br /&gt;   2. keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternative&lt;br /&gt;   3. keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaanya boleh ditangguhkan atau dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor personal amat menentukan apa yang diputuskan, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Kognisi, kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki&lt;br /&gt;   2. Motif, amat memengaruhi pengambilan keputusan&lt;br /&gt;   3. Sikap, juga menjadi faktor penentu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memecahkan persoalan (Problem Solving)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses memecahkan persoalan berlangsung melalui lima tahap :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Terjadi peristiwa ketika perilaku yang biasa dihambat Karena sebab-sebab tertentu&lt;br /&gt;   2. Anda mencoba menggali memori anda untuk mengatahui cara apa saja yang efektif pada masa lalu&lt;br /&gt;   3. pada tahap ini, anda mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat anda pikirkan.&lt;br /&gt;   4. Anda mulai menggunakan lambing-lambang vergal atau grafis untuk mengatasi masalah&lt;br /&gt;   5. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan. Pemecahan masalah ini biasa disebut Aha-Erlebnis (Pengalaman Aha), atau lebih lazim disebut insight solution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang Memengaruhi Proses Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemecahan masalah dipengaruhi faktor-faktrot situasional dan personal. Faktor-faktor situasional terjadi, misalnya, pada stimulus yang menimbulkan masalah. Pengaruh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis terhadap proses pemecahan masalah. Contohnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Motivasi. Motivasi yang rendah lebih mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas.&lt;br /&gt;   2. Kepercayaan dan sikap yang salah. Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita.&lt;br /&gt;   3. Kebiasaan. Kecenderungan untuk memertahankan pole berpikir tertentu, atau misalnya melihat masalah dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, mengahambat pemecahan masalah yang efisien.&lt;br /&gt;   4. Emosi. Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah berpikir betul-betul secara objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir Kreatif (Creative Thinking)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir kreatif menurut James C. Coleman dan Coustance L. Hammen, adalah “thinking which produces new methods, new concepts, new understanding, new invebtions, new work of art.” Berpikir kreatif harus memenui tiga syarat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru, atau yang secara statistic sangat jarang terjadi. Tetapi kebauran saja tidak cukup.&lt;br /&gt;   2. Kreativitas ialah dapat memecahkan persoalan secara realistis.&lt;br /&gt;   3. Kreativitas merupakan usaha untuk memertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang berpikir kreatif, cara berpikir yang digunakan adalah berpikir analogis. Guilford membedakan antara berpikir kreatif dan tak kreatif dengan konsep konvergen dan divergen. Kata Guilford, orang kreatif ditandai dengan cara berpikir divergen. Yakni, mencoba menghasilkan sejumlah kemungkinan jawaban. Berpikir konvergen erat kaitannya dengan kecerdasan, sedangkan divergen kreativitas. Berpikir divergen dapat diukur dengan fluency, flexibility, dan originality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Berpikir Kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Orientasi : Masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasi&lt;br /&gt;   2. Preparasi : Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.&lt;br /&gt;   3. Inkubasi : Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan berhadapan dengan jalan buntu. Pada tahap ini, proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita.&lt;br /&gt;   4. Iluminasi : Masa Inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah. Ini menimbulkan Aha Erlebnis.&lt;br /&gt;   5. Verifikasi : Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahan keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang Memengaruhi Berpikir Kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor personal dan situasional. Menurut Coleman dan Hammen, faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kemampuan Kognitif : Termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sikap yang terbuka : orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri : orang kreatif ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat oleh konvensi-kovensi. Hal ini menyebabkan orang kreatif sering dianggap “nyentrik” atau gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor lingkungan psikososial, beberapa peneliti menjukan adanya faktor situasional lainnya. Maltzman menyatakan adanya faktor peneguhan dari lingkungan. Dutton menyebutkan tersedianya hal-hal istimewa bagi manusia kreatif, dan Silvano Arieti menekankan faktor isolasi dalam menumbuhkan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5573396180934327648?