Showing posts with label Konsep dasar penelitian. Show all posts
Showing posts with label Konsep dasar penelitian. Show all posts

Monday, March 30, 2009

Klasifikasi Metode Penelitian

Klasifikasi Metode Penelitian

Metode histories bertujuan merekonstruksi masa lalu secara sistematis dan objektif dengan mengumpulkan, menilai, memverifikasi, dan menyintesiskan bukti untuk menetapkan fakta dan mencapai kongklusi yang dapat di pertahankan, sering kali dalam hubungan hipotesis tertentu (Isaac dan Michael, 1972:17). Misalnya, penelitian tentang isi buku bacaan pada zaman colonial, riwayat pendirian gerakan Muhammadiyah, dan sebagainya.
Metode deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara factual dan cermat (Isaac dan Michael: 18). Contohnya: penelitian jumlah anak putus sekolah di kota bandung tahun 1981, studi pendapat umum, jumlah pembaca majalah tempo di Jakarta dll.
Metode eksperimental adalah metode penelitian yang memungkinkan peneliti memanipulasi variabel dan meneliti akibat-akibatnya. Pada metode eksperimental variabel-variabel dikontrol begitu rupa sehingga variabel luar yang mungkin mempengaruhi dapat disingkirkan.
Metode kuasi-eksperimental digunakan untuk mendekati kondisi ekperimental pada suatu situasi yang tidak memungkinkan manipulasi variabel. Setiap metode ini akan diuraikan secara rinci.

Wednesday, February 11, 2009

Kecermatan Pengukuran

Kecermatan Pengukuran

Bila peneliti sudah mulai mengukur gejala yang ditelitinya, ia berhadapan dengan persoalan realiabilitas dan validitas alat ukur yang dipergunakannya. Dalam penelitian ilmiah, kedua syarat alat ukur ini sangat penting. Tanpa keduanya, penelitian tidak lagi bersifat ilmiah.

*. Reliabilitas mempunyai arti memiliki sifat dapat dipercaya. Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas apabila dipergunakan berkali-kali oleh peneliti yang sama atau oleh peneliti yang lain tetap memberikan hasil yang sama ( forcese dan richer, 1973: 71) jadi relibilitas mengandung makna stabilitas (tidak berubah-ubah), konsisten (ajeg), dan dependabilitas (dapat diandalkan). Ada tiga cara menentukan reliabilitas: (1) antaruji, (2) antarbutir, (3) dan antarpenilai. Cara (1) menguji reliabilitas ialah membandingkan beberapa hasil pengukuran dari populasi yang sama pada waktu yang berbeda atau oleh peneliti yang berlainan. Perbandingan itu dihitung untuk mencari angka korelasinya. Bila perbedaan itu hanya secara kebetulan saja, pengukuran memiliki korelasi yang signifikan. Pada cara (2) alatukur yang terdiri dari sekian butir tes dibagi dua, ini disebut metode belah dua (split-half-procedure). Pada cara (3) responden yang sama diukur, diuji, dan diamati oleh beberapa orang penguji. Skor yang diberikan oleh setiap penguji kemudian dikorelasikan. Reliabilitas antar penilai biasanya diyatakan dengan angka kesepakatan di antara penilai.

*. Validitas mempunyai arti kesucian alat ukur dengan apa yang hendak kita ukur. Validitas itu sendiri ada (3) macam:
@. Validitas isi (content Validity ) menunjukkan bahwa pokok-pokok pada alat ukur mewakili sifat yang kita ukur
@. Validitas prediktif ( predictive validity) disebut juga validitas-sehubungan-dengan-kreteria ( criterion-related-validity )
@. Validitas konstruk, menujukkan sejauh mana suatu alat ukur mengukur konstruk teoritis yang tertentu ( yakni, suatu keadaan yang di hipotesiskan mempunyai hubungan sebab-akibat)

Skala Rasio

*. Skala Rasio

Skala rasio menghimpun semua sifat skala interval ditambah skala adanya (nol) mutlak (fixed zero point)

Skala Interval

*. Skala Interval

Skala Interval mempunyai ciri-ciri tambahan pada skala ordinal: urutan kategori data mempunyai jarak yang sama. Skala interval mempunyai ciri matematis additivity artinya kita dapat menambah atau mengurangi. Jika menemukan bilangan (nol), bilangan ini (nol) mutlak menunjukkan tidak adanya sifat-sifat yang diukur sama sekali. Dengan begitu skala interval tidak memungkinkan kita melakukan proses pembagian atau perkalian. Untuk itu kita harus menggunakan skala rasio.