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5573396180934327648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5573396180934327648' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5573396180934327648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5573396180934327648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/komunikasi-intrapersonal.html' title='Komunikasi Intrapersonal'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-1724580159336062992</id><published>2009-02-02T01:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T05:23:43.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Proses Komunikasi Insani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PROSES KOMUNIKASI INSANI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/search/label/Definisi%20komunikasi"&gt;1. Definisi Komunikasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Frank E.X. Dance&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; dalam bukunya Human Communication Theory terdapat 126 buah definisi tentang komunikasi yang diberikan oleh beberapa ahli. Beberapa Definisi-definisi tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-dan-tingkatan.html"&gt;Komunikasi&lt;/a&gt; adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Hovland, Janis &amp;amp; Kelley:1953&lt;br /&gt;Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?) &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;Lasswell, 1960&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Model Komunikasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunikasi terdapat model komunikasi yaitu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikator yaitu pengirim pesan dan komunikan penerima pesan. Komunikator kemudian menyampaikan pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan terbagi menjadi 2 yaitu pesan &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/bentuk-dasar-komunikasi.html"&gt;verbal dan pesan nonverbal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;a. Pesan verba&lt;/a&gt;l adalah semua jenis komunikasi yang menggunakan satu kata atau lebih. Pesan verbal terbagi lagi menjadi 2 yaitu verbal disengaja dan verbal tidak disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/pesan-verbal-nonverbal.html"&gt;b. Pesan non verbal&lt;/a&gt; adalah semua pesan yang disampaikan tanpa kata –kata atau selain kata kata yang digunakan secara harafiah. Pesan non verbal terbagi menjadi dua yaitu pesan non verbal sengaja dan pesan non verbal tidak disengaja. Pesan yang disampaikan oleh komunikator kemudian di salurakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getararan suara/ nada, dan tentu saja dengan organ penginderaan kita. Semakin banyak saluran yang dihgunakan semakin banyak jumlah rangsangan komunikasi yang disampaikan. Dalam penyampaian pesan melalui saluran terkadang terdapat terlalu banyak saluran hingga menjadi gangguan atau noise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan adalah faktor yang mempengaruhi informasi yang disampaikan kepada penerima atau mengalihkan dari penerimaan tersebut. Ada dua jenis gangguan gangguan teknis dan gangguan sematik. Setelah pesan dikirim komunikan akan melakukan proses selektif untuk memperhatikan, mendengar memahami dan, mengingat simbol – simbol pendengaran. Hal ini disebut dengan mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar merupakan proses fisiologi otomatik penerimaan rangsangan pendengaran. Ketika anda diberi perintah “ duduk ” dan anda menjawab “ tidak ” maka anda telah memberikan umpan balik atau anda hanya mengangguk saja sudah merupakan umpan balik dalam komukasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjukan hubungan yang terjadi pasti mengalami perubahan pada setiap interaksi. Waktu juga mempegaruhi makna terhadap suatu pesan. Ketegangan yang ditimbulkan oleh banyaknya tugas dan sempitnya waktu, ikut berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas komunikasi modern masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Konteks Komunikasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks komunikasi terbagi menjadi enam bagian masing – masing memiliki ciri khasnya masing – masing namun semuanya juga memiliki kesamaan yaitu menciptakan makna diantara dua orang atau lebih. Selain itu ke-enamnya juga melibatkan komunikasi antar budaya. Ke-enam konteks komunikasi tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dua orang atau dapat disebut juga sebagai komunikasi diadik ( dyadic commmunication ), ini adalah satuan dasar komunikasi. Dengan alasan inilah maka kita memilih melukiskan konteks ini dalam model komunikasi Tubbs. Yang perlu di ingat komunikasi diadik hanya dilakukan oleh dua orang yang saling bergantian menjadi komunikator maupun komunikan. Komunikasi diadik juga merupakan komuniksi yang mencangkup hubungan antarmanusia yang paling erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dua orang bercakap – cakap dengan maksud tertentu, maka dapat disebut sebagai wawancara. Dapat juga dipandang sebagai bentuk komunikasi diadik khusus. Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan sesuatu yang spesifik dengan lebih jauh dbandingkan dengan kebanyakan komunikasi dua orang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks komunikasi yang ke-tiga adalah komunikasi dalam kelompok kecil. Dapat diartikan sebagai “ proses pertukaran verbal dan nonverbal, antara tiga orang atau lebih anggota kelompok yang bertujuan untuk saling mempengaruhi ”. komunikasi kelompok kecil ini dapat terjadi dimana saja ruang kelas, ruang dosen, ataupun ruang rapat.karena konteks komunikasi ini melibatkan tiga orang atau lebih, maka tingkat kearaban, partisipasi, dan kepuasannya cenderung lebih kecil dibanding dengan komunikasi diadik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi publik biasa kita sebut dengan public speaking. Public speaking memiliki beberapa ciri dari konteks ini pertama, komunikasi publik lebih sering muncul di tempat umum daripada tempat pribadi dan juga memiliki peserta yang lebih banyak misanya saja ruang kelas, ruang pertemuan, auditorium dan lain – lain.Kedua, komunikasi publik cenderung lebih normal dibandingkan dengan komunikasi yang informal serta tidak terstruktur. Ketiga, ada sejumlah norma yang cukup jelas, yang hjarus dipatuhi. Misalnya saja pertanyaan hanya boleh diajukan bila si pembicara telah menyelesaikan pembicaraannya, terkadang kita harus mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan dan beberapa norma yang lain. Biasanya pembicara dalam komunikasi publik melakukan persiapan yang matang, dan harus menghadapi keadaan yang lebih formal daripada dalam komunikasi dua orang atau komunikasi kelompok kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi organisasional disefinisikan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling bergantung. Definisi ini sesuai untuk konikasi dalam perusahaan, rumah sakit, dan lain – lain. Yang diperhatikan dalam komunikasi ini bukan hanya kefektifan komunikasi perseorangan saja namun juga peranan komunikasi dalam meningkatkan atau menurunkan kinerja secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks komunikasi yang ke- enam adalah komunikasi yang menggunakan media. Definisi paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner yang dikutip oleh Jalaludin Rakhmat dalam buku psikologi komunikasi ( hal 188) adalah, “mass communication is meddages communicated through a mass medium to large number of people ” ( komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang ). Dewasa ini komunikasi massa lebih banyak melibatkan orang untuk waktu yang lebih banyak, meskipun intensitasnya lebih rendah, karena komunikasi tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan masyarakat ( bangsa ) secara keseluruhan, maka komunikasi sangat dipegaruhi oleh kebudayaan dan peristiwa sejarah. Beberapa fungsi komunikasi massa antara lain adalah media sosialisasi, motivasi, informasi, pendidikan, memajukan kebudayaan, hiburan, dan intergrasi. Diantara konteks komunikasi yang lain komuniksi massa merupakan komunikasi yang paling formal dan paling mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/membangun-komunikasi-efektif.html"&gt;&lt;strong&gt;4. Melakukan Komunikasi yang Efektif&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah melakukan sebuah komunikasi yang efektif ?, secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap atau dipahami oleh penerima. Ada lima hal yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur bagi komunikasi yang efektif yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman penerimaan yang cepat atas kandungan rangsangan seperti apa yang dimaksud oleh pengirim pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan tujuan komunikasi publik dapat pula untuk kesenangan, misalnya saja celoteh seorang MC dalam suatu acara yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempengaruhi sikap saat kita dalam diskusi untuk memecahkan masalah adalah usaha kita untuk mempengaruhi sikap orang lain dan berusaha agar orang lain memahami kita. Karena tindakan untuk mempengaruhi orang lain adalah bagian dari kehidupan sehari – hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbaiki hubungan terkadang komunikasi dilakukan bukan untuk menyapaikan informasi atau untuk mengubah sikap seseorang, tapi hanya untuk dipahami. Misalnya seorang pemuda mungkin sulit untuk tetap percaya bahwa si gadis, masih tertarik padanya jika membatalkan janji kencanya untuk yang kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan media massa sering tertarik pada kerumunan orang banyak. Apakah ada promosi sabun mandi, atau ibu – ibu yang berbondong – bondong mengimunisasi anaknya terhadap penyakit campak atau ada pemilu. Respon seperti ini bisa anda dapatkan jika anda, memudahkan pemahaman penerima tentang apa yang anda harapakan.Singkatnya, lima hasil yang dapat diperoleh melalui komunikasi insani yang efektif adalah pemahaman, kesenagan, pengaruh sikap, hubungan yang lebih baik, dan, tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X.O.X.O&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-1724580159336062992?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/1724580159336062992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=1724580159336062992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1724580159336062992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/1724580159336062992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/proses-komunikasi-insani.html' title='Proses Komunikasi Insani'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5851659806442830409</id><published>2009-02-02T01:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:16:01.247-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Proses Komunikasi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Proses Komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Proses komunikasi adalah bagaimana sang komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses Komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yag efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Komunikasi, banyak melalui perkembangan. Pada penjelasan ini, akan dijelaskan berbagai proses komunikasi melalui model-model komunikasi itu sendiri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.1Model Komunikasi Aristoteles&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aristoteles menerangkan tentang model komunikasi dalam bukunya Rhetorica, bahwa setiap komunikasi akan berjalan jika terdapat 3 unsur utama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pembicara, yaitu orang yang menyampaikan pesan&lt;br /&gt;   2. Apa yang akan dibicarakan (menyangkut Pesan nya itu sendiri)&lt;br /&gt;   3. Penerima, orang yang menerima pesan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Model Komunikasi David K.Berlo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model komunikasi David K.Berlo, diketahui bahwa komunikasi terdiri dari 4 Proses Utama yaitu SMRC (Source, Message, Channel, dan Receiver) lalu ditambah 3 Proses sekunder, yaitu Feedback, Efek, dan Lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Source (Sumber), Sumber adalah seseorang yang memberikan pesan atau dalam komunikasi dapat disebut sebagai komunikator. Walaupun sumber biasanya melibatkan individu, namun dalam hal ini sumberjuga melibatkan banyak individu. Misalnya, dalam organisasi, Partai, atau lembaga tertentu. Sumber juga sering dikatakan sebagai source, sender, atau encoder.&lt;br /&gt;   2. Message (Pesan), pesan adalah isi dari komunikasi yang memiliki nilai dan disampaikan oleh seseorang (komunikator). Pesan bersifat menghibur, informatif, edukatif, persuasif, dan juga bisa bersifat propaganda. Pesan disampaikan melalui 2 cara, yaitu Verbal dan Nonverbal. Bisa melalui tatap muka atau melalui sebuah media komunikasi. Pesan bisa dikatakan sebagai Message, Content, atau Information&lt;br /&gt;   3. Channel (Media dan saluran komunikasi), Sebuah saluran komunikasi terdiri atas 3 bagian. Lisan, Tertulis, dan Elektronik. Media disini adalah sebuah alat untuk mengirimkan pesan tersebut. Misal secara personal (komunikasi interpersonal), maka media komunikasi yang digunakan adalah panca indra atau bisa memakai media telepon, telegram, handphone, yang bersifat pribadi. Sedangkan komunikasi yang bersifat massa (komunikasi massa), dapat menggunakan media cetak (koran, suratkabar, majalah, dll) , dan media elektornik(TV, Radio). Untuk Internet, termasuk media yang fleksibel, karena bisa bersifat pribadi dan bisa bersifat massa. Karena, internet mencakup segalanya. Jika anda membuka www.kuliahkomunikasi.com &lt; maka media ini bersifat massal, namun jika anda chattingh melalui yahoo messenger, maka media ini bersifat interpersonal, dan jika anda menuliskan Blog (blogging atau menulis diary), media ini bisa berubah menjadi media yang bersifat Intrapersonal (kepada diri sendiri).&lt;br /&gt;   4. Receiver (Penerima Pesan), Penerima adalah orang yang mendapatkan pesan dari komunikator melalui media. Penerima adalah elemen yang penting dalam menjalankan sebuah proses komunikasi. Karena, penerima menjadi sasaran dari komunikasi tersebut. Penerima dapat juga disebut sebagai public, khalayak, masyarakat, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen Tambahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Feedback (Umpan Balik), Umpan balik adalah suatu respon yang diberikan oleh penerima. Penerima disini bukan dimaksudkan kepada penerima sasaran (khalayak), namun juga bisa didapatkan dari media itu sendiri. Misal, kita sebagai seorang penulis mengirimkan sebuah artikel kepada suatu media massa. Lalu, bisa saja kita artikel kita ternyata bagus, namun ada beberapa hal yang harus di edit. Sehingga, pihak media mengembalikan artikel kita untuk di edit ulang.&lt;br /&gt;   2. Efek, sebuah komunikasi dapat menyebabkan efek tertentu. Efek komunikasi adalah sebuah respon pada diri sendiri yang bisa dirasakan ketika kita mengalami perubahan (baik itu negatif atau positif) setelah menerima pesan. Efek ini adalah sebuah pengaruh yang dapat mengubah pengetahuan, perasaan, dan perilaku (Kognitif, afektif, dan konatif)&lt;br /&gt;   3. Lingkungan, adalah sebuah situasi yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu komunikasi. Situasi Lingkungan terjadi karena adanya 4 faktor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Lingkungan Fisik(Letak Geografis dan Jarak)&lt;br /&gt;    * Lingkungan Sosial Budaya (Adat istiadat, bahasa, budaya, status sosial)&lt;br /&gt;    * Lingkungan Psikologis ( Pertimbangan Kejiwaan seseorang ketika menerima pesan)&lt;br /&gt;    * Dimensi Waktu (Musim, Pagi, Siang, dan Malam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Model Komunikasi Bovee dan Thill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bovee dan Thill dalam bukunya Bussiness Communication Today, menjelaskan bahwa proses komunikasi merupakan tahapan dari kegiatan. Terdapat 5 tahapan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengirim memiliki sebuah Ide/Gagasan. Komunikasi diawali dengan adanya gagasan dari seorang pengirim, yang ingin disampaikan pada penerima pesan tersebut.