Skala Ordinal

*. Skala Ordinal

Sekala ini menunjukan bilangan bertingkat missal 1,2,3,4, dst. Pada dua ciri skala nominal, skala ordinal hanya menambahkan satu ciri: kategori data disusun berdasarkan urutan logis dan sesuai dengan besarnya karakterristik yang dimiliki.

Skala Nominal

*. Skala Nominal

Skala ini mempunyai ciri-ciri (1) kategori data bersifat mutually exclusive (satu objek masuk hanya pada satu kelompok saja), (2) kategori data tidak sisusun secara logis .

Pengukuran

Pengukuran

Tingkat pengukuran (scales of Measurement)
Pengukuran adalah penggunaan aturan untuk menetapkan bilangan pada objek atau peristiwa. Dalam penelitian kita kenakan pengukuran pada variabel yang kita pelajari pengukuran menandai nilai-nilai variabel dengan notasi bilangan dan dilakukan secara sistematis dan taat asas. Peraturan penggunaan notasi bilangan dalam pengukuran disebut sekala atau tingkat pengukuran (levels of measurement) pengukuran dapat di kelompokkan beberapa bagian:

*. Skala Nominal
*. Skala Ordinal
*. Skala Interval
*. Skala Rasio

Tuesday, February 10, 2009

Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori

*. Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori.

“Kriteria ini sering kali luput dari perhatian pemulah. Ia cenderung memilih pokok penelitian yang ‘menarik’ tanpa meneliti apakah penelitiannya dapat menolak, meneguhkan, atau mendukung teori hubungan social yang ada. Ilmu baru bersifat kumulatif bila ditegakkan diatas bangunan fakta dan teori yang . ilmu tidak akan berkembang, bila setiap studi merupakan survai yang terpisah. (goode/hatt). Untuk merumuskan hipotesis yang berkaitan dengan teori jelas memerlukan penelaahan kepustakaan. Hipotesis yang lahir tanpa pengetahuan teoretis tidak lebih tinggi nilainya dari dugaan orang awam. Selain tidak akan mengembangkan ilmu, hipotesis seperti itu tidak akan memberikan kepuasan ilmiah.


Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada

*. Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada.

Teori dan metode bukanlah hal yang bertentangan. Ahli teori yang tidak tahu teknik untuk menguji hipotesisnya tidak akan mampu merumuskan masalah yang diteliti. Sebelum meneliti masalah kita harus mempelajari beberapa teknik yang pernah dipergunakan uuntuk mengukur factor-faktor yang diteliti.

Hipotesis harus bersifat spesifik

*. Hipotesis harus bersifat spesifik

Sering kali kita membuat hipotesis-hipotesis yang umum karena hipotesis-hipotesis tersebut kedengaranya “hebat” dan mengesankan. Sebenarnya hipotesis seperti itu tidak dapat diuji contoh “ (a) Jika komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan rakyat dilakukan sebaik-baiknya, partisipasi dalam pembangunan akan meningkat. (b) Bila siaran pedesaan disesuaikan dengan frame of reference pendengarnya, siaran pedesaan itu akan mencapai sasarannya. Supaya dapat diteliti (researchable), hipotesis-hipotesis “ besar” itu harus dijabarkan menjadi subhipotesis-hipotesis. Dalam subhipotesis digunakan konsep-konsep yang sudah sangat spesifik. Subjek, waktu, target, dan hubungan-hubungan dinyatakan secara jelas dan eksplisit.

Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris

*. Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris

Hipotesis tidak boleh mengandung konsep-konsep yang merupakan penilaian (value judgements). “Pemuda seharusnya berperan dalam pembangunan” merupakan contoh hipotesis yang merujuk pada nilai, bukan pada rujukan empiris. Kata-kata seperti “seharusnya” harus dihindari karena lebih mencerminkan sikap daripada gejalah empiris. Ubah kata-kata seperti itu menjadian uraian deskriptif misalnya “ hubungan masyarakat yang baik “ diubah menjadi “ frekuensi kontak dengan public pegawai”,”efektif” diganti dengan “ morel kerja meningkat” (morel kerja dapat diukur dengan indeks).

Hipotesis harus jelas secara konseptual

*. Hipotesis harus jelas secara konseptual

Konsep sedapat mungkin didefinisikan secara operasional. Untuk menjelaskan konsep, definisikanlah konsep itu (a) dengan kata-kata, (b) dalam operaso tertentu (indeks pengukuran, jenis observasi), (c) dengan menghubungkannya pada konsep-konsep lain yang dalam penelitian sebelumnya.

Hipotesis

Hipotesis

Dalam model tradisional ilmu kita melihat bagaimana dari kasus-kasus observasi kita simpulkan sebuah teori melalui peruses induksi. Kemudian, dari teori kita dapat menjabarkan proposisi-proposisi baru melalui proses deduksi. Teori tidak dapat diuji. Agar dapat diuji teori harus dirinci menjadi proposisi-proposisi. Proposisi ini disebut hipotesis sering juga disebut statement of theory in testable form, atau tentative statement about reality (champion, 1981:125). Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Hipotesis yang abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, tetapi juga sukar diuji secara empiris. Hipotesis yang abstrak biasanya “ dibuktikan” kebenarannya, bukan dengan data empiris, tetapi dengan interpretasi subjektif.
Goode dan Hatt (1952:67-73) menjelaskan ciri-ciri hipotesis yang baik sbb:

*. Hipotesis harus jelas secara konseptual
*. Hipitesis harus mempunyai rujukan empiris
*. Hipotesis harus bersifat spesifik
*. Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada.
*. Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori.

Monday, February 9, 2009

Variable dibagi dalam tiga katagori

Dalam penelitian variable dibagi dalam tiga katagori

* .Variabel bebas dan tak bebas.
Penelitian mencari sebab dan akibat dalam gejala atau mencari hubungan di antara berbagai factor. Variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variable yang lain dusebut variable bebas. Variable yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variable yang mendahuluinya disebut variable tak bebas.
Bila kita menyatakan “ bila x, maka y” , x adalah variabel bebas dan y variabel tak bebas (kerlingger, 1971:35). Dalam penelitian diduga bahwa situasi rumah menentukan perestasi anak di sekolah.perasaan kesepian menyebabkan banyak orang menonton televise. Situasi rumah, perasaan kesepihan merupakan variabel bebas sedangkan perestasi akademis, ferekuensi menonton merupakan variabel tak bebas. Jadi sebetulnya klasifikasi variabel dalam variabel bebas dan variabel tak bebas bergantung pada maksud penelitian.

*. Variabel aktif dan variabel atribut.
Dalam penelitian eksperimental, kita berhadapan dengan variabel yang dapat kita manipulasi dan variabel yang sudah jadi dan tidak dapat kita kendalikan. Kita ambil contoh variabel aktif : kita dapat mengendalikan temperatur ruangan, atau tingkat hukuman yang diberikan guru pada muridnya, atau jumlah insentif dalam kampanye keluarga berencana (KB).
Contoh variabel atribut : tetapi kita tidak bias mengendalikan umur, tingkat kecerdasan, jenis kelamin dll.
Maka satu-satunya cara meneliti variabel atribut tentulah ialah mengelompokkan subjek peneliti dalam katagori variabel atribut tertentu dan membandingkannya dengan subjek penelitian dalam katagori variabel atribut yang lain.

*. Variabel kontinyu dan variabel diskret
Dalam statistic dibedakan antara Variabel kontinyu dan variabel diskret.
Variabel kontinyu adalah variabel yang secara teoritis dapat mempunyai nilai yang bergerak tak terbatas antara dua nilai ( tinggi orang boleh 1.50 cm, 1.522 cm dst tergantung kecermatan pengukuran). Variabel diskret hanya mempunyai satu nilai tertentu saja (1.2.3.4, dst) dan dalam variabel diskret tidak mengenal pecahan