&lt;br /&gt;   2. Ide Dirubah Menjadi Pesan. Ide bersifat abstrak dan tidak terstruktur, sehingga tidak dapat dibaca oleh oraglain. Maka dari itu, pengirim harus mengubah idenya tersebut menjadi sebuah pesan agar dapat dimengerti oleh orang lain. Perubahan ide menjadi suatu pesan dinamakan ENCODING.&lt;br /&gt;   3. Pemindahan Pesan. Setelah sebuah ide diubah menjadi pesan, maka pesan teresebut harus dipidahkan kepada penerima dengan berbagai bentuk komunikasi (Verbal, Nonverbal, Lisan atau Tertulis), dan media komunikasinya (Tatap muka, telepon, surat, laporan, dll)&lt;br /&gt;   4. Penerima menerima pesan. Penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterima.&lt;br /&gt;   5. Penerima pesan mengirimkan umpan balik. Umpan balik merupakan sebuah elemen perantai pesan. Sebagai pengirim pesan, kita harus mengevaluasi apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penerima pesan. Apakah pesan kita efektif apa tidak. Jika pesan kita ternyata tidak efektif, maka pesan harus diulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, Sutrisna. 2006. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/239026255091548484-5851659806442830409?l=tentang-teori-komunikasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/feeds/5851659806442830409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=239026255091548484&amp;postID=5851659806442830409' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5851659806442830409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/239026255091548484/posts/default/5851659806442830409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/02/proses-komunikasi.html' title='Proses Komunikasi'/><author><name>yance</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-239026255091548484.post-5567975205545085207</id><published>2009-02-02T01:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:13:13.252-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Komunikasi'/><title type='text'>Bentuk Dasar Komunikasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Bentuk Dasar Komunikasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dapat terjadi dalam beberapa bentuk. Misalnya, komunikasi tatap muka, telepon, telegram, dll. Komunikasi terbagi menjadi 2 Jenis, yaitu, Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Mari kita bahas satu persatu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.1 Komunikasi Nonverbal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi nonverbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh, intonasi suara, sikap, dan sebagainya, yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi tanpa kata-kata (Bovee dan Thill, 2003:4). Komunikasi nonvebal sering juga disebut sebagai bahasa diam (silent language). ahli antropologi mengatakan bahwa sebelum adanya komunikasi verbal, masyarakat berkomunikasi nonverbal melalui gerakan tubuh (body language).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi nonverbal sangatlah kompleks. Dimana, kita mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan melalui gerakan tubuh. Maka dari itu, sebagai seorang komunikator untuk memahami komunikasi nonverbal, kita harus memahami seluk beluk sosial budaya nya terlebih dahulu. Karena, komunikasi baru akan terjadi secara efektif jika kita mempunyai kesamaan makna dengan komunikan. Maksud disini, mengapa kita harus mengenal budayanya? karena, setiap daerah memiliki budayanya sendiri2, misal di arab tanda acungan JEMPOL adalah tanda berhenti, sedangankan di indonesia tanda acungan jempol adalah mengatakan OKE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menurut &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/2009/01/definisi-komunikasi-menurut-berapa.html"&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Mark Knap&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (dalam Cangara, 2004:100), fungsi komunikasi nonverbal adalah :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition)&lt;br /&gt;   2. menunjukan peraaan atau emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution)&lt;br /&gt;   3. menunjukan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity)&lt;br /&gt;   4. menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasa belum sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam berbagai studi, komunikasi verbal dikelompokan dalam beberapa bentuk (Cangara, 2004:101):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;a. Kinesics, yaitu komunikasi verbal yang ditunjukan dengan gerakan tubuh :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Emblems, merupakan sebuah isyarat yang di buat oleh suatu budaya. Misalnya, V bagi orang amerika merupakan Victory atau kemenangan&lt;br /&gt;   2. Illustrators, merupakan sebuah gerakan badan untuk mengilustrasikan sesuatu. Misalnya, Tinggi badanya seseorang, Gemuk langsingnya seseorang&lt;br /&gt;   3. Affect Display, Merupakan isyarat yangbiasanya timbul karena pengaruh dari emosional seseorang. Misalnya wajah senang, wajah bete, wajah sedih. Rau
